Lombok Tengah, GaungNUSRA
Gelombang penjemputan santri terjadi di Pondok Pesantren Abul Barokat Kecamatan Jonggat Kabupaten Lombok Tengah. Sejumlah wali santri berdatangan sejak Senin malam 21 September 2026 untuk membawa anak mereka pulang.
Aktivitas tersebut berlanjut hingga Selasa 22 September. Para orang tua datang silih berganti ke lingkungan pondok, sementara sejumlah santri sibuk mengemasi pakaian dan barang-barang pribadi.
Setelah menyelesaikan proses penjemputan, sebagian wali santri langsung membawa anak mereka meninggalkan lingkungan pesantren. Proses itu berlangsung secara bertahap dan mendapat pengaturan dari pihak pondok.
Komisi Sekolah Pondok Pesantren Abul Barokat, Sahnan, mengatakan pihaknya memulangkan sejumlah santri untuk menjaga kondusivitas lingkungan pondok.
Sahnan menyebut proses pemulangan akan berlangsung selama tiga hari. Pihak pondok mengambil langkah tersebut sambil menunggu situasi kembali kondusif dan aparat keamanan mendalami persoalan yang mencuat.
“Pemulangan ini untuk menjaga kondusivitas di lingkungan pondok. Rencananya berlangsung selama tiga hari,” kata Sahnan, Selasa 22 September 2026.
Ia mengatakan pihak pondok mengatur pemulangan secara bertahap. Pengelola juga mengarahkan proses penjemputan agar berlangsung tertib dan aman.
Langkah pemulangan itu berlangsung setelah BBC News Indonesia menayangkan video investigasi yang memuat kesaksian dua mantan santri mengenai dugaan kekerasan seksual, intimidasi, dan ancaman.
BBC News Indonesia menayangkan investigasi tersebut melalui kanal YouTube dengan judul “Aib Sang Guru: Dua Mantan Santri Bersuara Soal Kekerasan Seksual, Intimidasi dan Ancaman.”
Dugaan kekerasan seksual sebelumnya mencuat setelah salah satu orang yang disebut sebagai terduga korban, berinisial Z, melaporkan perkara tersebut kepada Polres Lombok Tengah pada 2025.
Kasus tersebut kembali menjadi perhatian setelah BBC News Indonesia menayangkan hasil investigasinya. Tayangan itu memuat pengalaman Z selama berada di lingkungan pondok pesantren yang bersangkutan.
Sementara itu, aparat berwenang masih mendalami dugaan kekerasan seksual, intimidasi, dan ancaman yang menjadi sorotan dalam laporan tersebut.
Hingga Selasa siang, aktivitas penjemputan masih berlangsung. Sejumlah wali santri terus berdatangan untuk membawa anak mereka pulang.
Pihak pondok tetap menjalankan proses pemulangan secara bertahap sesuai pengaturan yang telah ditetapkan selama tiga hari. (Gar/Hms)