Sumbawa Besar, GaungNUSRA
Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sumbawa memperkuat kompetensi tenaga kesehatan dalam menangani kegawatdaruratan kesehatan jiwa melalui kegiatan Round Table Discussion (RTD) dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Jiwa Sedunia, Selasa (13/10).
Kegiatan yang bekerja sama dengan PT Sunthi Sepuri tersebut diikuti para penanggung jawab program kesehatan jiwa dari seluruh puskesmas se-Kabupaten Sumbawa. Forum ini menjadi wadah berbagi pengetahuan sekaligus meningkatkan kemampuan tenaga kesehatan dalam mengenali kondisi pasien dan menentukan langkah penanganan yang tepat.
Direktur RSUD Sumbawa, dr Mega Harta, menegaskan bahwa pelayanan kesehatan jiwa membutuhkan pendekatan yang komprehensif. Selain ketepatan diagnosis dan penanganan medis, tenaga kesehatan juga harus mengedepankan empati serta memahami kondisi pasien dan keluarganya.
“Penanganan pasien tidak cukup hanya mengandalkan pengobatan, tetapi juga membutuhkan empati serta pemahaman terhadap kondisi yang dialami pasien dan keluarganya,” ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, sejumlah tenaga profesional menyampaikan materi mengenai penanganan kegawatdaruratan kesehatan jiwa, baik dari aspek psikis maupun fisik.
dr Ignatius Yulianus Jackson Bomba SpKJ MHKes, membahas identifikasi dan pembedaan kondisi psikotik secara klinis di fasilitas pelayanan kesehatan. Sementara itu, dr Komang Triana Arya MBiomed SpKJ, memaparkan identifikasi dan pembedaan kondisi nonpsikotik untuk membantu tenaga kesehatan melakukan penilaian awal terhadap kondisi pasien secara lebih cermat.
Penguatan kompetensi juga mencakup penilaian kondisi kejiwaan menggunakan instrumen Positive and Negative Syndrome Scale (PANSS). Materi tersebut disampaikan oleh Coni Fransiska Natalia, perawat jiwa, sebagai bagian dari upaya meningkatkan objektivitas dan standardisasi penilaian klinis.
Selain aspek psikis, Kepala Ruangan Jiwa RSUD Sumbawa, H Kusmanto SKep Ns MMInov, mengulas penanganan awal kegawatdaruratan fisik yang dapat menyertai gangguan jiwa.
Sejumlah kondisi yang dibahas meliputi gaduh gelisah, intoksikasi zat, cedera akibat tindakan menyakiti diri sendiri (self-harm), hingga sindrom neuroleptik maligna.
Materi tersebut menekankan pentingnya kemampuan tenaga kesehatan dalam mengenali kondisi yang membutuhkan penanganan segera. Dengan demikian, pasien dapat memperoleh tindakan medis sesuai tingkat kegawatdaruratan dan kebutuhan klinisnya.
Perwakilan PT Sunthi Sepuri, Chandra Wisnu Wardhana, turut menekankan pentingnya penanganan medis yang komprehensif. Ia mengapresiasi pelaksanaan kegiatan RTD tersebut dan menegaskan komitmen perusahaannya untuk terus mendukung tenaga medis serta fasilitas pelayanan kesehatan.
Melalui kegiatan ini, RSUD Sumbawa berharap koordinasi penanganan kesehatan jiwa antara puskesmas dan rumah sakit semakin kuat. Peningkatan kompetensi tenaga kesehatan serta sinergi antarfasilitas pelayanan diharapkan dapat mendukung tersedianya layanan kesehatan jiwa yang lebih cepat, tepat, profesional, dan manusiawi bagi masyarakat. (Gac)