PT GAUNG NUSRA MEDIA AMANAH

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumbawa Barat, melalui Dinas Perikanan mengistirahatkan sementara lahan budidaya rumput laut, sebagai upaya memulihkan ekosistem perairan yang mengalami kejenuhan Rumput Laut Diistirahatkan

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumbawa Barat, melalui Dinas Perikanan mengistirahatkan sementara lahan budidaya rumput laut, sebagai upaya memulihkan ekosistem perairan yang mengalami kejenuhan

E
Penulis Editor
Tanggal 22 Jul 2026, 19:05 WITA
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumbawa Barat, melalui Dinas Perikanan mengistirahatkan sementara lahan budidaya rumput laut, sebagai upaya memulihkan ekosistem perairan yang mengalami kejenuhan Rumput Laut Diistirahatkan
Pemkab Sumbawa Barat Istirahatkan Sementara Lahan Rumput Laut

Sumbawa Barat, GaungNUSRA 

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumbawa Barat, melalui Dinas Perikanan mengistirahatkan sementara lahan budidaya rumput laut, sebagai upaya memulihkan ekosistem perairan yang mengalami kejenuhan. Langkah ini diambil setelah sektor budidaya rumput laut di wilayah tersebut mengalami stagnasi, akibat menurunnya kualitas lingkungan dan meningkatnya ancaman serangan penyakit.

Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Sumbawa Barat, Agus Purnawan, mengatakan kebijakan tersebut merupakan hasil kajian bersama akademisi Universitas Mataram (Unram). Berdasarkan hasil diskusi, pengosongan sementara kawasan budidaya dinilai menjadi langkah yang diperlukan agar ekosistem laut memiliki waktu untuk pulih secara alami.

"Saat ini kita perlu mengosongkan lahan budidaya rumput laut karena kondisi ekosistem perairan sedang tidak menentu," ujar Agus, Senin (20/7).

Menurut dia, jika aktivitas budidaya terus dipaksakan tanpa masa jeda, kondisi perairan berpotensi semakin memburuk dan memicu munculnya berbagai penyakit yang menyerang rumput laut, seperti gejala bulu kucing dan wela merah. Kondisi tersebut pertama kali terjadi di kawasan Kertasari sebelum meluas ke wilayah Tuananga dan Kokarlian.

Selain faktor penyakit, karakteristik perairan Sumbawa Barat yang dinamis juga menjadi tantangan tersendiri. Arus laut yang sulit dikendalikan memungkinkan masuknya limbah kiriman dari luar kawasan, termasuk dari Pulau Lombok, sehingga memengaruhi kualitas perairan di lokasi budidaya.

Kebijakan pengosongan lahan berdampak langsung terhadap aktivitas ekonomi masyarakat pesisir. Selama ini Kertasari dikenal sebagai salah satu sentra produksi rumput laut kering di Sumbawa Barat. Dalam kondisi normal, kawasan tersebut mampu menghasilkan 100 hingga 190 ton rumput laut kering setiap bulan dengan nilai ekonomi mencapai sekitar Rp1 miliar.

Hasil panen petani selama ini dipasarkan melalui pengepul maupun perusahaan di luar daerah, seperti Surabaya dan Bali. Bahkan, mitra usaha lokal, PT Arnawa, pernah membangun fasilitas pengeringan menggunakan teknologi oven di Sumbawa Barat. Teknologi tersebut mampu mempercepat proses pengeringan dari semula dua hingga tiga hari menjadi sekitar satu hari.

Meski demikian, upaya pemulihan sektor budidaya masih menghadapi berbagai tantangan. Evaluasi terhadap program bantuan bibit yang sebelumnya dilakukan bersama PT Arnawa menunjukkan hasil yang belum konsisten. Bantuan tersebut sempat memberikan hasil positif pada panen pertama dan kedua, namun gagal pada siklus penanaman berikutnya.

Sebagai tindak lanjut, Dinas Perikanan Sumbawa Barat tengah menyusun proposal kerja sama dengan Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Sekotong. Kolaborasi itu diharapkan dapat menghadirkan bibit unggul yang lebih adaptif, sekaligus memperkuat pendampingan teknis bagi para pembudidaya.

"Insyaallah, kami menargetkan uji coba tanam kembali pada akhir tahun ini. Pada September atau Oktober mendatang, kami akan menggelar pertemuan dengan BPBL Sekotong untuk mengoordinasikan kesiapan, bantuan bibit unggul baru, serta pendampingan teknis," kata Agus. (Gbw) 

Bagikan Berita Ini: