Moyo Hulu, GaungNUSRA
Pemerintah Desa Batu Tering, Kecamatan Moyo Hulu, Kabupaten Sumbawa, menggelar pelatihan penggunaan perangkat komunikasi kebencanaan untuk memperkuat kesiapsiagaan relawan menghadapi situasi darurat. Sebanyak 23 peserta mengikuti praktik simulasi penanganan banjir dalam kegiatan yang berlangsung di Aula Kantor Desa Batu Tering, Selasa (13/10).
Pelatihan tersebut melibatkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sumbawa, Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI), dan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Sumbawa.
Kegiatan ini bertujuan meningkatkan keterampilan relawan dalam menggunakan perangkat komunikasi sekaligus memperkuat koordinasi antarpersonel dan antarposko ketika terjadi bencana.
Sejumlah narasumber hadir memberikan materi, yakni Kepala Bidang Kebencanaan BPBD Kabupaten Sumbawa, Dr Rusdianto AR MPd; M. Said dari Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Sumbawa; Sekretaris RAPI Kabupaten Sumbawa Adrian Junior; serta A Han dari MDMC Sumbawa.
Komunikasi Jadi Kunci Penanganan Bencana
Dalam pemaparannya, Rusdianto menjelaskan bahwa BPBD memiliki tugas dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana, mulai dari tahap prabencana, tanggap darurat, hingga pascabencana.
Menurutnya, komunikasi yang efektif menjadi unsur penting dalam penanganan bencana karena melibatkan berbagai pihak yang harus bergerak secara terpadu.
Dukungan perangkat komunikasi dan sumber daya manusia yang terlatih diharapkan dapat memperlancar koordinasi, terutama ketika jaringan komunikasi konvensional mengalami gangguan akibat kondisi darurat.
Sementara itu, M Said menjelaskan penggunaan perangkat Handy Talky (HT) sebagai sarana komunikasi lapangan. Perangkat tersebut berperan dalam mendukung pertukaran informasi secara cepat antara personel dan posko penanganan bencana.
“Jika komunikasi terkendala, pekerjaan lintas sektor juga akan terganggu,” jelasnya.
Ia juga menerangkan bahwa Tim Reaksi Cepat BPBD bertugas melakukan pemantauan dan asesmen awal setelah menerima informasi kejadian atau potensi bencana. Hasil pemantauan tersebut menjadi dasar untuk mengidentifikasi kondisi lapangan, kebutuhan penanganan, serta langkah teknis yang perlu dilakukan.
Sekretaris RAPI Kabupaten Sumbawa, Adrian Junior, memaparkan peran komunikasi radio dalam mendukung penyampaian informasi dari lokasi kejadian menuju posko koordinasi.
Kolaborasi dengan RAPI diharapkan membantu pemerintah desa dan relawan menjaga kelancaran komunikasi ketika menghadapi situasi darurat.
Adapun A Han dari MDMC Sumbawa menekankan pentingnya pencatatan dan pengelolaan informasi di posko utama. Laporan dari posko lapangan, menurutnya, harus dihimpun dan diperiksa secara tertib agar informasi mengenai kondisi korban, situasi bencana, serta kebutuhan mendesak dapat diteruskan secara akurat kepada BPBD.
"Informasi yang terkelola dengan baik juga menjadi dasar penentuan prioritas penanganan dan distribusi bantuan," jelas A Han.
Dengan demikian, komunikasi kebencanaan tidak hanya berkaitan dengan pengoperasian perangkat radio, tetapi juga mencakup ketepatan pelaporan dan pengelolaan informasi dalam sistem komando penanganan bencana.
Setelah menerima materi, sebanyak 23 peserta mengikuti simulasi penanganan banjir dengan pembagian sejumlah posko, yakni Posko 1 di Dusun B, Posko 2 di Dusun A, Posko 3 di Dusun Sela, Posko 4 di Dusun Melung, Posko Logistik/Dapur, Posko Asesmen, dan Posko Kesehatan.
Dalam simulasi tersebut, peserta mempraktikkan alur komunikasi mulai dari penyampaian informasi awal, koordinasi antarposko, pemantauan kondisi lapangan, pelaporan kebutuhan, hingga penanganan korban sesuai skenario latihan.
Peserta juga dilatih menyampaikan pesan melalui HT secara singkat, jelas, dan mudah dipahami agar informasi dapat diterima dengan baik oleh petugas di posko lain.
Usai simulasi, narasumber mengevaluasi pengoperasian perangkat radio, pola koordinasi antarpersonel, serta teknik penyampaian pesan melalui komunikasi radio.
Secara umum, praktik peserta dinilai berjalan baik. Meski demikian, latihan berkala tetap diperlukan untuk meningkatkan keterampilan teknis dan koordinasi agar dapat diterapkan ketika menghadapi bencana sesungguhnya.
Pelatihan ini menjadi bagian dari upaya Pemerintah Desa Batu Tering membangun kesiapsiagaan berbasis masyarakat melalui kolaborasi dengan BPBD, RAPI, dan MDMC Sumbawa.
Kepala Desa Batu Tering, Alwan Hidayat SPdI NLP, berharap pelatihan tersebut mampu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan para relawan agar dapat menjalankan fungsi komunikasi, pelaporan, serta koordinasi saat terjadi bencana.
"Kesiapsiagaan tidak hanya bergantung pada ketersediaan sarana dan prasarana, tetapi juga pada kemampuan personel, kejelasan pembagian tugas, ketepatan informasi, dan koordinasi di lapangan," terang kades Alwan.
Penguatan kapasitas ini diharapkan menjadi salah satu langkah untuk mewujudkan Desa Batu Tering yang lebih siap dan tangguh menghadapi berbagai potensi bencana.(Gal)