Sumbawa Barat, GaungNUSRA
Struktur ekonomi Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), mulai mengalami pergeseran menuju sektor industri pengolahan. Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sumbawa Barat mencatat, kontribusi sektor industri pengolahan terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) daerah mencapai 14,55 persen. Hal ini menjadikannya sebagai penopang ekonomi terbesar kedua, setelah sektor pertambangan.
Peningkatan kinerja industri pengolahan tersebut sejalan dengan beroperasinya fasilitas pemurnian mineral (smelter) secara penuh sejak 2025. Kehadiran smelter mendorong peningkatan nilai tambah hasil tambang sekaligus memperkuat proses hilirisasi yang selama ini menjadi salah satu fokus pembangunan ekonomi daerah.
Kepala BPS Kabupaten Sumbawa Barat, Ni Ketut Alit Rahayu Hendrayani, mengatakan lonjakan sektor industri pengolahan merupakan dampak langsung dari aktivitas smelter yang kini telah menghasilkan produk olahan untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik maupun ekspor.
"Industri pengolahan menanjak jauh pada 2025 karena keberadaan smelter," ujarnya, Selasa (4/8).
Meningkatnya kontribusi industri pengolahan turut mengubah struktur ekonomi daerah. Jika sebelumnya sektor pertambangan mentah mendominasi hingga sekitar 82 persen terhadap PDRB, kini porsinya menurun menjadi 69,68 persen. Penurunan tersebut menunjukkan mulai berkurangnya ketergantungan daerah terhadap penjualan bahan mentah dan meningkatnya peran industri yang menghasilkan nilai tambah.
Perubahan struktur ekonomi ini dinilai memperkuat strategi Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat dalam membangun fondasi ekonomi yang lebih berkelanjutan. Hilirisasi industri diproyeksikan menjadi salah satu penopang utama perekonomian, terutama sebagai langkah antisipasi ketika aktivitas pertambangan memasuki masa akhir produksi.
Selain ditopang industri pengolahan, perekonomian daerah juga didukung sektor-sektor berbasis kerakyatan. BPS mencatat sektor pertanian menyumbang 3,95 persen terhadap PDRB sekaligus tetap menjadi penyerap tenaga kerja terbesar di wilayah perdesaan. Sementara itu, sektor perdagangan besar dan eceran memberikan kontribusi sebesar 3,37 persen terhadap perekonomian daerah.
Menurut Rahayu, penguatan industri pengolahan yang berjalan beriringan dengan pertanian dan perdagangan diharapkan mampu menciptakan struktur ekonomi yang lebih seimbang serta meningkatkan daya tahan daerah terhadap fluktuasi harga komoditas di pasar global.
"Penguatan sektor industri dan pertanian menjadi kunci perluasan pertumbuhan ekonomi," tutupnya. (Gbw)