Mataram, GaungNUSRA
Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) terus mendorong peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) kesehatan di tingkat pelayanan dasar, khususnya Puskesmas. Upaya ini diperkuat melalui pemanfaatan Seminar dan Lokakarya Nasional (Semiloka) VI serta Jambore Puskesmas Nasional (Jampusnas) III Tahun 2026 sebagai ajang berbagi pengetahuan dan inovasi antarwilayah.
Kegiatan yang diselenggarakan Akselerasi Puskesmas Indonesia (APKESMI) di Mataram tersebut diharapkan menjadi kesempatan bagi tenaga kesehatan di NTB untuk mempelajari praktik-praktik baik (best practices) dari Puskesmas di berbagai daerah.
Komitmen tersebut disampaikan Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, saat menerima audiensi jajaran pengurus APKESMI di ruang kerjanya, Mataram, Selasa (13/10). Ia menyambut baik penunjukan NTB sebagai tuan rumah kegiatan nasional tersebut dan meminta tenaga kesehatan setempat memanfaatkan momentum itu untuk meningkatkan kemampuan pelayanan.
“Terima kasih sudah memilih NTB sebagai tuan rumah. Ini kesempatan buat teman-teman di Puskesmas NTB untuk belajar dari pengalaman dan best practices Puskesmas lain yang sudah berhasil. Jadi, teman-teman Puskesmas harus didorong untuk bisa memanfaatkan keberadaan acara ini di sini,” ujar Iqbal.
Menurutnya, penguatan kapasitas tenaga kesehatan Puskesmas sejalan dengan strategi pembangunan kesehatan NTB yang mengedepankan pendekatan dari bawah ke atas (bottom-up), dimulai dari desa dan komunitas masyarakat.
Pemerintah provinsi juga mendorong optimalisasi peran Puskesmas Pembantu (Pustu) hingga Posyandu untuk memperluas jangkauan pelayanan dan meningkatkan edukasi kesehatan yang bersifat preventif atau pencegahan.
“Kami dengan Pak Kadis sekarang lebih banyak fokus ke Puskesmas, karena pendekatan pembangunan kami bottom-up dari desa. Asumsinya kalau desa itu baik, maka NTB secara umum juga akan baik. Makanya intervensi dilakukan sampai ke Posyandu untuk mengubah postur kesehatan masyarakat yang lebih menekankan pada pencegahan ketimbang kuratif,” jelasnya.
Selain peningkatan kapasitas tenaga kesehatan, Iqbal menyoroti pentingnya integrasi data riwayat kesehatan masyarakat sebagai dasar penyusunan kebijakan yang tepat sasaran.
Ia menjelaskan, Puskesmas berperan dalam pelayanan pengobatan, sedangkan Posyandu menjadi salah satu ujung tombak upaya pencegahan dan edukasi kesehatan masyarakat. Keterhubungan data dari kedua layanan tersebut dinilai dapat membantu pemerintah merumuskan kebijakan berbasis bukti.
“Kita fokus juga ke database. Kuratifnya ada di Puskesmas, preventifnya ada di Posyandu. Kalau data ini sebetulnya terkoneksi satu sama lain dan bisa kita olah, kita bisa bikin kebijakan yang evidence-based,” katanya.
Ketua APKESMI, dr. Kusnadi, menyambut baik perhatian pemerintah daerah terhadap penguatan pelayanan kesehatan tingkat pertama. Menurutnya, kemampuan SDM, dukungan anggaran, serta ketersediaan sarana dan prasarana merupakan faktor penting dalam meningkatkan kualitas layanan Puskesmas.
Ia menilai, penguatan berbagai aspek tersebut dapat membantu Puskesmas menangani lebih banyak kasus sesuai kapasitasnya sehingga rujukan ke fasilitas kesehatan tingkat lanjutan dapat dilakukan secara lebih tepat.
“Moto kami ini Puskesmas Kuat, Indonesia Sehat. Artinya kalau Puskesmas kuat dari sisi anggaran, SDM-nya kuat, sarana prasarananya kuat, insyaallah orang dirujuk ke rumah sakit makin sedikit, selesai di Puskesmas,” tegas Kusnadi.
Audiensi tersebut turut dihadiri Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB, dr. Lalu Hamzi Fikri, Ketua APKESMI dr. Kusnadi, serta Ketua Panitia Semiloka VI dan Jampusnas III Tahun 2026, dr. Nisma.
Melalui kegiatan nasional tersebut, Pemprov NTB berharap kapasitas tenaga kesehatan semakin meningkat, inovasi pelayanan dapat dikembangkan, dan penguatan Puskesmas serta Posyandu mampu mendukung peningkatan kualitas kesehatan masyarakat di NTB. (Gad/Hms)