Sumbawa Besar, GaungNUSRA
Potret memprihatinkan dunia pendidikan masih ditemukan di Kabupaten Sumbawa. Di SD Negeri (SDN) Kanar Kecamatan Labuhan Badas, puluhan siswa kelas VI terpaksa mengikuti kegiatan belajar mengajar dengan duduk di lantai akibat tidak tersedianya meja dan kursi. Kondisi tersebut menjadi salah satu temuan Dewan Pendidikan Kabupaten Sumbawa saat melakukan kunjungan lapangan, Rabu (5/8).
Tak hanya kekurangan meubelair, sekolah yang lokasinya tidak jauh dari pusat Kota Sumbawa Besar itu juga menghadapi berbagai persoalan sarana dan prasarana. Sejumlah ruang kelas mengalami kerusakan, pagar sekolah telah lapuk dimakan usia, sementara keterbatasan ruang belajar memaksa sekolah menerapkan sistem penggunaan kelas secara bergantian.
Dalam kunjungan tersebut, rombongan Dewan Pendidikan dipimpin Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Sumbawa Jamhur Husain SE, didampingi Sekretaris, Zainuddin SH, serta anggota, Sanapiah SPd, Jhon Kennedy MPd dan Sri Wahyu Hidayati MPd. Mereka meninjau langsung kondisi ruang belajar dan berdialog dengan pihak sekolah mengenai berbagai kendala yang dihadapi.
Pemandangan paling memprihatinkan terlihat di ruang kelas VI. Seluruh siswa harus belajar tanpa meja dan kursi sehingga proses pembelajaran berlangsung dengan duduk di lantai. Sementara di kelas lain, keterbatasan kursi membuat dua siswa harus berbagi tempat duduk.
Kondisi tersebut diperparah dengan minimnya jumlah ruang belajar. Setiap hari, sejumlah rombongan belajar harus bergantian menggunakan ruang kelas. Ketika satu kelas mengikuti pelajaran olahraga atau kegiatan di luar ruangan, ruang yang ditinggalkan langsung digunakan oleh rombongan belajar lain. Akibatnya, perlengkapan belajar siswa, termasuk tas dan buku, harus dipindahkan atau dibiarkan di dalam kelas yang sedang digunakan.
Kepala SDN Kanar, Abdul Latief SPd mengakui kondisi tersebut telah berlangsung cukup lama. Berbagai usulan rehabilitasi maupun penambahan sarana pendidikan telah disampaikan kepada pemerintah, namun hingga kini belum terealisasi.
"Guru dan siswa terpaksa beradaptasi agar kegiatan belajar mengajar tetap berjalan. Namun, kami tentu berharap kondisi ini segera mendapat perhatian karena sangat memengaruhi kenyamanan dan keselamatan proses pembelajaran," ujarnya.
Abdul Latief menjelaskan, SDN Kanar saat ini memiliki 305 siswa yang terbagi dalam 12 rombongan belajar. Sementara ruang kelas yang tersedia hanya 10 ruangan dan sebagian di antaranya sudah tidak layak digunakan.
Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, sekolah memanfaatkan mushala sebagai ruang belajar tambahan. Meski demikian, solusi itu dinilai belum mampu menjawab kebutuhan ruang belajar yang terus meningkat.
Menurutnya, secara ideal sekolah hanya mampu menampung 10 rombongan belajar. Namun, pihak sekolah tetap menerima seluruh calon peserta didik karena mempertimbangkan kondisi sosial masyarakat, khususnya siswa beragama Hindu.
"Banyak siswa beragama Hindu yang apabila tidak diterima di SDN Kanar harus bersekolah di tempat lain yang tidak menyediakan pembelajaran agama Hindu. Mereka harus mengikuti pelajaran agama di Aula Suka Duka di Kota Sumbawa dengan biaya tambahan. Karena pertimbangan itu, kami tetap menerima mereka," katanya.
Ia menjelaskan, komposisi siswa di SDN Kanar cukup beragam. Dari total 305 siswa, sekitar 150 siswa beragama Islam, sekitar 140 siswa beragama Hindu, sedangkan sisanya beragama Kristen.
Untuk memenuhi hak peserta didik memperoleh pendidikan agama sesuai keyakinannya, sekolah merekrut dua guru honorer agama Hindu yang berdomisili di sekitar sekolah. Sementara bagi siswa beragama Kristen, pembelajaran agama masih dilaksanakan di luar sekolah karena belum tersedia guru agama Kristen.
Selain persoalan ruang belajar, kondisi pagar sekolah juga membutuhkan penanganan segera. Pagar yang dibangun sejak 1984 itu belum pernah direhabilitasi. Sebagian besar pagar telah keropos, bahkan beberapa titik roboh sehingga mengurangi aspek keamanan lingkungan sekolah.
Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Sumbawa Jamhur Husain menilai kondisi SDN Kanar mencerminkan masih adanya persoalan mendasar dalam penyediaan sarana pendidikan yang harus segera ditangani pemerintah daerah.
Menurutnya, kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kompetensi guru dan proses pembelajaran, tetapi juga harus ditunjang fasilitas yang memadai agar peserta didik dapat belajar secara aman, nyaman, dan bermartabat.
"Kami sangat prihatin melihat kondisi SDN Kanar. Tidak semestinya pada tahun ini masih ada siswa yang harus belajar di lantai karena tidak memiliki meja dan kursi. Demikian pula ruang kelas yang digunakan secara bergantian setiap hari. Kondisi ini harus menjadi perhatian serius pemerintah daerah agar hak anak-anak memperoleh layanan pendidikan yang layak benar-benar terpenuhi," tegasnya.
Jamhur berharap Pemerintah Kabupaten Sumbawa melalui dinas terkait segera memprioritaskan rehabilitasi bangunan sekolah, pembangunan ruang kelas baru, perbaikan pagar, serta pengadaan meja dan kursi. Dengan demikian, proses belajar mengajar di SDN Kanar dapat berlangsung lebih efektif sekaligus memberikan rasa aman dan nyaman bagi seluruh warga sekolah. (Gad/Hms)