PT GAUNG NUSRA MEDIA AMANAH

Kendalikan Inflasi, KSB Perkuat GPM dana GGM

Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) terus memperkuat langkah pengendalian inflasi melalui berbagai intervensi di sektor pangan

E
Penulis Editor
Tanggal 29 Jul 2026, 14:14 WITA
 Kendalikan Inflasi, KSB Perkuat GPM dana GGM
Pemkab Sumbawa Barat melalui Dinas Ketahanan Pangan terus menekan angka inflasi dengan menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM) ke-19 tanpa syarat khusus bagi masyarakat.


Sumbawa Barat, GaungNUSRA 

Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) terus memperkuat langkah pengendalian inflasi melalui berbagai intervensi di sektor pangan. Selain menggencarkan pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM) untuk menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok, pemerintah daerah juga mengintensifkan Gerakan Gemar Menanam (GGM) sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan rumah tangga.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan KSB, Hj Nurul Syaspri, mengatakan pihaknya akan kembali menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM) ke-19 pada tahun ini. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari strategi pemerintah daerah dalam mengantisipasi gejolak harga pangan menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) maupun momentum peringatan hari jadi Kabupaten Sumbawa Barat.

Menurut Nurul, pemerintah telah mengalokasikan anggaran untuk menyelenggarakan 24 kali GPM sepanjang tahun. Pelaksanaannya dilakukan secara bergilir di seluruh kecamatan agar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat secara merata.

"Setiap tahun kami mengalokasikan anggaran untuk 24 kali pelaksanaan GPM. Kegiatan ini digelar bergilir di seluruh kecamatan agar masyarakat lebih mudah memperoleh bahan pangan dengan harga terjangkau," katanya, Selasa (28/7).

Ia menegaskan, program tersebut terbuka bagi seluruh masyarakat tanpa membedakan status ekonomi maupun kepesertaan dalam program bantuan sosial. Kebijakan itu diambil karena dampak inflasi dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.

"Semua orang merasakan dampak inflasi. Karena itu tidak ada persyaratan khusus, termasuk harus terdaftar dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS). Siapa pun dapat membeli bahan pangan dengan harga yang telah disubsidi," ujarnya.

Dalam pelaksanaannya, Dinas Ketahanan Pangan KSB memprioritaskan subsidi terhadap komoditas yang mengalami lonjakan harga signifikan. Salah satunya cabai, yang sebelumnya sempat menembus harga Rp200 ribu per kilogram. Saat kondisi tersebut terjadi, pemerintah daerah melakukan intervensi dengan menjual cabai melalui GPM seharga Rp40 ribu per kilogram.

Upaya tersebut dinilai mampu membantu menstabilkan harga di pasaran. Saat ini, harga cabai di tingkat pedagang dilaporkan telah turun dan berada pada kisaran Rp40 ribu hingga Rp42 ribu per kilogram.

Selain cabai, pemerintah juga memantau harga daging ayam yang saat ini berkisar antara Rp40 ribu hingga Rp45 ribu per kilogram. Pengawasan dilakukan bersama Satuan Tugas (Satgas) Pangan untuk memastikan harga jual tetap berada dalam batas Harga Eceran Tertinggi (HET) serta tidak terjadi praktik yang merugikan konsumen.

Disisi lain, Dinas Ketahanan Pangan KSB bersama tim dari Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat juga meningkatkan pengawasan terhadap keamanan pangan. Melalui inspeksi mendadak ke sejumlah pasar tradisional, petugas mengambil sampel berbagai komoditas pangan untuk diuji secara langsung guna memastikan produk yang beredar aman dikonsumsi masyarakat.

Tidak hanya mengandalkan intervensi pasar, pemerintah daerah juga menjalankan strategi jangka panjang melalui Gerakan Gemar Menanam (GGM). Program ini mendorong masyarakat memanfaatkan pekarangan rumah sebagai sumber pangan keluarga sehingga ketergantungan terhadap pasokan pasar dapat dikurangi.

Program tersebut menyasar kelompok Dasawisma di 65 desa dan kelurahan se-Kabupaten Sumbawa Barat. Setiap kelompok yang beranggotakan 10 hingga 20 orang menerima bantuan 250 bibit tanaman siap tanam, terdiri atas cabai rawit, cabai keriting, terong bulat, terong panjang, dan tomat. Selain bibit, pemerintah juga menyalurkan benih tambahan, media persemaian, serta pupuk kompos untuk mendukung keberhasilan budidaya.

Nurul mengatakan program tersebut mulai menunjukkan hasil positif. Berdasarkan laporan yang diterima dari masyarakat, sebagian tanaman cabai dan tomat yang dibagikan pemerintah telah memasuki masa berbuah.

"Harapan kami, masyarakat dapat memenuhi sebagian kebutuhan dapur dari hasil pekarangan sendiri. Dengan begitu, pengeluaran rumah tangga dapat ditekan sekaligus mendukung ketahanan pangan keluarga," katanya. (Gbw)



Bagikan Berita Ini: