PT GAUNG NUSRA MEDIA AMANAH

Brida KSB Perketat Penilaian Anugerah Inovasi

Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), melakukan perubahan signifikan dalam sistem penilaian Anugerah Inovasi Daerah (AID) 2026.

E
Penulis Editor
Tanggal 22 Jun 2026, 11:09 WITA
Brida KSB Perketat Penilaian Anugerah Inovasi
Ketua Pelaksana Anugerah Inovasi Daerah, Mustamar

Sumbawa Barat, GaungNUSRA Online 

Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), melakukan perubahan signifikan dalam sistem penilaian Anugerah Inovasi Daerah (AID) 2026. Perubahan tersebut menempatkan verifikasi lapangan sebagai komponen penilaian terbesar, guna memastikan setiap inovasi yang berkompetisi tidak hanya unggul di atas kertas, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Kebijakan itu disampaikan dalam kegiatan Technical Meeting (TM) yang mempertemukan panitia dengan seluruh peserta Anugerah Inovasi Daerah. Forum tersebut sekaligus menjadi ajang sosialisasi mekanisme lomba, tahapan penilaian, dan penyampaian berbagai perubahan regulasi yang akan diterapkan pada kompetisi tahun ini.

Ketua Pelaksana Anugerah Inovasi Daerah, Mustamar, mengatakan perubahan sistem penilaian dilakukan sebagai upaya meningkatkan kualitas kompetisi sekaligus menghasilkan pemenang yang benar-benar memiliki inovasi yang teruji dan berdampak.

Menurutnya, selama ini inovasi sering kali dinilai berdasarkan kualitas dokumen dan kemampuan peserta mempresentasikan gagasan. Namun, Brida menilai aspek implementasi dan keberlanjutan inovasi perlu mendapat porsi yang lebih besar dalam proses penilaian.

“Penilaian lapangan ini murni inisiasi dari Brida. Kami ingin melihat sejauh mana penerapan inovasi tersebut di tingkat OPD, masyarakat maupun sekolah,” ujar Mustamar, Jumat (19/6).

Ia menjelaskan, pada rancangan awal panitia menetapkan komposisi penilaian sebesar 40 persen untuk kualitas dokumen dan 60 persen untuk presentasi. Namun setelah dilakukan evaluasi, skema tersebut dinilai belum cukup menggambarkan kondisi riil inovasi yang dihasilkan peserta.

Karena itu, Brida memutuskan mengubah formula penilaian dengan memberikan bobot yang lebih besar pada hasil verifikasi lapangan. Dalam sistem yang baru, presentasi memperoleh bobot nilai 25 persen, wawancara 25 persen, sedangkan verifikasi atau tinjauan lapangan mencapai 50 persen.

Melalui mekanisme tersebut, tim penilai akan turun langsung ke lokasi untuk memeriksa penerapan inovasi yang diajukan peserta. Peninjauan dilakukan untuk memastikan bahwa inovasi yang dipresentasikan benar-benar telah diimplementasikan dan memberikan dampak yang dapat diukur.

Selain melihat tingkat keberhasilan inovasi, tim penilai juga akan menilai aspek keberlanjutan program, manfaat yang dirasakan pengguna, serta peluang pengembangan inovasi pada masa mendatang.

Mustamar mengakui, penerapan verifikasi lapangan akan membuat proses penilaian berlangsung lebih panjang, dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Namun langkah tersebut dianggap penting, untuk menjaga kredibilitas kompetisi dan menghasilkan pemenang yang benar-benar layak.

“Dengan verifikasi langsung di lapangan, kami bisa melihat kondisi sebenarnya. Hal itu akan membuat hasil penilaian lebih objektif dan dapat dipertanggungjawabkan,” katanya.

Berdasarkan data final yang dirilis setelah pelaksanaan Technical Meeting, jumlah peserta Anugerah Inovasi Daerah tahun ini mencapai 42 inovator. Mereka berasal dari berbagai unsur, yang selama ini menjadi sasaran pengembangan budaya inovasi di Kabupaten Sumbawa Barat.

Sebanyak 16 peserta berasal dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD), 15 peserta dari kategori masyarakat, dan 11 peserta dari kategori sekolah.

Komposisi peserta tersebut menunjukkan tingginya antusiasme berbagai kalangan dalam menghadirkan solusi kreatif terhadap berbagai persoalan pembangunan dan pelayanan publik di daerah.

Menariknya, kompetisi tahun ini juga kembali diikuti sejumlah inovator yang sebelumnya berhasil meraih prestasi pada kategori masyarakat. Meski demikian, para juara bertahan tersebut tidak mengajukan inovasi lama, melainkan hadir dengan konsep dan gagasan baru yang berbeda dari kompetisi sebelumnya.

“Sang jawara tahun kemarin akan berlaga lagi dengan ide barunya,” ungkap Mustamar.

Menurutnya, kehadiran para pemenang tahun sebelumnya menunjukkan bahwa budaya inovasi mulai tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat. Para inovator tidak berhenti setelah meraih penghargaan, tetapi terus berupaya melahirkan gagasan baru yang lebih relevan dengan kebutuhan daerah.

Dalam sesi diskusi Technical Meeting, sejumlah peserta juga menyampaikan berbagai masukan kepada panitia. Di antaranya usulan peningkatan nominal uang pembinaan serta penambahan jumlah pemenang pada setiap kategori lomba.

Menanggapi usulan tersebut, Mustamar menjelaskan bahwa format kompetisi tahun ini masih akan menggunakan pola yang sama seperti sebelumnya, yakni menetapkan juara pertama, kedua, dan ketiga pada masing-masing kategori.

Meski demikian, seluruh masukan yang disampaikan peserta akan menjadi bahan evaluasi bagi Brida dalam menyusun kebijakan dan perencanaan program pada tahun-tahun mendatang.

“Kami mengapresiasi seluruh masukan dari peserta. Semua usulan akan kami tampung sebagai bahan evaluasi untuk pengembangan kompetisi ke depan,” ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris Badan Brida Kabupaten Sumbawa Barat, Taufik Hikmawan, mendorong seluruh elemen masyarakat untuk terus menumbuhkan budaya inovasi sebagai bagian dari upaya mempercepat pembangunan daerah.

Ia menilai inovasi tidak hanya lahir dari institusi pemerintah, tetapi juga dapat muncul dari sekolah, komunitas, maupun masyarakat yang mampu membaca dan menjawab berbagai tantangan di lingkungan sekitarnya.

Taufik juga memberikan perhatian khusus terhadap usulan peningkatan penghargaan bagi para inovator. Menurutnya, apresiasi yang memadai menjadi salah satu bentuk dukungan pemerintah untuk mendorong lahirnya lebih banyak inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat.

“Semangat berinovasi harus terus dijaga. Pemerintah daerah tentu ingin memberikan penghargaan yang layak kepada para inovator yang telah berkontribusi menghadirkan solusi dan perubahan positif bagi daerah,” katanya.

Melalui penyempurnaan sistem penilaian tersebut, Brida berharap Anugerah Inovasi Daerah tidak hanya menjadi ajang kompetisi tahunan, tetapi juga menjadi instrumen untuk mendorong lahirnya inovasi-inovasi yang benar-benar mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan mendukung pembangunan Kabupaten Sumbawa Barat secara berkelanjutan. (Gbw)

Bagikan Berita Ini: