Sumbawa Besar, GaungNUSRA
Memasuki awal musim kemarau, sejumlah desa di Kabupaten Sumbawa mulai mengalami kekeringan dan membutuhkan pasokan air bersih. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sumbawa telah menerima permohonan bantuan dari dua kecamatan, sekaligus meningkatkan pemantauan di wilayah-wilayah yang selama ini masuk kategori rawan kekeringan.
Kepala Bidang Logistik dan Kedaruratan BPBD Kabupaten Sumbawa, Dr Rusdianto, mengatakan hingga saat ini permohonan distribusi air bersih baru diterima dari Kecamatan Moyo Utara untuk Dusun Limung serta Kecamatan Alas Barat. Sementara itu, BPBD masih melakukan pengecekan di sejumlah daerah, yang selama ini tercatat sebagai kawasan rawan kekeringan.
"Kami masih melakukan pemantauan di wilayah-wilayah yang sejak beberapa tahun terakhir menjadi langganan kekeringan. Untuk sementara, baru dua kecamatan yang mengajukan permintaan air bersih," ujarnya.
Rusdianto menjelaskan, pemerintah kecamatan yang mengalami kesulitan air bersih diminta segera menyampaikan surat permohonan kepada Bupati Sumbawa, dengan tembusan kepada BPBD Kabupaten Sumbawa. Surat tersebut harus dilengkapi dengan laporan mengenai kondisi di lapangan, sebagai dasar penanganan dan penyaluran bantuan.
Selain menunggu permohonan resmi, BPBD juga terus berkoordinasi dengan pemerintah kecamatan dan kepala desa di wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan. Agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat, ketika pasokan air mulai berkurang.
Menurut Rusdianto, kekeringan umumnya terjadi di desa-desa kawasan pesisir, terutama di wilayah pesisir utara Kabupaten Sumbawa. Kondisi serupa juga hampir setiap tahun dialami Kecamatan Lape, khususnya Desa Hijrah. Bahkan, dalam beberapa tahun terakhir, kekeringan mulai terjadi di wilayah dataran tinggi, seperti Kecamatan Lantung. Meskipun hingga kini belum ada laporan resmi yang diterima BPBD.
Ia menambahkan, berdasarkan pola yang terjadi setiap tahun, puncak musim kemarau di Kabupaten Sumbawa diperkirakan berlangsung pada Agustus hingga September. Karena itu, BPBD terus menjalin koordinasi dengan pemerintah desa, untuk memantau penurunan debit air maupun kondisi sumur milik warga.
Untuk mengantisipasi kebutuhan air bersih, BPBD telah menyiapkan tiga unit truk tangki yang siap mendistribusikan air ke daerah terdampak. Apabila kekeringan meluas, BPBD akan meminta dukungan armada tangki air dari Polres Sumbawa dan Palang Merah Indonesia (PMI). Agar distribusi air dapat menjangkau seluruh wilayah yang membutuhkan.
Sebagai langkah penanganan jangka panjang, BPBD Kabupaten Sumbawa juga telah mengusulkan pembangunan sumur bor di desa-desa rawan kekeringan kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Masyarakat di wilayah rawan diimbau segera melaporkan apabila mulai mengalami kesulitan air bersih agar bantuan dapat segera disalurkan.
Selain menghemat penggunaan air, warga juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran selama musim kemarau. Menurut Rusdianto, kondisi lahan yang kering, terutama di kawasan pertanian jagung, sangat rentan memicu munculnya titik-titik api. (Gar)