Sumbawa Barat, GaungNUSRA Online
Pemerintah Kecamatan Maluk bersama unsur TNI-Polri, pihak swasta, dan berbagai elemen masyarakat menggelar aksi pembersihan kawasan Pantai Maluk sebagai respons cepat atas meningkatnya volume sampah di bibir pantai tersebut. Kegiatan yang dipimpin langsung oleh Camat Maluk ini menjadi langkah darurat untuk mengatasi kondisi lingkungan yang dinilai mulai kumuh.
Camat Maluk, Mulyadi, menjelaskan bahwa gerakan gotong royong ini berawal dari keprihatinan atas menumpuknya sampah yang mengganggu estetika kawasan wisata. Selain aksi fisik memungut sampah, pihaknya berkomitmen untuk melakukan pengawasan rutin setiap bulan guna memastikan kebersihan pantai tetap terjaga secara berkelanjutan. Sabtu (4/4).
"Kami melakukan pantauan rutin agar pantai ini tidak lagi kotor. Kami ingin memastikan tidak ada lagi sampah yang berserakan di kawasan ini," tegas Mulyadi.
Dalam pelaksanaannya, sinergi lintas sektor menjadi kunci utama. PT Amman Mineral turut memberikan dukungan melalui penyediaan alat berat ekskavator untuk menjangkau titik pembersihan yang sulit dilakukan secara manual. Sementara itu, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sumbawa Barat mengerahkan armada truk sampah untuk mempercepat proses pengangkutan limbah dari lokasi.
Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), Kamaluddin, mengakui bahwa lonjakan sampah pasca-libur lebaran membuat kondisi pantai sangat memprihatinkan. Meski pihaknya memiliki program kebersihan, keterbatasan sumber daya menjadi kendala utama. Sebagai langkah antisipasi, saat ini telah disusun Peraturan Desa (Perdes) mengenai pengendalian hewan ternak liar yang sering menjadi penyebab terganggunya kebersihan di area wisata.
“Kami berharap Pemerintah Daerah KSB memberikan perhatian lebih, mengingat kunjungan wisatawan ke wilayah Maluk-Sekongkang mencapai 60.000 orang per tahun. Terkait Perdes ketertiban hewan sudah siap, tinggal tahap sosialisasi kepada masyarakat,” ungkapnya.
Di sisi lain, perwakilan PT Amman Mineral, Dewi Sartika, menegaskan komitmen perusahaan dalam mendukung pelestarian lingkungan. Namun, ia menggarisbawahi bahwa kapasitas perusahaan bersifat pendukung (support), sementara arah kebijakan dan konsep program sepenuhnya berada di tangan pemerintah. Ia menekankan bahwa pariwisata berkelanjutan memerlukan kesadaran kolektif dari seluruh lapisan masyarakat.
Dorongan untuk menciptakan regulasi yang lebih kuat juga datang dari kalangan mahasiswa. Sekretaris Jenderal HPMMB, Afif, serta Ketua Hipmasbar Mataram, Dymas Prayoga, mendesak agar aksi bersih-bersih ini tidak hanya bersifat seremonial. Mereka mendorong pemerintah segera merumuskan kebijakan tata kelola sampah yang jelas dan memperkuat sinergi dengan pihak swasta demi keberlangsungan pariwisata Maluk sebagai wajah daerah.
Menanggapi masukan tersebut, Pemerintah Kecamatan Maluk dalam waktu dekat berencana memasang papan larangan membuang sampah yang dilengkapi sanksi tegas sesuai peraturan daerah. Selain itu, wacana pengadaan petugas penjaga pantai (lifeguard/security) tengah dipertimbangkan guna memastikan Pantai Maluk tetap menjadi destinasi unggulan yang aman dan bersih di Kabupaten Sumbawa Barat. (Gbw)