PT GAUNG NUSRA MEDIA AMANAH

Ditolak Warga, Nobar Film Dokumenter “Pesta Babi” oleh HMI KSB Batal Digelar

Kegiatan diskusi dan nonton bareng (nobar) film dokumenter Pesta Babi yang rencananya digelar oleh Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) akhirnya dibatalkan setelah mendapat penolakan dari sejumlah warga setempat.

E
Penulis Editor
Tanggal 13 May 2026, 07:29 WITA
Ditolak Warga, Nobar Film Dokumenter “Pesta Babi” oleh HMI KSB Batal Digelar
DIBUBARKAN—Warga Telaga Bertong datangi sekretariat Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) untuk membatalkan kegiatan nonton bareng (Nobar) Film Dokumenter "Pesta Babi"

Sumbawa Barat, GaungNUSRA Online

Kegiatan diskusi dan nonton bareng (nobar) film dokumenter Pesta Babi yang rencananya digelar oleh Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) akhirnya dibatalkan setelah mendapat penolakan dari sejumlah warga setempat.

Kegiatan tersebut sedianya berlangsung di Sekretariat HMI KSB, Kelurahan Telaga Bertong, Kecamatan Taliwang, pada Selasa malam (12/5). Namun, sebelum acara dimulai, Ketua Rukun Tetangga (RT) setempat datang memberikan imbauan kepada panitia penyelenggara.

Ketua RT menyampaikan bahwa terdapat beberapa warga yang merasa keberatan dengan pelaksanaan nobar tersebut. Selain itu, ia juga menegaskan bahwa pihak penyelenggara belum menyampaikan pemberitahuan kegiatan kepada lingkungan setempat.

Menanggapi hal itu, Senior HMI KSB, Mustaqim Patawari, mempertanyakan dasar aturan yang mewajibkan organisasi melapor kepada RT ketika menggelar kegiatan. Menurutnya, mekanisme yang selama ini dipahami hanya sebatas pemberitahuan kepada aparat kepolisian.

“Tunjukkan kepada kami aturan yang mengharuskan laporan ke RT ketika ada kegiatan,” ujarnya.

Mustaqim juga menyoroti alasan kedatangan pihak RT yang dinilainya baru dilakukan saat agenda nobar tersebut berlangsung, padahal sekretariat HMI KSB disebut telah beberapa kali menjadi lokasi berbagai kegiatan organisasi sebelumnya.

Ia turut menyinggung persoalan sosial di lingkungan sekitar yang menurutnya seharusnya lebih menjadi perhatian apabila alasan penolakan dikaitkan dengan kondusivitas wilayah.

“Kalau RT mau peduli soal kondusivitas, seharusnya tempat-tempat yang ada aktivitas negatif juga ditertibkan,” katanya.

Lebih lanjut, Mustaqim menegaskan bahwa kegiatan yang dilaksanakan HMI KSB murni bertujuan untuk kajian ilmiah dan diskusi intelektual terkait isi film dokumenter tersebut.

“Teman-teman HMI ingin menonton dan mendiskusikan isi filmnya, sehingga bisa memahami alasan mengapa film tersebut sampai dilarang,” paparnya.

Berdasarkan pantauan di lapangan, sempat terjadi diskusi cukup panjang antara pihak penyelenggara, Ketua RT, serta personel dari Kodim 1628/Sumbawa Barat yang hadir dalam kapasitas pengamanan kegiatan. Namun, musyawarah tersebut belum menghasilkan kesepakatan bersama.

Situasi tersebut membuat panitia akhirnya memutuskan membatalkan agenda nobar film dokumenter Pesta Babi dan membubarkan peserta yang telah hadir. Pihak HMI KSB kemudian meminta agar Kodim 1628/Sumbawa Barat dapat memfasilitasi agenda nobar di lingkungan kantor Kodim guna meminimalisasi penolakan dari masyarakat.

Sementara itu, untuk menjaga suasana diskusi tetap berjalan, panitia mengganti tontonan dengan film biografi Lafran Pane sebagai alternatif kegiatan nobar malam itu.

Bagikan Berita Ini: