Sumbawa Besar, GaungNUSRA
Pemerintah Kabupaten Sumbawa melalui Dinas Kesehatan menargetkan penurunan angka stunting sebesar empat persen pada 2026. Target tersebut menjadi bagian dari upaya mempercepat peningkatan kualitas kesehatan ibu dan anak melalui penguatan program gizi, pelayanan kesehatan, serta perbaikan sarana pendukung.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa, H Sarip Hidayat, mengatakan hingga Juli 2026 pelaksanaan berbagai program kesehatan terus menunjukkan perkembangan yang positif. Selain fokus pada penanganan stunting, Dinas Kesehatan juga mengoptimalkan program pengendalian penyakit, penurunan angka kematian ibu dan bayi, serta peningkatan kapasitas tenaga kesehatan.
"Target kami tahun ini adalah menurunkan angka stunting sebesar empat persen melalui berbagai intervensi yang dilakukan secara terpadu," kata Sarip, Senin (27/7).
Ia menjelaskan, berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi, realisasi anggaran Dinas Kesehatan hingga Juli 2026 telah mencapai 57,59 persen. Anggaran tersebut digunakan untuk mendukung program fisik maupun nonfisik.
Pada sektor fisik, Dinas Kesehatan tengah merehabilitasi tiga Puskesmas Pembantu (Pustu), yakni Pustu Desa Labuhan Sangoro, Kecamatan Plampang, berupa pembangunan pagar dengan progres sekitar 50 persen. Selanjutnya rehabilitasi atap Pustu Desa Telaga Kecamatan Lenangguar, telah rampung 100 persen. Sedangkan perbaikan atap Pustu Lito di Kecamatan Moyo Hulu telah mencapai sekitar 50 persen.
Seluruh pekerjaan tersebut ditargetkan selesai pada Agustus 2026. Masing-masing proyek rehabilitasi memperoleh dukungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2026 sebesar sekitar Rp69 juta.
Selain pembangunan infrastruktur kesehatan, Dinas Kesehatan juga menjalankan berbagai program nonfisik yang meliputi pengawasan dan perencanaan, pengendalian penyakit menular, percepatan penurunan stunting, penurunan angka kematian ibu dan bayi, serta peningkatan kompetensi petugas kesehatan.
Menurut Sarip, berdasarkan hasil pemantauan surveilans hingga saat ini belum ditemukan peningkatan kasus penyakit tertentu yang berpotensi menjadi kejadian luar biasa.
Terkait stunting, ia menyebut angka prevalensi masih menjadi perhatian pemerintah daerah. Target penurunan empat persen mengacu pada prevalensi stunting sebesar 29 persen berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), serta data Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (EPPGBM) triwulan I 2026 yang mencatat angka sebesar 10,6 persen.
Sarip menjelaskan, stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang, terutama pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Kondisi tersebut dapat menghambat pertumbuhan fisik maupun perkembangan otak anak sehingga berdampak pada kualitas sumber daya manusia di masa depan.
Menurutnya, penyebab utama stunting antara lain kekurangan asupan gizi dalam jangka panjang, terutama protein hewani, zat besi, dan zinc, infeksi berulang seperti diare dan infeksi saluran pernapasan, serta kurang optimalnya pemenuhan gizi sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun.
Dalam jangka panjang, stunting dapat menurunkan kemampuan belajar anak, meningkatkan risiko penyakit kronis saat dewasa, seperti diabetes, obesitas, dan penyakit jantung, serta berdampak pada rendahnya produktivitas.
Karena itu, upaya pencegahan terus diperkuat melalui pemenuhan gizi ibu hamil, pemberian ASI eksklusif selama enam bulan yang dilanjutkan dengan makanan pendamping ASI bergizi dan kaya protein hewani, penyediaan akses air bersih, perbaikan sanitasi lingkungan, serta pemberian imunisasi lengkap kepada anak.
"Dengan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, kami optimistis target penurunan stunting tahun ini dapat tercapai sehingga kualitas kesehatan masyarakat Kabupaten Sumbawa semakin meningkat," pungkasnya. (Gad)