PT GAUNG NUSRA MEDIA AMANAH

SMPN 2 Moyo Hulu Percontohan Sekolah Tanggap Bencana

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Sumbawa bersama Fakultas Teknologi Lingkungan dan Mineral (FTLM) Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) memperkuat sinergi dalam membangun budaya

E
Penulis Editor
Tanggal 07 Aug 2026, 17:57 WITA
SMPN 2 Moyo Hulu Percontohan Sekolah Tanggap Bencana
Bangun Budaya Siaga Bencana di Sekolah, Dikbud Sumbawa & FTLM UTS Gandeng SMPN 2 Moyo Hulu

 Sumbawa Besar, GaungNUSRA 

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Sumbawa bersama Fakultas Teknologi Lingkungan dan Mineral (FTLM) Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) memperkuat sinergi dalam membangun budaya sadar bencana di lingkungan pendidikan. Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui presentasi hasil uji coba penerapan Buku Saku Sekolah Tanggap Bencana yang digelar di Ruang Rapat Dinas Dikbud Kabupaten Sumbawa, Kamis (6/8).

Program tersebut menjadikan SMPN 2 Moyo Hulu sebagai sekolah percontohan penerapan buku saku edukasi kebencanaan yang dirancang untuk meningkatkan pengetahuan, kesiapsiagaan, dan kemampuan mitigasi bencana bagi peserta didik.

Kepala Bidang Pembinaan SMP Dinas Dikbud Kabupaten Sumbawa, Junaidi SPd MPd, mengatakan pembangunan budaya siaga bencana perlu ditanamkan sejak dini mengingat Kabupaten Sumbawa memiliki tingkat kerawanan terhadap berbagai potensi bencana alam, terutama gempa bumi.

Menurutnya, buku saku tersebut disusun menggunakan bahasa yang sederhana, ilustrasi yang menarik, serta materi yang mudah dipahami oleh siswa tingkat sekolah menengah pertama.

"Buku saku ini dikemas agar peserta didik lebih mudah memahami berbagai jenis bencana, khususnya gempa bumi, sekaligus mengetahui langkah-langkah penyelamatan diri yang benar," ujar Junaidi.

Ia menjelaskan, penyusunan buku saku memiliki tiga tujuan utama. Pertama, meningkatkan pemahaman peserta didik terhadap potensi dan risiko bencana di lingkungan sekitar. Kedua, memberikan panduan praktis mengenai prosedur penyelamatan diri sebelum, saat, dan setelah terjadi bencana. Ketiga, menumbuhkan budaya siaga bencana secara berkelanjutan di lingkungan sekolah.

Hasil uji coba yang dilaksanakan di SMPN 2 Moyo Hulu menunjukkan capaian yang positif. Berdasarkan hasil evaluasi, penggunaan buku saku mampu meningkatkan minat belajar siswa terhadap materi mitigasi bencana. Penyajian visual yang komunikatif juga dinilai memudahkan siswa memahami konsep-konsep kebencanaan yang selama ini dianggap cukup kompleks.

Selain itu, implementasi buku saku tersebut mulai mendorong terbentuknya budaya aman di lingkungan sekolah serta mempercepat terwujudnya profil Sekolah Tanggap Bencana.

Dalam pemaparan materi teknis, Junaidi juga menekankan pentingnya literasi sains kebencanaan bagi peserta didik. Ia menjelaskan bahwa gempa bumi merupakan getaran atau guncangan di permukaan bumi yang terjadi akibat pelepasan energi secara tiba-tiba dari dalam bumi.

Ia menguraikan, secara geologis terdapat tiga mekanisme utama yang menyebabkan gempa bumi. Pertama, pergerakan lempeng konvergen atau saling bertabrakan sehingga salah satu lempeng menunjam ke bawah lempeng lainnya dan memicu pelepasan energi. Kedua, pergerakan transform, yakni dua lempeng bergeser secara mendatar dengan arah berlawanan sehingga menimbulkan gesekan yang menghasilkan gempa. Ketiga, pergerakan divergen, ketika dua lempeng saling menjauh dan material dari bawah permukaan bumi naik mengisi celah yang terbentuk sehingga memicu aktivitas seismik.

"Intinya, gempa bumi terjadi akibat pergerakan lempeng bumi yang melepaskan energi secara tiba-tiba sehingga menimbulkan getaran di permukaan. Karena dapat terjadi kapan saja, masyarakat harus selalu waspada dan mengetahui cara melindungi diri," katanya.

Junaidi menilai kolaborasi antara Dinas Dikbud Kabupaten Sumbawa dan FTLM UTS merupakan langkah strategis dalam memperkuat pendidikan kebencanaan di daerah. Sinergi pemerintah daerah dan perguruan tinggi tersebut diharapkan menjadi model pengembangan Sekolah Tanggap Bencana yang dapat direplikasi di seluruh SMP di Kabupaten Sumbawa.

Melalui kerja sama lintas sektor ini, Dinas Dikbud optimistis dapat melahirkan generasi yang memiliki kemampuan beradaptasi, tangguh menghadapi bencana, serta memiliki budaya kesiapsiagaan yang kuat sebagai bagian dari upaya membangun lingkungan pendidikan yang aman dan berkelanjutan di Kabupaten Sumbawa. (Gam) 

Bagikan Berita Ini: