Sumbawa Besar, GaungNUSRA
Wakil Bupati Sumbawa, Drs H Mohamad Ansori mengajak 99 tokoh Tana Samawa, menyatukan pikiran dan gagasan untuk memperkuat nilai serta jati diri masyarakat Sumbawa. Pesan itu disampaikan saat membuka Silatulfikri 99 Tokoh Tana Samawa di Pondok Modern Internasional (PMI) Dea Malela, Jumat (25/9).
Kegiatan yang berlangsung hingga 27 September 2026 tersebut mempertemukan para tokoh dari berbagai latar belakang untuk berdiskusi, bertukar pemikiran, serta menggali nilai-nilai yang selama ini menjadi pegangan hidup masyarakat Tana Samawa.
Pembukaan Silatulfikri turut dihadiri Pengasuh PMI Dea Malela, Prof Dr HM Din Syamsuddin, 99 Tokoh Tana Samawa, siswa-siswi PMI Dea Malela, tokoh agama, budayawan, tokoh masyarakat, Rektor Universitas Samawa (UNSA), serta dua cendekiawan muslim dan pakar ekonomi syariah dari luar negeri.
Pengasuh PMI Dea Malela, Prof Dr HM Din Syamsuddin mengatakan, Silatulfikri menjadi agenda rutin PMI Dea Malela sekaligus bagian dari pengabdian lembaga pendidikan tersebut kepada masyarakat Sumbawa.
Menurut Din Syamsuddin, forum tersebut membuka ruang perjumpaan dan dialog antara berbagai elemen masyarakat. Para peserta dapat menggali kembali nilai-nilai kehidupan yang tumbuh dalam masyarakat Tau Samawa untuk kemudian merumuskannya sesuai kebutuhan zaman.
Ia menjelaskan Silatulfikri sebelumnya telah menghasilkan sejumlah rumusan penting. Pada 2024, forum tersebut melahirkan Parenti Kalanis yang menjadi salah satu rumusan nilai sebagai pegangan hidup masyarakat Tana Samawa.
Kemudian, Silatulfikri Pulau Sumbawa 2025 melahirkan Piagam Olat Utuk yang mengikat semangat persaudaraan dan kebersamaan masyarakat Pulau Sumbawa.
Tahun ini, Silatulfikri 99 Tokoh Tana Samawa mengangkat tema “Sampanang Parenti Kalanis”. Tema tersebut mendorong peserta untuk mengembangkan, memperkuat, dan menghidupkan nilai-nilai yang telah dirumuskan sebelumnya agar tetap relevan dengan kehidupan masyarakat.
Nilai tersebut juga diarahkan untuk diterapkan dalam berbagai lingkungan, termasuk dunia pendidikan. Dengan demikian, pembahasan tidak berhenti pada pemaknaan nilai secara konseptual, tetapi dapat diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari.
Wakil Bupati Sumbawa, H Ansori mengatakan Silatulfikri tidak sekadar menjadi forum pertemuan para tokoh. Menurutnya, kegiatan tersebut membuka ruang untuk mempertemukan pemikiran dan gagasan dalam menjawab pertanyaan mengenai identitas masyarakat Sumbawa serta nilai yang akan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Ia menilai istilah Silatulfikri sangat tepat untuk menggambarkan forum tersebut karena kegiatan itu mempertemukan pemikiran 99 tokoh Tana Samawa dalam satu ruang dialog.
“Silatulfikri menjadi ruang untuk mempertemukan pikiran dan gagasan tentang siapa kita sebagai masyarakat Sumbawa dan nilai apa yang hendak kita wariskan kepada generasi mendatang,” kata Ansori.
Ansori menegaskan pembangunan Sumbawa tidak cukup hanya mengandalkan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan fisik. Pemerintah juga perlu memperhatikan kualitas manusia yang tumbuh bersama perkembangan daerah.
Karena itu, ia mendorong generasi muda Sumbawa memiliki kemampuan untuk bersaing di tingkat global tanpa meninggalkan akar budaya. Kemajuan pendidikan dan penguasaan pengetahuan, kata dia, harus berjalan bersama pemahaman terhadap identitas dan nilai luhur Tau Samawa.
Ansori juga meminta hasil pembahasan Silatulfikri tidak berhenti sebagai catatan atau notulensi kegiatan. Ia berharap forum tersebut menghasilkan rumusan nilai yang jelas, rasional, mudah dipahami, dan relevan dengan perkembangan zaman.
Menurutnya, masyarakat perlu terus menyaring dan menghidupkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Proses itu diperlukan agar nilai budaya tidak hanya menjadi warisan masa lalu, tetapi tetap memiliki ruang dalam kehidupan masyarakat di tengah perubahan sosial yang berlangsung cepat.
Dalam kegiatan tersebut, peserta juga menyaksikan video sambutan Sultan Sumbawa Muhammad Kaharuddin IV. Dalam pesannya, Sultan menekankan pentingnya menjaga semangat Basa Totang sebagai nilai kebersamaan dan persaudaraan masyarakat Sumbawa.
Sultan mengajak masyarakat terus memelihara semangat saling setotang. Menurutnya, nilai tersebut perlu diperkuat sebagai bagian dari upaya menjaga persatuan, eksistensi, dan jati diri Tau Samawa di tengah perubahan zaman.
Sementara itu, Syekh Mustofa, cendekiawan muslim dan pakar ekonomi syariah dari Mesir, menyampaikan apresiasi terhadap penyelenggaraan Silatulfikri 99 Tokoh Tana Samawa.
Ia menilai forum tersebut memberikan ruang bagi para pemikir dan masyarakat untuk bertemu serta bertukar gagasan. Menurutnya, dialog seperti itu dapat memperkuat hubungan antarelemen masyarakat sekaligus membuka ruang untuk memahami nilai budaya secara lebih luas.
Syekh Mustofa juga mengapresiasi adat istiadat masyarakat Sumbawa. Ia menilai sejumlah nilai yang berkembang dalam kehidupan masyarakat Sumbawa memiliki keselarasan dengan prinsip-prinsip syariah dan ajaran yang terdapat dalam Kitab Allah.
Silatulfikri 99 Tokoh Tana Samawa berlangsung selama tiga hari hingga 27 September 2026 dengan menghadirkan para tokoh dari berbagai latar belakang. Forum tersebut membahas nilai-nilai Tau Samawa melalui pertukaran gagasan, pengalaman, serta pemikiran dari para peserta. (Gad)