PT GAUNG NUSRA MEDIA AMANAH

Petaka Jaring Ikan, Pasutri Tewas Tenggelam

Keheningan sore di Dusun Bermang Desa Luk Kecamatan Rhee, berubah menjadi kepanikan luar biasa. Sepasang suami istri (pasutri) asal Dusun Suka Damai Desa Labuhan Badas, ditemukan tewas setelah tergulung ombak saat menjaring ikan di kawasan Pantai Sentigi.

E
Penulis Editor
Tanggal 31 Mar 2026, 16:33 WITA
Petaka Jaring Ikan, Pasutri Tewas Tenggelam
EVAKUASI -- Tim gabungan saat mengevakuasi jenazah Made Suratyana, suami dari Ni Putu Sutri, yang pertama kali ditemukan tewas di Pantai Sentigi Kecamatan Rhee.

Sumbawa Besar, GaungNUSRA Online

Keheningan sore di Dusun Bermang Desa Luk Kecamatan Rhee, berubah menjadi kepanikan luar biasa. Sepasang suami istri (pasutri) asal Dusun Suka Damai Desa Labuhan Badas, ditemukan tewas setelah tergulung ombak saat menjaring ikan di kawasan Pantai Sentigi. 

Tragedi ini menyisakan duka mendalam setelah sang istri ditemukan mengapung, Senin (30/3). Sementara sang suami, baru berhasil dievakuasi dari dasar laut pada Selasa (31/3).

Kapolres Sumbawa melalui Kapolsek Rhee, Ipda Romy Octavian Munir SH yang dikonfirmasi mengatakan, petaka bermula pada Senin siang sekitar pukul 13.00 Wita. Korban, Ni Putu Sutri (38), sempat mengajak adiknya untuk pergi menjaring ikan. Namun, ajakan itu ditolak, sehingga ia akhirnya berangkat berdua bersama suaminya, Made Suratyana (38). Siapa sangka, aktivitas sampingan mengisi waktu luang sebagai petani itu menjadi perjalanan terakhir bagi keduanya.

​Keberadaan korban pertama kali terendus oleh Janaria, seorang warga yang tengah memancing cumi di pesisir pantai sekitar pukul 17.00 Wita. Di tengah deburan ombak, ia tersentak melihat sesosok tubuh perempuan mengenakan pakaian lengkap, terombang-ambing tak berdaya di bibir pantai.

​"Saksi melihat tubuh korban sudah dalam kondisi mengapung. Ia langsung berteriak memanggil warga dan melapor ke pihak kepolisian," ujar Romy.

​Jenazah Ni Putu Sutri segera dievakuasi ke Puskesmas Rhee. Hasil pemeriksaan medis menyatakan tidak ada tanda-tanda kekerasan. Namun sebuah misteri besar menyelimuti lokasi kejadian. Sang suami, Made Suratyana, masih menghilang

Pihaknya kini memberikan imbauan keras kepada masyarakat pesisir. Warga diminta untuk lebih waspada dan mengenali kapasitas diri saat beraktivitas di laut. "Jangan memaksakan diri masuk ke area yang dalam, terutama jika tidak mahir berenang, karena cuaca dan arus laut sulit diprediksi," tegas Romy.

Terpisah, Kepala BPBD Kabupaten Sumbawa, melalui Kabid Kedaruratan dan Logistik, Dr Rusdianto mengatakan, sesaat setelah penemuan sang istri, tim gabungan yang terdiri dari BPBD Kabupaten Sumbawa, TNI, Polri, dan Basarnas langsung bergerak. Namun, pekatnya malam dan minimnya penerangan memaksa pencarian dihentikan sementara dan dilanjutkan pada Selasa pagi pukul 07.00 Wita.

​Dua tim penyelam dikerahkan untuk menyisir titik awal hilangnya korban. 

Ketegangan memuncak saat tim melakukan manuver menggunakan perahu karet di tengah laut yang mulai bergejolak. Setelah penyisiran intensif selama 20 menit, titik terang akhirnya muncul. Jenazah Made Suratyana ditemukan pada kedalaman sekitar 3 meter di dasar laut sekitar pukul 09.30 Wita.

​"Korban ditemukan tidak jauh dari titik awal dilaporkan hilang. Berdasarkan keterangan saksi dan pihak keluarga, kedua korban diketahui tidak memiliki kemampuan berenang. Diduga kuat, mereka terseret arus saat sedang menjaring ikan dan tidak mampu menyelamatkan diri," jelas Dr Rusdianto.

​Kepergian pasutri ini menjadi pukulan berat bagi keluarga besar di Desa Labuhan Badas. Penyesalan mendalam menyelimuti sang adik yang sebelumnya menolak ajakan korban. Karena, ia tidak menyangka bahwa itu adalah permintaan terakhir sang kakak. Pihak keluarga telah mengikhlaskan kejadian ini sebagai musibah murni dan menolak untuk dilakukan otopsi lebih lanjut. (Gar)

Bagikan Berita Ini: