PT GAUNG NUSRA MEDIA AMANAH

Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan Kawasan Samota Terkendala Infrastruktur

Pengembangan pariwisata berkelanjutan di kawasan Samota, Kabupaten Sumbawa, dinilai memiliki potensi besar menjadi destinasi wisata kelas dunia.

E
Penulis Editor
Tanggal 19 May 2026, 02:38 WITA
Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan Kawasan Samota Terkendala Infrastruktur
Ilustrasi: Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan Kawasan Samota Terkendala Infrastruktur

Sumbawa Besar, GaungNUSRA Online 

Pengembangan pariwisata berkelanjutan di kawasan Samota, Kabupaten Sumbawa, dinilai memiliki potensi besar menjadi destinasi wisata kelas dunia. Namun, keterbatasan infrastruktur dan akses transportasi, masih menjadi kendala utama dalam mendorong percepatan pertumbuhan sektor tersebut.

Kepala Bapperida Kabupaten Sumbawa, Dr Dedy Heriwibowo, mengatakan kawasan Samota memiliki kekayaan destinasi wisata unggulan yang mampu mendukung visi pariwisata NTB mendunia. Salah satu ikon yang kini menjadi perhatian wisatawan mancanegara adalah wisata hiu paus.

“Dalam dua tahun terakhir, tingkat kunjungan wisatawan mancanegara sangat tinggi. Bahkan pada bulan-bulan tertentu jumlah wisatawan asing lebih banyak dibanding wisatawan domestik. Ini membuktikan hiu paus menjadi daya tarik wisata yang sangat potensial,” ujarnya, Senin (18/5).

Selain hiu paus, kawasan Samota juga memiliki sejumlah destinasi unggulan lain seperti Pulau Moyo dan Gunung Tambora. Pulau Moyo dikenal luas sebagai destinasi eksklusif yang pernah dikunjungi sejumlah tokoh dunia dan artis internasional. Sementara Tambora memiliki nilai historis dan fenomena alam yang mendunia.

Menurut Dedy, peringatan “Tambora Menyapa Dunia” menjadi pengingat besarnya dampak letusan Tambora terhadap peradaban dunia. Potensi tersebut, kata dia, menjadi modal besar untuk mendorong kawasan Samota sebagai destinasi wisata unggulan nasional hingga internasional.

“Kita punya potensi luar biasa. Samota bisa menjadi destinasi wisata kelas dunia, tetapi memang kendala utama sekarang adalah infrastruktur,” katanya.

Ia menjelaskan, akses menuju sejumlah destinasi unggulan di kawasan Samota masih belum terhubung secara optimal. Wisatawan yang ingin menikmati perjalanan dari Pulau Moyo, kawasan hiu paus hingga Tambora harus menempuh perjalanan panjang hingga lima sampai tujuh jam.

“Kondisi ini tentu melelahkan bagi wisatawan sehingga kurang menarik. Karena itu, konektivitas jalan menjadi sangat penting,” jelasnya.

Pemerintah daerah, lanjut Dedy, mendorong pembangunan akses jalan Samota hingga Dermaga Ai Bari serta konektivitas menuju Tambora. Dimana saat ini masih ada sekitar 1,5 kilometer jalan di kawasan tersebut yang belum terbangun. Jika akses tersebut terhubung, maka perjalanan wisata akan lebih efisien. Karena berbagai destinasi unggulan, dapat dijangkau dalam satu jalur perjalanan.

Ia optimistis pembangunan akses tersebut akan memicu pertumbuhan ekonomi baru di kawasan pesisir Samota. Kehadiran hotel, vila dan resort diperkirakan akan berkembang di sepanjang jalur wisata tersebut.

“Kalau akses ini tersambung, kawasan Samota bisa menjadi the next Labuan Bajo. Kita berada di tengah jalur wisata Indonesia timur, sehingga dapat melengkapi konektivitas wisata dari Bali, Mandalika, Pulau Moyo, Tambora hingga Labuan Bajo,” ungkapnya.

Menurutnya, pengembangan Samota juga akan memperkaya jalur destinasi wisata nasional dan memperkuat posisi NTB, dalam konstelasi pariwisata Indonesia bagian timur.

Selain pembangunan jalan, pemerintah juga mendorong pengembangan transportasi udara dan pelabuhan sebagai bagian dari percepatan konektivitas kawasan wisata.

“Keberadaan infrastruktur jalan, transportasi laut dan udara sangat mendesak untuk mendukung pertumbuhan ekonomi wilayah sekaligus pengembangan pariwisata berkelanjutan,” katanya.

Disisi lain, Pemkab Sumbawa juga mulai merintis kawasan konservasi hiu paus berbasis ekosistem. Upaya tersebut dilakukan sebagai bagian dari pendekatan pengembangan pariwisata berkelanjutan, yang tetap memperhatikan aspek konservasi lingkungan.

Untuk mendukung rencana tersebut, pemerintah telah mengusulkan pembangunan akses jalan pada 2027 mendatang. Nilai anggaran proyek diperkirakan mencapai Rp1,5 triliun, termasuk pembangunan dermaga pendukung.

“Tahun depan sudah diusulkan. Mudah-mudahan ada kemampuan fiskal pemerintah karena anggarannya cukup besar. Pemda Sumbawa juga sudah menyiapkan lahan untuk pelabuhan, tinggal pembangunan,” imbuhnya. (Gar)

Bagikan Berita Ini: