Sumbawa Besar, GaungNUSRA Online
Hasil penelitian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), mengungkap laju sedimentasi di kawasan Teluk Saleh Kabupaten Sumbawa, mengalami peningkatan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi tersebut dinilai mulai mengancam ekosistem perairan, terutama terumbu karang dan kualitas air di kawasan teluk.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Sumbawa, Dr Dedy Heriwibowo mengatakan, hasil penelitian BRIN diperoleh melalui pengukuran lapangan terhadap sampel sedimentasi, serta analisis citra satelit untuk memantau pola perubahan rona perairan di Teluk Saleh.
Menurut Dedy, penelitian tersebut memang menunjukkan peningkatan sedimentasi yang cukup tinggi. Namun, BRIN belum menyimpulkan bahwa Teluk Saleh akan rusak total, atau tertutup sedimentasi dalam kurun waktu 10 tahun mendatang.
“Yang terkonfirmasi adalah laju sedimentasi meningkat signifikan. Tetapi tidak ada kesimpulan bahwa 10 tahun lagi Teluk Saleh akan tertutup atau rusak total,” ujarnya, Selasa (12/5).
Ia menjelaskan, dampak sedimentasi mulai terlihat pada kerusakan terumbu karang di sejumlah titik perairan Teluk Saleh. Lumpur yang terbawa aliran sedimentasi menutupi permukaan karang, sehingga mengganggu pertumbuhan dan menyebabkan kerusakan ekosistem bawah laut.
Selain itu, sedimentasi juga berdampak terhadap kualitas air, terutama saat musim hujan. Sebab material sedimentasi yang terbawa aliran sungai diduga mengandung residu pestisida dan zat kimia dari aktivitas pertanian di wilayah hulu.
“Kalau terumbu karang tertutup lumpur, maka karangnya rusak. Sedimentasi juga memengaruhi kualitas air karena membawa sisa-sisa bahan kimia,” katanya.
BRIN juga menemukan pola arus laut di Teluk Saleh yang menyebabkan sedimentasi terkumpul di bagian mulut teluk, yang berada di antara wilayah Kabupaten Sumbawa dan Dompu. Kawasan tersebut dinilai menjadi area paling terdampak, akibat akumulasi lumpur yang terus meningkat.
Dedy menyebutkan, tingginya sedimentasi diduga berkaitan dengan aktivitas penanaman jagung monokultur di wilayah perbukitan dan daerah hulu aliran sungai yang bermuara ke Teluk Saleh. Tanaman jagung dinilai tidak memiliki daya tahan kuat dalam menahan air dan erosi tanah, terutama di lahan dengan tingkat kemiringan tinggi.
Karena itu, Pemerintah Kabupaten Sumbawa terus mendorong upaya pengendalian erosi melalui program Sumbawa Hijau Lestari. Salah satu langkah yang dilakukan yakni penerbitan surat edaran Bupati terkait larangan penanaman jagung di kawasan hutan.
Kebijakan tersebut bertujuan mengembalikan tutupan vegetasi pohon besar di kawasan hutan, agar mampu menahan laju erosi dan mengurangi sedimentasi dalam jangka panjang.
Selain itu, pemerintah juga mendorong penerapan sistem terasering di lahan pertanian dengan kemiringan di atas 15 persen. Pola tanam tersebut dinilai efektif mengurangi aliran permukaan air yang memicu erosi tanah.
“Kalau di wilayah dengan kemiringan tinggi, pola tanamnya harus memperhatikan sistem terasering supaya air tidak langsung menjadi run off yang menyebabkan erosi,” jelasnya.
Meski sedimentasi meningkat, Dedy mengatakan kondisi tersebut sejauh ini belum berdampak signifikan terhadap keberadaan hiu paus di Teluk Saleh. Bahkan, perubahan suhu laut akibat perubahan iklim disebut memicu peningkatan produksi biota laut, termasuk udang yang menjadi salah satu sumber makanan hiu paus.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa ancaman sedimentasi tetap harus diantisipasi sejak dini. Agar tidak menimbulkan dampak lebih besar terhadap ekosistem Teluk Saleh di masa mendatang. (Gar)