PT GAUNG NUSRA MEDIA AMANAH

Organisasi Pemuda Jadi Benteng Narkoba di KSB

Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat, mulai memperkuat strategi pencegahan penyalahgunaan narkotika dengan memperbanyak ruang aktivitas positif bagi generasi muda. Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora) KSB

E
Penulis Editor
Tanggal 13 Aug 2026, 17:55 WITA
 Organisasi Pemuda Jadi Benteng Narkoba di KSB
Tekan Penyalahgunaan Narkoba di Kalangan Pemuda, Disparpora KSB Perbanyak Ruang Aktivitas Positif

Sumbawa Barat, GaungNUSRA

Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat, mulai memperkuat strategi pencegahan penyalahgunaan narkotika dengan memperbanyak ruang aktivitas positif bagi generasi muda. Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora) KSB, mendorong pemuda aktif dalam organisasi, olahraga, kegiatan sosial, hingga komunitas keagamaan.

Langkah itu dinilai penting untuk membangun lingkungan pergaulan yang sehat sekaligus mengurangi ruang bagi pemuda terlibat dalam aktivitas negatif.

Kepala Disparpora KSB melalui Kepala Bidang Pemuda dan Olahraga, Rizky, mengatakan organisasi kepemudaan dapat menjadi salah satu sarana efektif untuk mengarahkan energi anak muda. Menurutnya, pemerintah tidak cukup hanya mengandalkan penindakan ketika persoalan narkotika sudah terjadi.

“Pemuda harus memiliki wadah untuk berkegiatan. Kami berharap mereka aktif di KNPI, Karang Taruna desa, remaja masjid, hingga klub olahraga,” kata Rizky, Rabu (12/8).

Rizky menjelaskan, keterlibatan pemuda dalam organisasi memberi mereka kesempatan untuk mengembangkan kemampuan, membangun jejaring, sekaligus berkontribusi di tengah masyarakat. Pemerintah desa juga dapat mendorong pembentukan organisasi tersebut melalui Surat Keputusan Kepala Desa.

Dari organisasi itu, pemuda dapat menyusun berbagai kegiatan dan mengusulkan program yang sesuai dengan kebutuhan lingkungan masing-masing.

Disparpora melihat pendekatan tersebut sebagai bagian dari pencegahan jangka panjang. Pasalnya, data Badan Narkotika Nasional (BNN) Sumbawa Barat menunjukkan kelompok pemuda masih menjadi kelompok yang rentan terhadap penyalahgunaan narkotika.

Dari 44 pasien yang menjalani rehabilitasi, sebanyak 33 orang tercatat berasal dari kalangan pemuda.

Rizky menyebut rasa ingin tahu, keinginan mencoba, serta pengaruh lingkungan menjadi sejumlah faktor yang membuat pemuda rentan terjerumus dalam penyalahgunaan narkotika. Karena itu, pemerintah ingin membangun lingkungan yang mampu memberikan alternatif kegiatan bagi mereka.

“Pencegahan harus dimulai dari keluarga. Setelah itu lingkungan RT, kelurahan, sampai lingkup yang lebih luas. Kepedulian lingkungan sangat penting,” ujarnya.

Selain menggerakkan organisasi kepemudaan, Disparpora juga berkoordinasi dengan kepolisian untuk memperketat pengawasan terhadap jalur masuk narkotika ke wilayah KSB. Pemerintah juga mendorong pencegahan berbasis komunitas agar masyarakat ikut mengambil peran.

Disparpora bersama Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) KSB juga menyiapkan rencana kerja pencegahan narkotika. Salah satu langkah yang akan diperkuat yakni optimalisasi Tim TP4GN.

Rizky mengakui program khusus pemerintah daerah belum dapat berjalan maksimal karena anggaran baru akan tersedia secara penuh pada tahun depan. Namun, kondisi tersebut tidak menghentikan kegiatan kepemudaan.

Disparpora tetap menjalankan program melalui kolaborasi dengan organisasi perangkat daerah, organisasi masyarakat, komunitas pemuda, dan pihak swasta.

Menurut Rizky, penanganan persoalan narkotika membutuhkan kerja bersama. Pemerintah, aparat penegak hukum, lembaga pendidikan, organisasi kepemudaan, keluarga, dan masyarakat harus menjalankan peran masing-masing.

“Penanganan narkoba tidak bisa dilakukan satu pihak. Semua harus bergerak bersama,” tegasnya. (Gbw)



Bagikan Berita Ini: