PT GAUNG NUSRA MEDIA AMANAH

NTB Jadi Lokasi Penelitian PHOTON untuk Cegah TBC

Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menjadi salah satu lokasi pelaksanaan studi Prevention of Household Tuberculosis with Optimal Nutrition (PHOTON).

E
Penulis Editor
Tanggal 09 Oct 2026, 16:06 WITA
NTB Jadi Lokasi Penelitian PHOTON untuk Cegah TBC
Didukung Gates Foundation, NTB Jadi Lokasi Studi Internasional PHOTON Cegah TBC Lewat Intervensi Nutris

 Mataram, Gaung Nusra

Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menjadi salah satu lokasi pelaksanaan studi Prevention of Household Tuberculosis with Optimal Nutrition (PHOTON), sebuah penelitian berskala nasional dan internasional yang menguji efektivitas intervensi nutrisi dalam mencegah risiko tuberkulosis (TBC) pada anggota keluarga yang tinggal serumah dengan pasien TBC.

Pelaksanaan studi di Pulau Lombok akan mencakup wilayah Lombok Barat, Lombok Tengah, dan Lombok Timur.

Pemerintah Provinsi NTB menyambut baik rencana pelaksanaan studi tersebut karena dinilai dapat memperkuat upaya pencegahan dan penanggulangan TBC, khususnya melalui intervensi nutrisi bagi keluarga yang tinggal serumah dengan pasien.

Hal tersebut disampaikan Sekretaris Daerah (Sekda) NTB Abul Chair, didampingi Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB saat menerima audiensi tim Universitas Indonesia (UI) melalui Science Techno Park Universitas Indonesia di Ruang Sekda NTB, Rabu (7/10).

Audiensi tersebut menjadi bagian dari koordinasi awal untuk memperkenalkan studi PHOTON, menyampaikan rencana penelitian di Lombok, sekaligus menjajaki dukungan dan kolaborasi dengan Pemerintah Provinsi NTB.

Pimpinan tim penelitian PHOTON Prof Dr dr Rina Agustina MGizi, menjelaskan penelitian tersebut mendapat dukungan pendanaan dari Gates Foundation dan sejumlah mitra pendanaan internasional lainnya, serta dukungan dan pendampingan dari Kementerian Kesehatan RI.

Menurut Rina, PHOTON merupakan penelitian berskala besar yang bertujuan mengukur efektivitas pemberian suplementasi nutrisi dalam menurunkan risiko kejadian TBC pada kontak serumah pasien TBC.

“Tujuannya kita ingin mengukur efektivitas atau manfaat pemberian suplementasi nutrisi yang diberikan selama enam bulan,” jelasnya.

Dalam pelaksanaannya, peserta penelitian akan dibagi menjadi empat kelompok intervensi, yakni kelompok kontrol, kelompok yang mendapatkan vitamin, kelompok vitamin dan mineral, serta kelompok yang mendapatkan vitamin dan mineral disertai makanan berenergi dan berprotein.

Intervensi diberikan selama enam bulan. Setelah itu, peserta akan diikuti hingga 24 bulan.

Secara keseluruhan, penelitian direncanakan berlangsung selama lima tahun dengan pemeriksaan yang meliputi aspek biologis, biomarker, antropometri, status gizi, hingga analisis cost effectiveness.

Studi PHOTON akan dilaksanakan di Indonesia dan Tanzania. Di Indonesia, penelitian melibatkan lebih dari 42.000 partisipan yang tersebar di sejumlah wilayah, antara lain Jakarta, Depok, Bogor, dan Lombok.

Rina menegaskan, pasien TBC bukan menjadi subjek utama penelitian. Fokus penelitian diarahkan kepada anggota keluarga yang tinggal serumah dengan pasien TBC sebagai kelompok yang memiliki risiko terpapar.

“Yang menjadi fokus adalah keluarganya,” ujarnya.

Saat ini pelaksanaan studi masih berada pada tahap pengurusan ethical approval dan berbagai perizinan. Setelah seluruh proses selesai, sosialisasi dan community engagement akan dilakukan di tingkat nasional maupun daerah.

Rina mengatakan, Kementerian Kesehatan juga telah memberikan dukungan terhadap penelitian tersebut dan mendorong agar PHOTON menjadi bagian dari penelitian berskala nasional.

Pelaksanaan di daerah nantinya melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk komunitas, tenaga kesehatan, organisasi masyarakat, serta jejaring yang memiliki pengalaman dalam penanganan TBC dan program kesehatan masyarakat.

Menanggapi rencana tersebut, Sekda NTB Abul Chair menyambut baik pelaksanaan penelitian PHOTON. Ia berharap seluruh proses perizinan dapat berjalan lancar dan penelitian tersebut memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Menurutnya, tantangan penanganan TBC bukan hanya berkaitan dengan aspek medis, tetapi juga pemahaman masyarakat mengenai risiko penularan.

“TBC seperti aib. Semakin ditutupi, semakin tidak selesai,” ujarnya.

Karena itu, Abul Chair meminta pelaksanaan PHOTON di lapangan melibatkan masyarakat secara luas, mulai dari RT, RW hingga tokoh masyarakat.

Pelibatan masyarakat dinilai penting agar warga memahami bahwa risiko TBC tidak hanya dirasakan oleh orang yang sakit, tetapi juga anggota keluarga dan lingkungan sekitarnya.

Ia juga mendorong agar edukasi mengenai TBC disampaikan dengan memanfaatkan kearifan lokal serta bahasa daerah yang mudah dipahami masyarakat.

“Harus mampu memberikan pemahaman dan manfaat nyata terkait risiko bagi masyarakat,” ujarnya.

Selain itu, Sekda mendorong agar intervensi PHOTON dapat dikaitkan dengan program Desa Berdaya sebagai bagian dari kolaborasi program Pemerintah Provinsi NTB.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyoroti pentingnya penguatan integrasi data antara fasilitas pelayanan kesehatan, termasuk rumah sakit dan puskesmas.

Menurutnya, koneksi data akan membantu pemerintah melakukan intervensi berdasarkan kondisi dan kebutuhan di lapangan, meski hal tersebut membutuhkan kebijakan serta koordinasi lintas pemerintah provinsi dan kabupaten/kota.

Lombok Barat disebut menjadi salah satu wilayah potensial untuk lokasi percontohan karena ketersediaan data dan jejaring pelayanan kesehatan yang dinilai telah berjalan baik.

Pemerintah kabupaten juga didorong memanfaatkan data yang telah terkumpul sebagai dasar dalam menentukan intervensi bagi masyarakat yang berisiko. (Gad/Hms)



Bagikan Berita Ini: