PT GAUNG NUSRA MEDIA AMANAH

Nimung Rame, Menjaga Warisan Budaya Sumbawa

Festival Nimung Rame di Kecamatan Lopok, kembali menghidupkan salah satu tradisi masyarakat Sumbawa yang berkaitan erat dengan kehidupan pertanian.

E
Penulis Editor
Tanggal 21 Aug 2026, 17:34 WITA
 Nimung Rame, Menjaga Warisan Budaya Sumbawa
Bupati Sumbawa, Ir H Syarafuddin Jarot MP, saat menghadiri kegiatan Nimung Rame di Kecamatan Lopok.

Sumbawa Besar, GaungNUSRA 

Festival Nimung Rame di Kecamatan Lopok, kembali menghidupkan salah satu tradisi masyarakat Sumbawa yang berkaitan erat dengan kehidupan pertanian. Pemerintah Kabupaten Sumbawa mendorong masyarakat, terutama generasi muda, untuk mengambil peran dalam menjaga dan meneruskan tradisi tersebut agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

Bupati Sumbawa, Ir H Syarafuddin Jarot MP, menghadiri Festival Nimung Rame yang berlangsung di Kantor Camat Lopok, Rabu (19/8). Pemerintah Kecamatan Lopok menggelar festival tersebut sebagai bagian dari rangkaian perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, sekaligus sebagai ruang untuk memperkenalkan kembali tradisi dan budaya Sumbawa kepada masyarakat.

Festival berlangsung semarak. Jajaran Pemerintah Kecamatan Lopok bersama Forkopimcam, para kepala desa, tokoh agama, tokoh masyarakat, masyarakat umum, dan generasi muda ikut terlibat dalam kegiatan tersebut.

Bupati Sumbawa mengapresiasi Camat Lopok beserta seluruh jajaran Forkopimcam dan para kepala desa yang ikut menyukseskan kegiatan. Menurutnya, keterlibatan berbagai unsur masyarakat menunjukkan kuatnya semangat gotong royong dalam menjaga tradisi lokal.

“Apresiasi kepada Bu Camat terutama dengan seluruh jajaran Forkopimcam dan seluruh kepala desa. Acara ini tidak mungkin bisa terselenggara dengan semarak tanpa kontribusi yang kuat dari semua pihak,” ujar Bupati Sumbawa.

Bagi Bupati, Nimung Rame memiliki nilai budaya yang kuat karena lahir dari kehidupan masyarakat agraris Sumbawa. Tradisi tersebut tidak hanya menghadirkan makanan tradisional, tetapi juga menyimpan pengetahuan masyarakat tentang pertanian, lingkungan, kebersamaan, dan rasa syukur atas hasil panen.

Nimung merupakan makanan tradisional yang pengolahannya menggunakan bambu. Masyarakat menjalankan proses pembuatan Nimung sebagai bagian dari tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.

Karena itu, Bupati meminta masyarakat tidak membiarkan keterampilan membuat Nimung hanya dikuasai generasi tua. Ia mendorong generasi muda untuk terlibat langsung dalam setiap proses agar mereka mengenal cara mengolah sekaligus memahami nilai yang terkandung dalam tradisi tersebut.

“Melalui festival ini kita berharap orang-orang tua jangan terlalu dominan dalam membungkus, mencampur dan menyiram. Anak-anak muda harus diajarkan, sehingga ketika mereka nanti tua dan ibu, kakek, atau nenek mereka sudah tidak ada, masih ada yang pintar membuat timung,” tukasnya.

Menurut Bupati, proses regenerasi menjadi bagian penting dalam pelestarian budaya. Masyarakat perlu memberi ruang kepada anak-anak dan kaum muda untuk belajar dari para pelaku tradisi. Dengan cara itu, pengetahuan mengenai Nimung tidak berhenti ketika generasi yang selama ini menguasainya tidak lagi mampu menjalankan tradisi tersebut.

Bupati juga menghubungkan Nimung Rame dengan kehidupan pertanian masyarakat Sumbawa. Ia menyebut tradisi tersebut sebagai salah satu bentuk rasa syukur atas hasil pertanian, khususnya tanaman pangan dan padi.

“Tidak mungkin ada timung tanpa padi, tidak mungkin ada padi tanpa lahan pertanian. Tidak mungkin lahan pertanian bisa berproduksi tanpa air, dan tidak mungkin ada air kalau tanpa hutan,” jelasnya.

Rangkaian tersebut, kata dia, menunjukkan hubungan erat antara budaya, pertanian, air, dan kelestarian lingkungan. Karena itu, masyarakat tidak cukup hanya menjaga tradisi dalam bentuk pelaksanaan festival, tetapi juga perlu menjaga sumber daya alam yang menopang kehidupan masyarakat.

Bupati mengajak masyarakat menjaga hutan, sumber mata air, dan lahan pertanian. Ia menilai keberadaan mata air menentukan keberlangsungan pertanian, sementara keberlangsungan pertanian turut menopang tradisi yang lahir dari kehidupan agraris masyarakat Sumbawa.

“Kalau mata air tetap ada maka sawah kita akan subur. Kalau sudah subur maka kita akan panen dengan baik. Kalau panen kita meningkat, salah satu wujud syukur kita adalah dengan Nimung Rame,” tuturnya.

Di tengah perkembangan teknologi, Bupati juga meminta generasi muda memanfaatkan ruang digital untuk memperkenalkan budaya Sumbawa kepada masyarakat yang lebih luas. Ia mendorong anak-anak muda membuat konten kreatif mengenai tradisi, kesenian, makanan, dan berbagai kekayaan budaya daerah.

Menurutnya, media sosial dapat menjadi sarana promosi budaya yang efektif. Generasi muda dapat merekam proses pembuatan Nimung, mendokumentasikan kegiatan adat, serta memperkenalkan berbagai tradisi Sumbawa melalui video pendek dan platform digital lainnya.

“Generasi muda agar lebih kreatif memperkenalkan budaya-budaya dan tradisi-tradisi kita ke dalam dunia digitalisasi. Jangan hanya hal-hal yang lucu atau kontroversial saja yang diekspos, tetapi keunikan daerah kita juga harus diperkenalkan,” pesan Bupati.

Festival Nimung Rame juga menghadirkan penyalaan api sebagai bagian dari rangkaian kegiatan. Masyarakat memaknai api tersebut sebagai simbol semangat perjuangan dan keberanian dalam memperingati Kemerdekaan Republik Indonesia.

Bupati berharap, simbol tersebut turut menguatkan semangat masyarakat dalam menjaga tradisi dan membangun daerah. Ia meminta masyarakat menjadikan festival bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi juga ruang belajar bagi generasi muda.

“Kalau ini sudah menjadi budaya, pastikan bahwa 20 atau 30 tahun ke depan Nimung Rame ini masih ada dan masih banyak orang yang pintar membuatnya. Anak-anak muda harus dilibatkan sejak dini mulai dari sekarang sehingga tidak punah,” tegasnya.

Bupati kemudian membuka secara resmi Festival Nimung Rame Kecamatan Lopok setelah menyampaikan sambutannya. Ia mengajak masyarakat terus menempatkan kekayaan budaya sebagai bagian dari kehidupan dan pembangunan daerah.

“Mari kita jadikan kekayaan budaya sebagai kekuatan untuk membangun Sumbawa yang unggul, maju dan sejahtera,” ujarnya.

Festival Nimung Rame menjadi ruang pertemuan antara generasi tua dan generasi muda. Para generasi tua memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam menjalankan tradisi, sedangkan generasi muda mendapat kesempatan untuk mempelajari, mempraktikkan, dan mengenalkan tradisi tersebut melalui cara yang sesuai dengan perkembangan zaman. (Gad/Hms) 

Bagikan Berita Ini: