Sumbawa Besar, GaungNUSRA Online
Sebuah karya musik terbaru berjudul “Tau Samawa" resmi diperkenalkan sebagai respons kreatif terhadap tantangan pelestarian budaya di era modern. Lagu ini bukan sekadar karya seni, melainkan sebuah medium untuk mentransfer pengetahuan dan nilai-nilai filosofis masyarakat Sumbawa kepada generasi mendatang.
Muhammad Iqbal, atau yang dikenal sebagai Iqbal Sanggo, yang merupakan pencipta serta penyanyi dari lagu tersebut mengungkapkan bahwa lahirnya lagu ini dipicu oleh kegelisahan mendalam terhadap memudarnya eksistensi budaya lokal Sumbawa.
Iqbal Sanggo memperingatkan bahwa tanpa upaya nyata untuk menyuarakannya kembali, budaya Sumbawa terancam punah.
“Nilai-nilai atau pesan-pesan falsafah Tau Samawa (orang Sumbawa, red) yang ditulis oleh orang-orang terdahulu sangat filosofis dan penuh makna. Itu perlu diketahui oleh generasi sekarang sebagai pegangan hidup," Tegasnya.
Bagi Iqbal, budaya adalah akar identitas yang menentukan arah masa depan seseorang.
"Orang yang hilang budayanya, hilang jati dirinya," jelasnya kepada GaungNUSRA pada Minggu (12/4) malam, usai acara Penayangan Perdana Video Musik “Tau Samawa”
Inti dari karya "Tau Samawa" ini berpijak pada prinsip Parenti Kalanis yang mencakup tiga pilar utama, yaitu "To" yang berarti "Tahu" merupakan kemampuan untuk memahami diri sendiri, mengenal batas, dan menempatkan sikap dengan tepat. Kedua, "Ila" yang berarti "Malu" dan juga "Harga Diri". Komitmen menjaga martabat agar terhindar dari tindakan yang dapat mempermalukan diri sendiri maupun lingkungan. Ketiga, "Saling Satingi" yang berarti "Saling Menghormati", sikap luhur dalam memuliakan sesama sebagai wujud penghormatan terhadap diri sendiri.
Secara musikal, lagu ini diperkaya dengan sentuhan budaya lisan yang kental, seperti kesenian Sakeco yang menggunakan rebana serta Tembang Kiak, seni vokal penuh semangat khas Sumbawa.
Tak sendirian, Iqbal Sanggo melantunkan lagu tersebut bersama Muhammad Widi Yantoko. Dirinya yang mengaku sebagai sosok blasteran Solo-Sumbawa, menyebut bahwa kehadirannya merupakan representasi nyata dari lirik lagu tersebut, yaitu “tau ka ada ke tau ka datang" (Orang lokal dan pendatang, red).
"Insyaallah saya fasih bahasa Sumbawa," katanya kepada GaungNUSRA, Minggu (12/4) malam.
Hal ini menunjukkan bahwa identitas kesumbawaan bersifat inklusif bagi siapa saja yang menjunjung tinggi nilai-nilai tanah Samawa.
Widi juga menjelaskan bahwa versi audio lagu ini telah tersedia di berbagai platform musik digital sejak peringatan hari ulang tahun Sumbawa pada 22 Januari lalu. Namun, bagi para penggemar yang menantikan visualisasinya, Widi memberikan kepastian bahwa video musik "Tau Samawa" dijadwalkan rilis secara resmi pada hari ini (12/4,red) melalui seluruh platform video digital.
Kehadiran lagu ini diharapkan menjadi pengingat kolektif bagi seluruh masyarakat untuk tetap bangga dan berpegang teguh pada jati diri mereka. (Gal)