Sumbawa Besar, GaungNUSRA
Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) bukan sekadar mengenalkan peserta didik baru terhadap lingkungan sekolah, tetapi menjadi langkah awal membangun rasa percaya diri, semangat belajar, dan karakter positif anak. Pesan tersebut disampaikan Staf Ahli Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Prof Meiladinia Husni Rahim MH PhD, saat melakukan monitoring pelaksanaan MPLS Ramah di SD Negeri 6 Sumbawa, Senin (13/7).
Kunjungan tersebut dilakukan bersama Kepala Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Provinsi NTB serta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sumbawa yang diwakili Kepala Bidang Pendidikan SD, Muhammad Husnul Alwan SAg MMInov. Monitoring dilakukan untuk memastikan pelaksanaan MPLS berlangsung sesuai kebijakan pemerintah, mengedepankan pendekatan edukatif, serta bebas dari praktik perundungan, kekerasan, maupun perpeloncoan.
Bertindak sebagai pembina upacara, Prof Meiladinia menyampaikan salam dari Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah kepada seluruh warga sekolah di Kabupaten Sumbawa. Ia mengatakan hari pertama sekolah merupakan momen penting yang akan menjadi pengalaman berharga bagi setiap peserta didik.
"Hari ini kami hadir untuk menyapa dan memberikan semangat kepada anak-anak Indonesia yang memulai perjalanan baru di sekolah. Ada yang datang dengan penuh semangat, ada yang masih malu-malu, bahkan ada yang merasa gugup. Semua perasaan itu adalah hal yang wajar. Karena itu, kami ingin memastikan sejak hari pertama setiap anak merasa diterima, dihargai, dilindungi, dan tidak merasa sendirian," ujarnya.
Menurutnya, semangat tersebut menjadi landasan pelaksanaan MPLS Ramah yang mengusung tema Hari Baru, Aman dan Nyaman di Sekolah. Selama lima hari pelaksanaan MPLS, peserta didik diajak mengenal lingkungan sekolah, guru, teman baru, serta membangun kebiasaan positif sebagai bekal dalam proses belajar.
"MPLS bukan sekadar mengenalkan lingkungan sekolah. MPLS adalah awal untuk membangun rasa percaya diri, semangat belajar, dan persahabatan. Manfaatkan kesempatan ini untuk mengenal guru, mengenal teman, dan mulai membangun kebiasaan-kebiasaan baik yang akan menjadi bekal meraih cita-cita," katanya.
Prof Meiladinia menegaskan sekolah harus menjadi ruang yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi seluruh peserta didik. Karena itu, tidak boleh ada kekerasan, perundungan, maupun perpeloncoan yang dapat mengganggu tumbuh kembang anak.
Ia mengajak seluruh siswa menghidupkan semangat Rukun Sama Teman dengan membangun budaya saling menghormati, membantu, menyemangati, dan menjaga satu sama lain tanpa membedakan latar belakang.
Menurutnya, kebiasaan baik dapat dimulai dari tindakan sederhana, seperti menyapa teman baru, mengajak bermain siswa yang masih sendiri, membantu teman yang mengalami kesulitan, serta membiasakan mengucapkan kata "tolong", "maaf", dan "terima kasih". Jika melihat tindakan yang tidak baik terhadap teman, peserta didik juga diimbau segera melaporkannya kepada guru agar dapat ditangani.
"Menjadi murid yang hebat bukan hanya karena nilainya tinggi, tetapi juga karena mampu menjadi teman yang baik," ujarnya.
Ia menambahkan, hari pertama sekolah sering menjadi kenangan yang membekas sepanjang kehidupan seorang anak. Oleh sebab itu, seluruh rangkaian MPLS harus menjadi pengalaman yang hangat, menyenangkan, inklusif, edukatif, serta bebas dari segala bentuk kekerasan.
"Senyum, sapaan, perhatian, dan pendampingan dari guru akan menjadi kesan pertama yang membangun rasa percaya diri murid untuk belajar dan berkembang," katanya.
Prof Meiladinia juga mengingatkan bahwa sekolah yang berkualitas bukan semata-mata diukur dari prestasi akademik, melainkan dari kemampuannya menghadirkan lingkungan yang membuat setiap anak merasa aman untuk belajar, nyaman bertanya, berani mencoba, dan bahagia menjadi dirinya sendiri.
Mengakhiri arahannya, ia mengajak seluruh peserta didik mengawali tahun ajaran baru dengan menanamkan nilai-nilai keimanan, menghormati orang tua dan guru, belajar dengan sungguh-sungguh, hidup rukun dengan teman, serta mencintai tanah air. Menurutnya, nilai-nilai tersebut menjadi fondasi penting dalam membentuk generasi Indonesia yang berkarakter, berprestasi, dan berdaya saing. (Gad)