Sumbawa Barat, GaungNUSRA
Musim kemarau mulai melanda sejumlah wilayah Kabupaten Sumbawa Barat (KSB). Suhu udara yang meningkat dan kondisi lingkungan yang semakin kering memunculkan sejumlah potensi gangguan kesehatan. Namun, hingga saat ini Dinas Kesehatan (Dinkes) KSB belum menemukan lonjakan kasus penyakit yang signifikan.
Kepala Dinkes KSB, dr Carlof Sitompul mengatakan, pihaknya terus memantau perkembangan kondisi kesehatan masyarakat melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR). Sistem tersebut menjadi salah satu instrumen untuk mendeteksi secara dini perubahan pola penyakit di tengah masyarakat.
“Pemantauan SKDR menunjukkan tidak ada lonjakan penyakit hingga saat ini,” kata Carlof, Senin (10/8).
Meski kondisi kesehatan masyarakat masih relatif terkendali, Dinkes KSB meminta warga tidak mengabaikan potensi gangguan kesehatan selama musim kemarau. Perubahan suhu, udara yang lebih kering, serta meningkatnya paparan debu dapat memicu berbagai keluhan, terutama pada kelompok masyarakat yang rentan.
Salah satu penyakit yang perlu diwaspadai adalah Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan influenza. Debu yang beterbangan saat kondisi lingkungan kering dapat mengganggu saluran pernapasan, terutama bagi warga yang memiliki riwayat penyakit pernapasan.
Selain gangguan pernapasan, paparan suhu tinggi juga dapat menyebabkan tubuh kehilangan banyak cairan. Kondisi tersebut dapat memicu dehidrasi dan kelelahan akibat panas atau heat exhaustion. Jika tidak segera ditangani, kondisi itu dapat berkembang menjadi heat stroke, yakni keadaan darurat ketika tubuh kehilangan kemampuan mengatur suhu.
Carlof mengingatkan kelompok rentan agar mendapat perhatian lebih selama cuaca panas. Balita, lanjut usia, ibu hamil, serta warga yang memiliki penyakit kronis termasuk kelompok yang lebih berisiko mengalami gangguan akibat suhu tinggi.
Risiko serupa juga mengancam pekerja yang banyak melakukan aktivitas di luar ruangan. Paparan sinar matahari secara langsung dalam waktu lama dapat meningkatkan kehilangan cairan tubuh dan memicu kelelahan.
Karena itu, Dinkes KSB meminta masyarakat memenuhi kebutuhan cairan tubuh secara teratur. Warga yang beraktivitas di luar ruangan juga dianjurkan tidak menunggu rasa haus untuk minum.
“Jangan menunggu haus baru minum, terutama saat beraktivitas di luar ruangan,” ujar Carlof.
Selain suhu panas, musim kemarau dapat memengaruhi ketersediaan air bersih. Ketika pasokan air terbatas, masyarakat berpotensi mengurangi frekuensi membersihkan tangan, peralatan makan, maupun bahan makanan. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko penyakit yang berkaitan dengan sanitasi, termasuk diare dan tifoid.
Dinkes juga mengingatkan warga agar tidak menyimpan makanan terlalu lama. Suhu udara yang tinggi dapat mempercepat proses kerusakan makanan. Jika masyarakat mengabaikan kebersihan dan keamanan pangan, risiko gangguan pencernaan dapat meningkat.
Gangguan kesehatan selama musim kemarau tidak hanya menyerang saluran pernapasan dan pencernaan. Debu dan udara kering juga dapat menyebabkan iritasi pada kulit serta menimbulkan keluhan pada mata, seperti kemerahan, gatal, dan rasa kering.
Di tengah kondisi tersebut, Dinkes KSB meminta masyarakat tetap mewaspadai Demam Berdarah Dengue (DBD). Musim kemarau dapat mendorong sebagian warga menampung air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Jika wadah penampungan tidak dikelola dengan baik, genangan air tersebut dapat menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti.
Warga diminta rutin menguras dan membersihkan tempat penampungan air serta menutupnya rapat. Langkah tersebut penting untuk mencegah nyamuk berkembang biak di sekitar lingkungan rumah.
Dinkes KSB menegaskan, upaya menjaga kesehatan selama musim kemarau tidak hanya bergantung pada pemantauan pemerintah. Masyarakat juga perlu mengambil langkah pencegahan sejak dini dengan menjaga kebersihan lingkungan, memastikan air dan makanan tetap higienis, serta memenuhi kebutuhan cairan tubuh.
Dengan kewaspadaan bersama, potensi gangguan kesehatan akibat perubahan cuaca diharapkan dapat ditekan. Hingga kini, Dinkes KSB memastikan belum terdapat tanda-tanda peningkatan kasus penyakit yang mengarah pada kondisi luar biasa. (Gbw)