PT GAUNG NUSRA MEDIA AMANAH

Dua Museum Jalin Kajian Manuskrip Kesultanan

Upaya pelestarian sejarah dan literasi budaya di Pulau Sumbawa terus diperkuat. Museum Bala Datu Ranga, resmi menjalin kerja sama dengan Museum Samparaja Bima, dalam pengembangan jaringan kajian manuskrip dua kesultanan

E
Penulis Editor
Tanggal 13 May 2026, 09:25 WITA
Dua Museum Jalin Kajian Manuskrip Kesultanan
Ilustrasi: Dua Museum Jalin Kajian Manuskrip Kesultanan

Bima, GaungNUSRA Online 

Upaya pelestarian sejarah dan literasi budaya di Pulau Sumbawa terus diperkuat. Museum Bala Datu Ranga, resmi menjalin kerja sama dengan Museum Samparaja Bima, dalam pengembangan jaringan kajian manuskrip dua kesultanan, yakni Kesultanan Sumbawa dan Kesultanan Bima.

Kolaborasi tersebut menjadi langkah strategis untuk memperkuat kajian sejarah berbasis manuskrip kuno yang selama ini menyimpan jejak hubungan diplomatik, sosial, dan budaya kedua kesultanan yang telah terjalin selama berabad-abad.

Direktur Museum Bala Datu Ranga, Yuli Andari Merdikaningtyas MA, mengatakan kerja sama itu bertujuan membangun jaringan pengkajian manuskrip lintas kesultanan sekaligus memperkaya khazanah sejarah lokal melalui penguatan arsip teks dan dokumentasi foto.

“Harapannya, kolaborasi ini dapat melahirkan jaringan pengkaji manuskrip antara dua kesultanan sehingga hubungan sejarah antara Sumbawa dan Bima dapat dipahami lebih mendalam dari berbagai aspek,” ujarnya, Senin (11/5).

Menurut Andari, manuskrip kuno bukan sekadar dokumen sejarah, tetapi bagian penting dari identitas budaya yang harus terus dijaga dan dikaji secara berkelanjutan.

Ia menegaskan, penguatan jaringan kelembagaan menjadi salah satu fokus utama kerja sama tersebut. Kedepan, kedua museum juga merencanakan penyelenggaraan kajian koleksi secara mendalam hingga pameran bersama, untuk memperkenalkan warisan sejarah kepada masyarakat luas.

Salah satu manuskrip penting yang menjadi perhatian dalam kerja sama itu adalah Bo Sangaji Kai atau Catatan Harian Kesultanan Bima. Manuskrip koleksi Museum Samparaja tersebut telah ditetapkan sebagai bagian dari Ingatan Kolektif Nasional (IKON) 2024 dan kini tengah diusulkan menuju Memory of The World (MoW) Southeast Asia 2025.

Dokumen bersejarah tersebut dinilai memiliki nilai penting. Karena memuat catatan perjalanan pemerintahan dan hubungan antarkerajaan di kawasan timur Nusantara, termasuk relasi antara Kesultanan Bima dan Kesultanan Sumbawa.

Langkah penguatan kajian manuskrip ini mendapat dukungan Dana Abadi Kebudayaan dari Kementerian Kebudayaan bersama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Dukungan itu memungkinkan tim Museum Bala Datu Ranga melakukan observasi lapangan dan penelusuran berbagai naskah kuno yang tersebar di masyarakat.

Sebagai tahap awal kerja sama, tim Museum Bala Datu Ranga melakukan wawancara dan observasi langsung bersama filolog sekaligus Kepala Museum Samparaja Bima, Dr Dewi Ratna Muchlisa

Dari hasil observasi tersebut ditemukan sejumlah keterkaitan historis antara Kesultanan Sumbawa dan Kesultanan Bima yang tercatat dalam arsip-arsip lama. Temuan itu dinilai membuka peluang penelitian lebih luas mengenai hubungan politik, perdagangan, hingga budaya kedua kesultanan pada masa lampau.

Kerja sama tersebut kemudian diperkuat melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) terkait kajian koleksi antar kedua museum.

Kolaborasi itu diharapkan tidak hanya memperkuat pelestarian manuskrip kuno, tetapi juga menjadi sarana edukasi bagi generasi muda agar lebih mengenal sejarah dan warisan budaya leluhur di Pulau Sumbawa. (Gam/Hms)

Bagikan Berita Ini: