Sumbawa Besar, GaungNUSRA Online
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Sumbawa, mengintensifkan upaya menghadirkan sekolah sebagai ruang yang ramah, aman, dan penuh kasih bagi anak. Langkah ini diwujudkan melalui rangkaian kegiatan peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang digelar pada 29 hingga 30 April 2026. Kegiatan tersebut melibatkan siswa, guru, dan orang tua secara serentak di jenjang SD dan SMP.
Kepala Bidang Pembinaan SMP Dinas Dikbud Kabupaten Sumbawa, Junaidi SPd MPd, mengatakan pendekatan tersebut bertujuan mengubah persepsi sekolah yang selama ini kerap dipandang sekadar tempat belajar formal. Menurutnya, sekolah harus menjadi ruang tumbuh yang menghadirkan empati, perhatian, dan interaksi yang sehat antara anak, guru, dan keluarga.
Rangkaian kegiatan diawali pada 29 April dengan permainan rakyat khas Sumbawa, yang dilaksanakan di lingkungan sekolah. Kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana pelestarian budaya lokal, tetapi juga media membangun kedekatan antara orang tua dan anak melalui aktivitas kolaboratif. Orang tua dilibatkan secara langsung dalam permainan, mendampingi anak-anak mereka selama kegiatan berlangsung.
“Kegiatan ini menjadi media untuk mengakrabkan hubungan antara orang tua, anak, dan guru. Harapannya, interaksi yang terbangun bisa lebih intens dan hangat,” ujar Junaidi.
Selanjutnya, pada 30 April, digelar program “Sejam Bersama Ayah dan Ibu”. Dalam kegiatan ini, orang tua diberikan ruang untuk mendengarkan secara langsung perasaan dan pengalaman anak-anak mereka. Forum ini dirancang sebagai ruang aman bagi anak untuk menyampaikan hal-hal yang selama ini terpendam.
Junaidi menjelaskan, kegiatan tersebut dilatarbelakangi hasil tes sosiometri di tingkat SMP, yang menunjukkan sejumlah perilaku siswa dipicu oleh kurangnya perhatian dan komunikasi dalam keluarga. Bahkan, dari dialog langsung dengan siswa, terungkap banyak anak tidak memiliki ruang untuk bercerita kepada orang tua di rumah.
“Sejam bersama ayah dan ibu adalah bentuk keberpihakan kepada anak. Kita ingin menghadirkan ruang empati di sekolah, agar anak merasa didengar dan dihargai,” katanya.
Hasil pemantauan di lapangan menunjukkan respons emosional yang kuat dari para siswa. Banyak anak terlihat bersimpuh kepada orang tua mereka, terutama ibu, sebagai bentuk pelepasan perasaan yang selama ini terpendam.
Menurut Junaidi, pendekatan ini diharapkan mampu menghapus kesan sekolah sebagai tempat yang kaku dan formal. Sebaliknya, sekolah perlu menghadirkan nuansa cinta dan kasih sayang, agar anak merasa nyaman dan terlindungi.
“Sekolah harus menjadi ruang yang memberikan nuansa cinta. Anak harus merasa aman, baik di sekolah maupun di rumah. Ini tanggung jawab bersama antara guru dan orang tua,” tegasnya.
Pada malam harinya, kegiatan dilanjutkan dengan “Malam Seribu Cahaya”. Agenda ini menjadi simbol komitmen bersama dalam memberikan perlindungan kepada anak dari berbagai pengaruh negatif. Melalui kegiatan tersebut, seluruh elemen pendidikan diajak untuk memperkuat kolaborasi dalam menjaga tumbuh kembang anak.
Junaidi menekankan bahwa tantangan terhadap anak tidak hanya datang dari aspek pendidikan, tetapi juga dari berbagai faktor eksternal yang berpotensi merusak. Karena itu, diperlukan kesadaran kolektif untuk menghadirkan lingkungan yang mendukung perkembangan positif anak.
Dalam jangka panjang, Dikbud Sumbawa berharap pendekatan ini mampu menciptakan ekosistem pendidikan yang humanis. Dimana sekolah benar-benar menjadi tempat yang ramah dan berpihak pada anak.
“Mari kita kembali merebut dimensi humanisme. Seperti ajaran Ki Hajar Dewantara, Tut Wuri Handayani, pendidikan sejatinya adalah memanusiakan manusia,” imbuhnya. (Gar)