Sumbawa Barat, GaungNUSRA – Di halaman sebuah rumah di Desa Tatar, Kecamatan Sekongkang, Kabupaten Sumbawa Barat, sekelompok perempuan dengan telaten mengolah nasi dan bahan-bahan alami yang tersedia di sekitar mereka menjadi larutan Mikroorganisme Lokal (MOL), salah satu bahan yang digunakan untuk mendukung budidaya pertanian organik.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari perluasan Program Pengembangan Pertanian Organik yang diinisiasi PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN) bersama Aliksa Organik SRI Consultant. Setelah diterapkan di Desa Maluk dan Desa Benete, Kecamatan Maluk, program kini dikembangkan di Desa Tatar dengan melibatkan Kelompok Wanita Tani (KWT) Mawar Merah dan petani milenial sebagai penggerak utama.

Perluasan ini dilakukan setelah penerapan metode System of Rice Intensification (SRI) Organik memberikan hasil positif di Desa Maluk dan Desa Benete, Kecamatan Maluk. Pada fase pertama di kedua desa tersebut, produktivitas panen padi mencapai rata-rata 7,34 ton per hektare, meningkat dari 4 ton per hektare dengan metode konvensional yang sebelumnya diterapkan. Capaian ini menunjukkan potensi pertanian organik dalam meningkatkan produktivitas sekaligus mendukung pemulihan kualitas tanah.
Di Desa Tatar, program akan dikembangkan pada lahan seluas 142 are atau 1,42 hektare untuk periode budidaya Desember 2026 hingga Maret 2027. Lahan tersebut akan dimanfaatkan untuk pengembangan Padi SRI Organik, Sayuran Organik Keluarga (SORGA), serta Tanaman Obat Keluarga (TOGA).
Senior Manager Social Impact AMMAN, Aji Suryanto, menjelaskan bahwa program ini tidak hanya berfokus pada perubahan metode budidaya, tetapi juga pada peningkatan struktur ekonomi rumah tangga petani melalui penerapan Pertanian Sehat, Ramah Lingkungan, dan Berkelanjutan (PSRLB).
“Program ini tidak hanya memperkenalkan teknik pertanian organik, tetapi juga mendorong petani agar semakin percaya pada kemampuan dan sumber daya yang mereka miliki. Ketika masyarakat mampu memproduksi kompos dan MOL secara mandiri, mereka tidak hanya dapat menekan biaya produksi, tetapi juga mulai membangun sistem pertanian yang lebih sehat dan berkelanjutan. Kami berharap pengetahuan ini terus berkembang dan memberi manfaat bagi semakin banyak keluarga petani di Desa Tatar,” ujar Aji, Kamis (29/10).
Untuk membangun kemampuan tersebut, sebanyak 84 peserta mengikuti Pelatihan Ekologi Tanah (PET) pada 4–10 Oktober 2026. Pengetahuan dari pelatihan kemudian mulai diterapkan melalui pembangunan Rumah MOL dan Rumah Kompos Komunal, yang menjadi ruang bersama bagi masyarakat untuk memproduksi pupuk dan nutrisi tanaman organik secara mandiri.
Keterlibatan perempuan menjadi salah satu kekuatan dalam pengembangan program di Desa Tatar. Ketua Presidium Pertanian Organik Desa Tatar, Nikmah, mengatakan bahwa praktik sederhana seperti memanfaatkan nasi sisa telah membuka perspektif baru mengenai potensi sumber daya yang selama ini tersedia di sekitar rumah.
“Dulu kami melihat nasi sisa dan bahan-bahan di sekitar rumah hanya sebagai sesuatu yang tidak terpakai. Sekarang kami belajar bahwa semuanya dapat diolah dan memberi manfaat bagi tanaman. Pengetahuan ini membuat kami semakin bersemangat karena ternyata perempuan juga bisa belajar, menghasilkan sesuatu, dan membawa perubahan bagi pertanian di desa kami,” ujar Nikmah.
Selain penguatan kapasitas petani, pendampingan di Desa Tatar juga melibatkan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP), sementara Maluk Ecopiles direncanakan mendukung akses pemasaran produk pertanian organik. Pelibatan akademisi juga terbuka untuk memperkuat validasi ilmiah terhadap praktik-praktik yang diterapkan.
Dengan keterlibatan perempuan tani, petani muda, pemerintah, dan mitra lokal, pengembangan pertanian organik di Desa Tatar diarahkan tidak hanya untuk menghasilkan panen. Lebih jauh, program ini diharapkan membangun kemampuan masyarakat untuk mengelola sumber daya sendiri, mengurangi ketergantungan terhadap input eksternal, dan memperkuat keberlanjutan pertanian lokal. (Gal)