PT GAUNG NUSRA MEDIA AMANAH

UNSA Latih Warga Olah Hasil Laut Bernilai Tinggi

Potensi hasil laut melimpah di Desa Batu Bangka Kecamatan Moyo Hilir, selama ini belum sepenuhnya memberikan nilai ekonomi optimal bagi masyarakat pesisir.

E
Penulis Editor
Tanggal 07 Aug 2026, 18:04 WITA
 UNSA Latih Warga Olah Hasil Laut Bernilai Tinggi
Tingkatkan Nilai Tambah Hasil Laut, UNSA Bekali Pemuda SKB Batu Bangka Keterampilan Technopreneurship

Sumbawa Besar, GaungNUSRA 

Potensi hasil laut melimpah di Desa Batu Bangka Kecamatan Moyo Hilir, selama ini belum sepenuhnya memberikan nilai ekonomi optimal bagi masyarakat pesisir. Sebagian besar ikan dan udang hasil tangkapan nelayan masih dijual dalam kondisi segar sehingga harga jual sangat bergantung pada kondisi pasar harian. Melihat kondisi tersebut, Universitas Samawa (UNSA) membekali pemuda dan warga belajar Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Batu Bangka dengan keterampilan mengolah hasil laut menjadi produk bernilai tambah melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM).

Pelatihan bertajuk "Diversifikasi Produk Olahan Hasil Laut Berbasis Ekonomi Kreatif bagi Pemuda SKB Batu Bangka dalam Menunjang Keterampilan Vokasional Technopreneurship" itu digelar di Gedung SKB Batu Bangka. Kegiatan merupakan bagian dari hibah Pengabdian kepada Masyarakat tingkat nasional yang didanai Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Tahun 2026.

Tim pelaksana dipimpin Dr Nila Wijayanti SP MSi, dengan anggota Ana Merdekawaty SPd MM dan Ika Fitriani MM. Melalui pelatihan tersebut, peserta tidak hanya diajarkan mengolah hasil laut menjadi aneka produk pangan, tetapi juga dibekali pengetahuan mengenai pengemasan, branding, hingga pemasaran berbasis teknologi.

Ketua Tim PKM, Dr Nila Wijayanti, mengatakan masyarakat pesisir selama ini masih bergantung pada penjualan hasil tangkapan dalam bentuk bahan mentah. Kondisi tersebut menyebabkan harga jual ikan sangat fluktuatif, terutama ketika hasil tangkapan melimpah sementara permintaan pasar terbatas.

Akibatnya, sebagian hasil tangkapan berisiko mengalami penurunan mutu bahkan tidak terjual. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa potensi sumber daya laut yang besar belum sepenuhnya diiringi dengan kemampuan masyarakat dalam menciptakan nilai tambah melalui proses pengolahan.

"Program ini tidak berhenti pada keterampilan memasak. Kami ingin peserta mampu melihat ikan dan udang sebagai bahan baku usaha yang diolah dengan baik, dikemas secara menarik, memiliki identitas merek, kemudian dipasarkan dengan memanfaatkan teknologi," ujar Nila.

Menurutnya, pelatihan dirancang sebagai upaya membangun pola pikir baru di kalangan masyarakat pesisir. Ikan dan udang tidak lagi dipandang hanya sebagai komoditas yang harus segera dijual, tetapi dapat diolah menjadi produk siap konsumsi dengan daya simpan lebih lama dan nilai ekonomi yang lebih tinggi.

Selama pelatihan, peserta diperkenalkan pada tahapan produksi mulai dari pemilihan bahan baku, teknik pengolahan yang higienis, pembentukan produk, hingga proses pengemasan dan pemberian merek. Produk yang dihasilkan kemudian dipersiapkan agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas.

Selain keterampilan produksi, peserta juga memperoleh materi mengenai strategi pengembangan usaha berbasis technopreneurship. Mereka dikenalkan pada konsep diversifikasi produk sebagai salah satu solusi meningkatkan nilai jual hasil laut sekaligus mengurangi kerugian akibat hasil tangkapan yang tidak terserap pasar.

Anggota tim PKM, Ika Fitriani, menjelaskan hasil laut memiliki peluang dikembangkan menjadi berbagai produk olahan, seperti nugget ikan, bakso ikan, kerupuk ikan, makanan beku, hingga produk siap masak. Menurutnya, inovasi produk harus dibarengi dengan pemanfaatan teknologi dan pemasaran digital agar mampu menjangkau konsumen lebih luas.

Sementara itu, Ana Merdekawaty menyampaikan pentingnya strategi branding melalui desain kemasan. Menurutnya, kemasan tidak hanya berfungsi sebagai pembungkus, tetapi juga menjadi identitas produk sekaligus membangun kepercayaan konsumen.

Dalam sesi tersebut, peserta dilatih menentukan nama produk, menyusun desain label, mencantumkan informasi penting seperti berat bersih, tanggal produksi, hingga kontak pemesanan. Pemilihan jenis kemasan juga disesuaikan dengan karakter produk agar tampil lebih profesional dan memiliki daya tarik di pasar.

Pelatihan kemudian dilanjutkan dengan praktik pengolahan hasil laut yang dipandu Wening Kusuma Wardani SP MSi. Peserta terlibat langsung dalam setiap tahapan produksi, mulai dari menyiapkan bahan baku, mengolah ikan, mencampurkan bahan pendukung, membentuk produk, hingga mengemas hasil olahan secara higienis.

Kepala SKB Batu Bangka, Agus Sadid MPd, menyambut baik pelaksanaan program tersebut. Menurutnya, kegiatan itu sejalan dengan fungsi SKB sebagai lembaga yang memberikan pendidikan kecakapan hidup bagi masyarakat.

Ia berharap pelatihan tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat, tetapi mampu melahirkan kelompok usaha produktif yang memanfaatkan potensi lokal sebagai sumber pendapatan baru masyarakat.

"Kami berharap pengetahuan yang diperoleh peserta terus dipraktikkan dan dikembangkan menjadi produk unggulan yang mampu meningkatkan perekonomian masyarakat Batu Bangka," katanya.

Pada kesempatan yang sama juga dilakukan penyerahan bantuan teknologi dan inovasi serta penandatanganan nota kesepahaman antara Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Samawa dengan SKB Batu Bangka. Kerja sama tersebut diharapkan menjadi dasar penguatan pendidikan, pelatihan, serta pendampingan masyarakat secara berkelanjutan.

Universitas Samawa menilai kolaborasi dengan SKB Batu Bangka membuka peluang pengembangan program pemberdayaan masyarakat di berbagai bidang, mulai dari manajemen usaha, pemasaran digital, literasi keuangan, pendampingan legalitas produk, hingga pengelolaan lingkungan pesisir yang mendukung usaha berbasis sumber daya lokal.

Melalui program tersebut, UNSA berharap lahir wirausaha-wirausaha muda dari kawasan pesisir yang mampu mengembangkan potensi hasil laut menjadi produk unggulan desa. Dengan pengolahan yang tepat, kemasan yang menarik, dan strategi pemasaran yang baik, ikan dan udang tidak lagi hanya menjadi komoditas segar, tetapi dapat berkembang menjadi produk bernilai ekonomi tinggi yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir. (Gar) 

Bagikan Berita Ini: