PT GAUNG NUSRA MEDIA AMANAH

Teka-teki Kematian Massal Ikan di Muara Boa Terulang

Fenomena kematian massal ikan di perairan Muara Boa Desa Batu Putih Kecamatan Taliwang, kembali memicu keresahan warga. Peristiwa ini mencuat ke publik setelah unggahan video berdurasi satu menit dari akun Facebook Shauma Ayudia

E
Penulis Editor
Tanggal 01 Apr 2026, 14:13 WITA
Teka-teki Kematian Massal Ikan di Muara Boa Terulang
Ilustrasi: Teka-teki Kematian Massal Ikan di Muara Boa Terulang

​Sumbawa Barat, GaungNUSRAonline 

Fenomena kematian massal ikan di perairan Muara Boa Desa Batu Putih Kecamatan Taliwang, kembali memicu keresahan warga. Peristiwa ini mencuat ke publik setelah unggahan video berdurasi satu menit dari akun Facebook Shauma Ayudia viral dan ditonton lebih dari 41 ribu kali. Dalam video itu memperlihatkan bangkai ikan yang memenuhi pesisir muara.

​Meski kejadian ini bukan yang pertama kalinya, penyebab pasti kematian ikan-ikan tersebut masih menjadi misteri. Dinas Perikanan bersama Dinas Lingkungan Hidup (LH) Kabupaten Sumbawa Barat yang terjun ke lokasi, mengaku menghadapi kendala klasik dalam proses investigasi, yakni keterlambatan informasi.

​Kepala Dinas Perikanan Sumbawa Barat, Agus Purnawan, yang dikonfirmasi mengatakan, bahwa tim gabungan baru bergerak setelah memantau kegaduhan di media sosial, bukan melalui laporan resmi perangkat desa. Sayangnya, saat personel tiba di Kawasan Boa, kondisi lapangan sudah berubah total.

​"Kami langsung turun begitu mengetahui fenomena tersebut melalui media sosial. Namun, saat sampai di sana, bangkai ikan sudah tidak ada. Kemungkinan besar tersapu arus karena kejadiannya sudah lewat beberapa hari," jelas Agus Purnawan, Selasa (31/3).

Kabid Sumberdaya dan Pengelolaan Hasil Perikanan, Asni Riyanti, menambahkan bahwa kondisi air yang sudah surut dan hilangnya objek pemeriksaan, membuat pengambilan sampel menjadi tidak efektif. Menurutnya, hasil laboratorium terhadap sampel yang sudah terkontaminasi atau terlalu lama tidak akan memberikan data akurat.

​Terkait bungkamnya pihak desa, Asni mengungkapkan adanya semacam "trauma prosedural" di tingkat pemerintahan desa. Berdasarkan keterangan Kepala Desa Batu Putih, pada peristiwa serupa sebelumnya, proses uji laboratorium memakan waktu hingga berbulan-bulan namun berakhir nihil tanpa ditemukan zat berbahaya.

​"Pak Kades tampaknya tidak ingin terburu-buru. Ada pengalaman masa lalu di mana hasil lab keluar sangat lama dan hasilnya tetap tidak memberikan kejelasan, padahal masyarakat butuh jawaban cepat terkait keamanan lingkungan mereka," ungkap Asni.

Hingga kini, spekulasi mengenai penyebab kematian ikan masih simpang siur. Kecil kemungkinan fenomena ini disebabkan oleh pencemaran merkuri atau zat kimia dari hulu. Mengingat, kematian ikan hanya terkonsentrasi di area muara dan tidak ditemukan kasus serupa di sepanjang aliran sungai. Di sisi lain, pihak desa juga menegaskan tidak ditemukan aktivitas penangkapan ikan ilegal menggunakan bahan peledak atau racun di wilayah tersebut.

​"Menurut keterangan Kades, tidak pernah terpantau ada oknum yang berburu ikan menggunakan alat-alat terlarang (destructive fishing) di sana," tambah Asni.

​Guna memutus rantai ketidakpastian ini, Dinas Perikanan berkomitmen memperkuat pengawasan berbasis masyarakat. Agus Purnawan menyatakan akan segera menginisiasi pembentukan Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) di wilayah Batu Putih.

​"Langkah awal kita adalah membentuk Pokmaswas. Melalui kelompok ini, masyarakat lokal akan dilibatkan langsung dalam pengawasan dan pelaporan cepat, sehingga jika kejadian serupa berulang, kita bisa mengambil tindakan dan sampel secara real-time," pungkas Agus. (Gbw)

Bagikan Berita Ini: