Sumbawa Besar, GaungNUSRA
Tim Peneliti MoRA The AIR Funds Kementerian Agama RI–LPDP Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram memperkuat kapasitas fasilitator sebelum turun ke tengah masyarakat. Tim menggelar Training of Trainers (TOT) untuk menguji Modul Pengasuhan Berbasis Gender dan Kearifan Lokal sebagai bagian dari upaya mencegah kekerasan terhadap anak di Nusa Tenggara Barat (NTB).
Kegiatan berlangsung selama dua hari, 3 hingga 4 Agustus 2026, di Kafe Arum Jonga Sumbawa. Tim peneliti menggandeng akademisi dan praktisi perlindungan anak dalam kegiatan yang secara khusus menyiapkan calon fasilitator untuk melaksanakan uji coba modul di masyarakat.
Modul tersebut dikembangkan untuk komunitas masyarakat Suku Sasak, Samawa, dan Mbojo-Dompu di NTB. Karena itu, tim peneliti tidak hanya membekali peserta dengan pemahaman mengenai pengasuhan dan pencegahan kekerasan terhadap anak, tetapi juga mendorong mereka memahami konteks sosial dan budaya masyarakat yang menjadi sasaran uji coba.
Sebanyak empat peserta mengikuti TOT tersebut. Dua peserta berasal dari Kabupaten Sumbawa, yakni Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Sumbawa, Fathriaturrahmah SPd dan Sofia Mutmainnah SMn, pegawai Pemerintah Kabupaten Sumbawa.
Dua peserta lainnya berasal dari Kabupaten Sumbawa Barat, yakni St Yuli S Komalasari SH, aktivis Komunitas Bale Para, serta Istianah Sri Hardiniati SAg, guru MTsN 1 Sumbawa Barat.
Tim juga menghadirkan, Dr Muchammadun MPS MGen AppLing (Adv), akademisi sekaligus praktisi, untuk memperkuat pembekalan peserta. Kehadirannya membantu peserta memperdalam substansi modul sekaligus memperluas perspektif mengenai perlindungan anak.
Kegiatan dibuka perwakilan Tim Peneliti, Dr Syukri MAg. Ia menegaskan, TOT menjadi tahapan penting dalam rangkaian penelitian yang sedang dijalankan.
Menurut Syukri, kegiatan tersebut tidak berhenti pada pemahaman peserta terhadap isi modul. Tim juga menyiapkan peserta agar mampu menjadi fasilitator yang dapat menyampaikan materi kepada masyarakat secara efektif saat uji coba berlangsung.
“Kami memfasilitasi kegiatan ini untuk mempersiapkan fasilitator yang mampu menyampaikan hasil penelitian kami yang tertera dalam modul. Harapannya, setelah TOT ini para peserta mampu menyerap isi modul dan menyampaikannya kepada peserta uji coba dengan sebaik-baiknya,” ujar Syukri.
Selama dua hari, peserta mengikuti pembekalan secara intensif. Tim peneliti mengajak peserta membedah berbagai persoalan pengasuhan anak yang selama ini berkembang di tengah masyarakat.
Forum yang dimoderatori anggota Tim Peneliti, Dr Baiq Ratna Mulhimmah MH, tersebut membahas sejumlah isu yang berkaitan langsung dengan kehidupan keluarga dan komunitas.
Peserta mempelajari pola asuh anak, perbedaan jenis kelamin biologis atau sex dengan gender, serta stereotip gender dan pengaruhnya terhadap pola pengasuhan.
Pembahasan juga mencakup bentuk-bentuk pengasuhan yang dapat dikategorikan sebagai kekerasan dan pengasuhan tanpa kekerasan. Peserta kemudian diajak memahami perbedaan antara pola pengasuhan tradisional dan pengasuhan transformatif gender.
Tim peneliti turut menekankan pemenuhan hak-hak anak dalam setiap praktik pengasuhan. Pemahaman tersebut menjadi dasar penting bagi peserta sebelum mereka menjalankan tugas sebagai fasilitator dalam uji coba modul.
Dengan bekal itu, fasilitator diharapkan tidak sekadar menyampaikan materi secara satu arah. Mereka harus mampu membangun dialog dengan masyarakat, menggali pengalaman keluarga, serta memahami praktik pengasuhan yang berkembang di lingkungan setempat.
Tim peneliti juga memberikan perhatian khusus terhadap kearifan lokal. Peserta diajak menggali kembali nilai-nilai budaya yang selama ini hidup dan berkembang dalam masyarakat Sumbawa dan Sumbawa Barat.
Proses tersebut mengajak peserta mengidentifikasi berbagai praktik pengasuhan yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Mereka kemudian melihat praktik mana yang masih relevan untuk dipertahankan dan dikembangkan serta praktik mana yang perlu disesuaikan dengan prinsip pemenuhan hak anak.
Peserta juga memetakan pola pengasuhan yang berpotensi mengandung bias gender atau menimbulkan risiko terhadap tumbuh kembang dan perlindungan anak.
Pendekatan tersebut menjadi penting karena tim peneliti tidak ingin memisahkan upaya perlindungan anak dari nilai budaya masyarakat. Sebaliknya, tim berupaya menjadikan nilai-nilai positif dalam kearifan lokal sebagai kekuatan untuk membangun pola pengasuhan yang lebih aman, setara, dan ramah anak.
Dari proses tersebut, peserta diarahkan merumuskan strategi untuk mengintegrasikan kearifan lokal ke dalam praktik pengasuhan sehari-hari. Dengan pendekatan ini, masyarakat diharapkan tidak merasa bahwa upaya pencegahan kekerasan terhadap anak merupakan sesuatu yang datang dari luar lingkungan mereka.
Tim peneliti juga menekankan pentingnya keterlibatan komunitas. Perlindungan anak tidak dapat hanya dibebankan kepada orang tua. Lingkungan sosial, tokoh masyarakat, lembaga pendidikan, pemerintah desa, dan berbagai unsur masyarakat lainnya memiliki peran dalam menciptakan lingkungan yang aman bagi anak.
TOT menjadi bekal awal bagi empat peserta sebelum menjalankan tugas sebagai fasilitator pada tahap uji coba modul di Kabupaten Sumbawa dan Sumbawa Barat.
Tim Peneliti MoRA The AIR Funds Kemenag RI–LPDP UIN Mataram berharap seluruh peserta dapat memahami substansi modul secara utuh. Mereka juga diharapkan mampu menerjemahkan materi dalam bahasa yang mudah dipahami masyarakat.
Fasilitator nantinya tidak hanya bertugas menyampaikan isi modul. Mereka juga harus membuka ruang dialog, menggali pengalaman masyarakat, mengidentifikasi praktik pengasuhan yang berkembang, serta menemukan nilai-nilai lokal yang dapat memperkuat perlindungan anak.
Dengan pembekalan tersebut, tim peneliti menargetkan proses uji coba berjalan lebih terarah dan interaktif. Masukan dari masyarakat selama proses uji coba juga akan menjadi bahan penting untuk melihat relevansi dan penerapan modul di lapangan.
Tahapan itu sekaligus menjadi upaya tim untuk memastikan modul yang dikembangkan tidak hanya kuat secara akademis, tetapi juga relevan dengan kehidupan masyarakat.
Pendekatan pengasuhan berbasis gender dan kearifan lokal diharapkan mampu mempertemukan pengetahuan akademis dengan pengalaman masyarakat. Dengan demikian, upaya pencegahan kekerasan terhadap anak dapat tumbuh dari keluarga dan komunitas sendiri.
Melalui penelitian tersebut, Tim Peneliti MoRA The AIR Funds Kemenag RI–LPDP UIN Mataram berharap dapat memberikan kontribusi bagi penguatan perlindungan anak di NTB. Pada saat yang sama, penelitian ini mendorong keluarga dan komunitas mengambil peran lebih besar dalam menciptakan lingkungan yang aman, setara, dan mendukung tumbuh kembang anak. (Gac)