Mataram, GaungNUSRA
Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mendorong pemanfaatan hasil penelitian akademik sebagai dasar perumusan kebijakan publik agar pembangunan daerah memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, termasuk di wilayah perdesaan, pesisir, dan kepulauan.
Hal tersebut disampaikan Sekretaris Daerah (Sekda) NTB, Abul Chair, saat membuka Lombok World Forum (LWF) 2026 di Prime Plaza Hotel & Convention Mataram, Kamis (22/10/2026).
Forum ilmiah internasional yang diinisiasi STIKES Mataram tersebut berlangsung pada 21–24 Oktober 2026 dengan mengusung tema “Interdisciplinary Perspectives on Politics, Culture, Communication, Health Governance, and Public Policy”.
LWF 2026 diikuti akademisi, peneliti, dan pakar dari delapan negara, yakni Jepang, Kanada, Polandia, Hong Kong, Thailand, Timor Leste, Malaysia, dan Indonesia.
Dalam sambutannya, Abul Chair menyoroti tantangan pembangunan NTB yang ditandai pertumbuhan ekonomi sebesar 7,41 persen secara tahunan (year-on-year) pada triwulan II 2026, sementara tingkat kemiskinan tercatat 11,17 persen per Maret 2026.
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi perlu diikuti pemerataan kesejahteraan, perluasan lapangan kerja, serta peningkatan manfaat pembangunan bagi masyarakat di berbagai wilayah.
“Bagi kami di Nusa Tenggara Barat, esensi pembangunan ‘Bangkit Bersama Menuju NTB Provinsi Kepulauan yang Makmur dan Mendunia’ adalah, kami ingin membangun daerah yang maju dan berdaya saing, tetapi kemajuan itu harus dinikmati secara lebih merata. Kami ingin NTB dikenal dunia, tetapi keterhubungan dengan dunia harus menciptakan manfaat bagi masyarakat di desa, pesisir, pulau-pulau kecil, serta pusat-pusat pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.
Abul Chair menegaskan, hasil riset akademik tidak seharusnya berhenti pada publikasi ilmiah. Penelitian perlu diterjemahkan menjadi rekomendasi yang dapat digunakan pemerintah dalam menyusun kebijakan berbasis bukti (evidence-based policy).
Ia juga menekankan pentingnya pengembangan pariwisata berkualitas dan berkelanjutan dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan serta nilai budaya masyarakat Sasak, Samawa, dan Mbojo.
“Kami ingin mendorong pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan. Keberhasilan pariwisata tidak cukup diukur dari banyaknya orang yang datang. Kita juga harus memastikan seberapa banyak nilai ekonomi yang timbul, manfaat yang dirasakan UMKM, dan alam serta budaya yang akan tetap terpelihara,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua Panitia LWF 2026, Prof Dr Chairun Nasirin, mengatakan forum tersebut dirancang sebagai ruang pertukaran pengetahuan sekaligus wadah membangun kolaborasi riset internasional yang berkelanjutan.
Ia berharap pertemuan akademisi lintas negara tersebut dapat menghasilkan penelitian yang berdampak langsung bagi masyarakat, memperkuat jejaring kerja sama, serta meningkatkan kualitas publikasi ilmiah.
“Kami berharap Lombok World Forum ini dapat menjadi pusat pengetahuan serta kolaborasi riset internasional yang berkelanjutan. Melalui forum ini, kita ingin menghasilkan dampak riset yang nyata, membangun platform kolaborasi jangka panjang, serta mendorong keunggulan riset yang bermanfaat bagi masyarakat luas,” katanya.
Perwakilan akademisi dari Kyoto University yang juga Editor Springer Nature, Prof. Ofer Feldman, turut mengapresiasi penyelenggaraan forum tersebut. Ia berharap LWF menjadi awal bagi pengembangan kerja sama akademik lintas negara, termasuk publikasi bersama dan penyusunan buku hasil konferensi.
“Lombok adalah tempat yang luar biasa untuk menyatukan gagasan dan peneliti dari berbagai belahan dunia. Saya berharap forum ini menjadi titik awal kolaborasi jangka panjang, publikasi bersama, hingga penyusunan buku hasil konferensi,” ungkapnya.
Melalui LWF 2026, Pemprov NTB berharap kolaborasi internasional dapat memperkuat kapasitas peneliti lokal dan mendorong pemanfaatan hasil penelitian dalam penyusunan kebijakan pembangunan yang lebih tepat sasaran serta berorientasi pada kesejahteraan masyarakat. (Gad)