PT GAUNG NUSRA MEDIA AMANAH

Pemdes Batu Tering Petakan 20 Anak Berisiko Gizi

Pemerintah Desa Batu Tering, Kecamatan Moyo Hulu, Kabupaten Sumbawa, memetakan 20 anak dalam kategori risiko masalah gizi melalui kegiatan rembuk stunting yang digelar di Aula Kantor Desa Batu Tering, Jumat (23/10).

E
Penulis Editor
Tanggal 26 Oct 2026, 15:52 WITA
Pemdes Batu Tering Petakan 20 Anak Berisiko Gizi
Gelar Rembuk Stunting, Pemdesa Batu Tering Petakan 20 Anak Berisiko Gizi dan Susun Aksi Konkret

Sumbawa Besar, GaungNUSRA

Pemerintah Desa Batu Tering, Kecamatan Moyo Hulu, Kabupaten Sumbawa, memetakan 20 anak dalam kategori risiko masalah gizi melalui kegiatan rembuk stunting yang digelar di Aula Kantor Desa Batu Tering, Jumat (23/10).

Pemetaan tersebut mencakup tiga kategori masalah gizi, yakni stunting, wasting, dan underweight. Data ini menjadi dasar bagi pemerintah desa bersama tenaga kesehatan dan kader Posyandu untuk menentukan langkah pendampingan serta penanganan sesuai kebutuhan masing-masing kelompok.

Kegiatan yang dibuka Kepala Desa Batu Tering, Alwan Hidayat SPdI NLP itu dihadiri narasumber dari bagian gizi Puskesmas Moyo Hulu, Ika Fitrianisih, serta unsur Badan Permusyawaratan Desa (BPD), Pendamping Desa, Tim Penggerak PKK (TPKK), dan kader Posyandu.

Dalam sambutannya, Alwan menegaskan, rembuk stunting harus menghasilkan rencana aksi yang jelas dan terukur, bukan sekadar menjadi forum diskusi atau penyampaian data.

“Rembuk stunting ini harus memiliki aksi yang jelas. Kita perlu memetakan kondisi di lapangan, mengidentifikasi kelompok yang berisiko, kemudian merumuskan langkah penanganan yang konkret dan memastikan programnya benar-benar menyentuh sasaran,” tegasnya.

Menurutnya, rembuk stunting merupakan forum strategis untuk membahas dan menyepakati langkah percepatan pencegahan serta penanganan stunting dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan di tingkat desa.

Ada empat fokus utama yang dibahas dalam kegiatan tersebut. Pertama, pemetaan masalah berdasarkan data Posyandu, Puskesmas, dan kader kesehatan. Kedua, penyelarasan intervensi gizi spesifik dan sensitif. Ketiga, integrasi program prioritas ke dalam dokumen perencanaan dan penganggaran desa. Keempat, penguatan komitmen bersama agar penanganan stunting berjalan efektif dan berkelanjutan.

Intervensi gizi spesifik diarahkan pada upaya yang berkaitan langsung dengan pemenuhan gizi serta pelayanan kesehatan ibu dan anak. Sementara intervensi gizi sensitif mencakup faktor pendukung, seperti ketersediaan air bersih, akses sanitasi layak, dan peningkatan kualitas lingkungan.

Hasil pemetaan terhadap 20 anak berisiko masalah gizi tersebut selanjutnya perlu ditindaklanjuti melalui koordinasi antara pemerintah desa, tenaga kesehatan, dan kader Posyandu. Langkah ini penting agar penanganan dapat dilakukan secara tepat sasaran berdasarkan kondisi dan kebutuhan masing-masing anak.

Melalui rembuk stunting, Pemerintah Desa Batu Tering berharap terbangun kesepahaman seluruh pemangku kepentingan dalam menetapkan prioritas program pencegahan dan penanganan stunting.

Tindak lanjut yang diharapkan meliputi pemutakhiran data, pendampingan keluarga berisiko, penguatan layanan kesehatan ibu dan anak, serta pengalokasian anggaran untuk program prioritas dalam perencanaan pembangunan desa.

Dengan langkah tersebut, upaya pencegahan dan penanganan stunting di Desa Batu Tering diharapkan semakin terarah, terpadu, dan berkelanjutan guna mendukung peningkatan kualitas kesehatan serta tumbuh kembang anak. (Gal)



Bagikan Berita Ini: