Sumbawa Besar, GaungNUSRA Online
Momentum Tahun Baru Islam menjadi pengingat penting bagi umat Muslim, untuk memaknai hijrah secara lebih mendalam. Hijrah tidak hanya dipahami sebagai perubahan simbol-simbol lahiriah atau penampilan semata. Tetapi harus diwujudkan dalam perubahan sikap, perilaku, dan pola pikir menuju kehidupan yang lebih baik.
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Sumbawa, H Faisal SAg MMInov, mengatakan pemahaman tentang hijrah perlu ditempatkan dalam konteks yang lebih luas. Menurutnya, esensi hijrah adalah proses perpindahan dari keburukan menuju kebaikan, dari kemalasan menuju produktivitas, serta dari perpecahan menuju persatuan dan kebersamaan.
“Hijrah harus dipahami secara luas. Bukan sekadar perubahan penampilan atau simbol-simbol lahiriah semata, tetapi merupakan proses perpindahan dari keburukan menuju kebaikan, dari kemalasan menuju produktivitas, dan dari perpecahan menuju persatuan,” ujarnya, Senin (15/6).
Ia menjelaskan, hijrah yang sesungguhnya tercermin dari kemampuan seseorang meninggalkan perilaku-perilaku yang dilarang agama dan beralih kepada perbuatan yang diperintahkan. Proses tersebut tidak berlangsung sesaat, melainkan menjadi perjalanan hidup yang harus terus dilakukan oleh setiap Muslim.
Menurut H Faisal, makna hijrah yang diajarkan Islam sejatinya merupakan upaya perbaikan diri secara berkelanjutan. Karena itu, setiap individu dituntut untuk terus meningkatkan kualitas pribadi, baik dalam aspek spiritual, sosial, maupun intelektual.
“Hijrah yang sesungguhnya adalah bagaimana seseorang mampu meninggalkan hal-hal yang dilarang dan beralih kepada hal-hal yang diperintahkan oleh agama. Itu yang menjadi inti perubahan seorang Muslim,” katanya.
Ditengah perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat, Ketua MUI Sumbawa menilai semangat hijrah juga harus diwujudkan dalam cara bermedia sosial dan memanfaatkan ruang digital secara bertanggung jawab. Menurutnya, penggunaan teknologi harus menjadi sarana menebarkan manfaat, bukan justru memperkeruh suasana kehidupan bermasyarakat.
Ia mengingatkan masyarakat untuk menjauhi berbagai perilaku negatif di ruang digital, seperti penyebaran informasi bohong atau hoaks, ujaran kebencian, fitnah, serta berbagai tindakan yang dapat merusak persaudaraan dan persatuan bangsa.
“Dalam perkembangan teknologi dan media sosial saat ini, semangat hijrah harus diwujudkan melalui penggunaan ruang digital secara bijak. Hindari penyebaran hoaks, ujaran kebencian, fitnah, dan berbagai sikap yang dapat merusak persaudaraan sesama anak bangsa,” tegasnya.
Lebih lanjut, H Faisal menjelaskan bahwa Islam mengajarkan hijrah sebagai proses yang berkelanjutan atau continuous improvement. Artinya, setiap Muslim harus terus berupaya memperbaiki diri dari waktu ke waktu agar menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya.
Menurutnya, nilai-nilai hijrah tidak boleh berhenti pada aspek ritual keagamaan, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata yang memberikan dampak positif bagi keluarga, masyarakat, agama, dan bangsa.
“Islam mengajarkan bahwa hijrah adalah proses yang berkelanjutan. Setiap Muslim dituntut untuk terus memperbaiki diri dan menjadi pribadi yang semakin bermanfaat bagi keluarga, masyarakat, agama, dan bangsa,” ujarnya.
Pada kesempatan tersebut, MUI Kabupaten Sumbawa juga mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk menjadikan momentum hijrah sebagai gerakan perbaikan akhlak dan peningkatan kualitas diri. Generasi muda dinilai memiliki peran strategis dalam menentukan arah pembangunan bangsa di masa depan.
Karena itu, semangat hijrah perlu diterjemahkan dalam bentuk peningkatan ilmu pengetahuan, penguatan karakter, pengamalan nilai-nilai moderasi beragama, serta kontribusi nyata bagi kemajuan daerah dan negara.
“MUI mengajak seluruh masyarakat, terutama generasi muda, menjadikan hijrah sebagai gerakan perbaikan akhlak, peningkatan kualitas ilmu pengetahuan, penguatan moderasi beragama, dan pengabdian nyata bagi kemajuan bangsa,” katanya.
Ia menegaskan bahwa ukuran keberhasilan hijrah bukan terletak pada perubahan penampilan semata, melainkan sejauh mana seseorang mampu menghadirkan manfaat bagi orang lain. Hal itu sejalan dengan ajaran Islam yang menempatkan kemaslahatan umat sebagai salah satu tujuan utama kehidupan.
“Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya,” tegasnya. (Gar)