Sumbawa Besar, GaungNUSRA Online
Ketegangan terjadi di wilayah lingkar tambang Kecamatan Lantung, setelah puluhan warga Desa Sepukur menggelar aksi protes terhadap PT Intam, Senin (4/5). Aksi tersebut diwarnai pemblokiran akses mobilisasi logistik perusahaan, sebagai bentuk kekecewaan terhadap manajemen yang dinilai tidak transparan.
Warga mendesak penghentian sementara aktivitas operasional perusahaan di wilayah Lantung dan Ropang, hingga ada kejelasan terkait kontribusi perusahaan terhadap masyarakat lokal. Mereka juga mengancam akan melakukan sweeping apabila tuntutan tidak segera direspons oleh pihak manajemen pusat.
Sejumlah titik akses logistik dilaporkan masih dijaga warga. Mereka menegaskan tidak akan membuka blokade sebelum ada komitmen konkret dari perusahaan untuk memperbaiki pola komunikasi dan hubungan dengan masyarakat.
Ketua Sumbawa Mining Entrepreneurs Association (SUMEA) Kabupaten Sumbawa, Yosy Larian, menyatakan dukungan terhadap aksi warga. Ia menilai perlu adanya evaluasi menyeluruh terhadap kinerja PT Intam oleh Pemerintah Kabupaten Sumbawa bersama DPRD.
“Hingga saat ini, kami menilai keberadaan PT Intam belum memberikan kontribusi signifikan bagi pembangunan dan kesejahteraan masyarakat sekitar. Bahkan, aktivitasnya kerap memicu konflik sosial,” ujarnya.
Yosy juga menyoroti kinerja bagian Hubungan Masyarakat (Humas) perusahaan yang dinilai belum mampu membangun komunikasi efektif dengan warga. Menurutnya, perbaikan di level manajemen menjadi langkah penting untuk meredam konflik yang terus berulang.
Sementara itu, perwakilan pemuda Desa Sepukur, Dadang Afriansyah, menegaskan bahwa sikap tertutup perusahaan menjadi hambatan utama dalam membangun hubungan yang harmonis dengan masyarakat.
“Sinergi tidak akan terwujud jika manajemen tetap eksklusif. Jika kondisi ini berlanjut, masyarakat bisa mengambil langkah lebih jauh,” katanya.
Dalam aksi tersebut, warga menyampaikan sejumlah tuntutan, di antaranya keterbukaan informasi terkait kontribusi perusahaan, pelibatan masyarakat lokal dalam kemitraan usaha, serta evaluasi terhadap sumber daya manusia pada posisi strategis, khususnya di bidang komunikasi.
Menanggapi protes tersebut, pihak Humas PT Intam, Muhammad Ramadhan Bs, menyatakan bahwa perusahaan menghargai aspirasi masyarakat dan berkomitmen mengedepankan dialog sebagai solusi.
“Kami memohon maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi. Aspirasi masyarakat telah kami terima dan akan kami sampaikan kepada pimpinan pusat untuk ditindaklanjuti,” ujar Doni, akrabnya disapa.
Ia menambahkan, perusahaan telah menjalankan sejumlah program pemberdayaan ekonomi lokal, termasuk kemitraan dengan vendor di wilayah sekitar operasional. Selain itu, PT Intam juga melaksanakan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), seperti bantuan bagi korban banjir dan dukungan sektor pertanian melalui penyediaan bibit bagi kelompok tani.
Manajemen PT Intam, lanjutnya, akan menjadikan tuntutan masyarakat sebagai bahan evaluasi internal guna memperbaiki hubungan dengan warga di wilayah operasional.
Hingga berita ini diturunkan, blokade akses logistik masih berlangsung. Warga tetap berjaga di sejumlah titik sambil menunggu langkah konkret dari manajemen pusat PT Intam terkait tuntutan yang disampaikan. (Gam)