Sumbawa Besar, Gaung NUSRA Online
Pelaksanaan Festival Lomba Seni Sastra Siswa Nasional (FLS3N) tingkat Kabupaten Sumbawa tahun 2026 yang berlangsung di Kafe Arung Jonga memasuki babak akhir, Rabu (20/5) malam. Momentum tersebut dimanfaatkan praktisi seni dan pengamat budaya, H Hasanuddin yang akrab disapa Haji Ace, untuk menyampaikan evaluasi menyeluruh, terhadap kualitas pembinaan seni di lingkungan sekolah.
Dalam arahannya, Hasanuddin menegaskan bahwa FLS3N bukan sekadar ajang perlombaan, melainkan wadah strategis untuk membentuk karakter, meningkatkan kreativitas, dan mengembangkan potensi seni siswa sejak dini.
“FLS3N adalah major event bagi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sumbawa. Sekolah harus aktif menemukan dan membina bakat siswa secara serius,” ujar Hasanuddin di hadapan peserta, guru pembina, dan tenaga pendidik.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sumbawa beserta jajaran, serta pengurus Dewan Kesenian Sumbawa.
Dalam evaluasinya, Hasanuddin memaparkan sejumlah catatan penting yang dinilai perlu menjadi perhatian sekolah dan guru pembina, agar kualitas peserta FLS3N Kabupaten Sumbawa mampu bersaing di tingkat provinsi maupun nasional.
Pada cabang seni mendongeng, Hasanuddin menyoroti pentingnya teknik pemenggalan cerita dan penguasaan artikulasi. Menurutnya, masih banyak peserta yang kehilangan kejelasan pengucapan karena terlalu larut dalam emosi saat tampil di atas panggung.
“Banyak bahasa ucap yang tertelan karena emosi. Padahal artikulasi harus jelas. Kebiasaan berbicara tidak jelas jangan dibawa ke atas panggung jika ingin bersaing di level nasional,” tegasnya.
Ia menjelaskan, kemampuan mendongeng tidak hanya ditentukan oleh penghayatan cerita, tetapi juga kemampuan menyampaikan pesan secara runtut dan mudah dipahami penonton.
Selain itu, Hasanuddin juga menyoroti cabang musik tradisional. Ia menilai kreativitas menjadi faktor utama dalam membangun pertunjukan yang kuat dan berkarakter. Sekolah diminta tidak terpaku pada keterbatasan alat musik, melainkan membangun kolaborasi dengan sanggar seni maupun pelaku budaya lokal.
Menurutnya, kekayaan musik tradisional Sumbawa seperti gendang, gong, dan serune memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi komposisi pertunjukan yang lebih inovatif dan menarik.
“Pertunjukan harus utuh dan punya ruh tradisi. Jangan terpaku pada keterbatasan fasilitas, tetapi bagaimana kreativitas itu dibangun,” ujarnya.
Sementara pada cabang tari kreasi, Hasanuddin menekankan pentingnya pemahaman tema dan karakter pertunjukan. Ia menjelaskan bahwa kategori tari saat ini mengarah pada konsep semi-kontemporer yang tetap berpijak pada akar tradisi daerah.
Karena itu, para penata tari diminta lebih cermat menerjemahkan tema “Pesta Rakyat” dari sudut pandang remaja, tanpa harus menghadirkan estetika berlebihan yang justru menjauh dari realitas budaya masyarakat Sumbawa.
“Cantik salon bukan satu-satunya yang dinilai, tetapi karakter dan kreativitas tema yang dibawa. Kalau mengangkat tema turin benrang, tidak perlu ornamen yang berlebihan,” katanya.
Meski mengakui adanya keterbatasan anggaran daerah dalam pembinaan seni, Hasanuddin tetap optimistis Kabupaten Sumbawa mampu mempertahankan prestasi di tingkat nasional. Ia mencontohkan konsep “teater miskin” yang membuktikan bahwa keterbatasan biaya bukan penghalang untuk melahirkan karya seni berkualitas.
Sebagai bentuk dukungan nyata, Hasanuddin menyatakan kesiapannya mendampingi para juara tingkat kabupaten sebelum berlaga di tingkat provinsi.
“Saya siap membantu memberikan pembinaan tanpa biaya. Cukup dengan diskusi dan kolaborasi. Kita ingin Sumbawa tetap berada di papan atas prestasi kesenian,” ujarnya.
Ia berharap para juri, guru pembina, praktisi seni, dan pemerintah daerah dapat memperkuat sinergi dalam melakukan pembinaan secara berkelanjutan agar siswa Sumbawa mampu tampil sejajar dengan daerah lain di tingkat nasional.
Kegiatan evaluasi tersebut ditutup dengan ajakan kepada seluruh pihak, mulai dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan hingga pelaku seni, untuk bersama-sama membangun sistem pembinaan seni budaya yang lebih terarah demi kemajuan kesenian Kabupaten Sumbawa. (Gam)