PT GAUNG NUSRA MEDIA AMANAH

GOW Sumbawa Hidupkan Kembali Tradisi Male’

Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kabupaten Sumbawa, mengambil bagian dalam upaya menjaga tradisi male’ yang melekat dalam perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW atau munit di masyarakat Sumbawa.

E
Penulis Editor
Tanggal 17 Sep 2026, 12:40 WITA
 GOW Sumbawa Hidupkan Kembali Tradisi Male’
Lestarikan Kerajinan Munit, GOW Sumbawa Gelar Pelatihan Membuat Male' Bersama LATS dan Guru Mulok

Sumbawa Besar, GaungNUSRA

Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kabupaten Sumbawa, mengambil bagian dalam upaya menjaga tradisi male’ yang melekat dalam perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW atau munit di masyarakat Sumbawa.

GOW menggelar Pelatihan Membuat Male’ di Aula Ai Mata Jitu SMK Negeri 1 Sumbawa, belum lama ini. Kegiatan tersebut mempertemukan organisasi perempuan, guru, dan sejumlah unsur masyarakat untuk mempelajari kembali keterampilan membuat salah satu kerajinan tradisional yang hadir dalam perayaan Maulid di Sumbawa.

Ketua GOW Kabupaten Sumbawa, Dra H Sudarti Mohamad Ansori, membuka kegiatan tersebut secara resmi. Pengurus dan anggota GOW Kabupaten Sumbawa mengikuti pelatihan bersama perwakilan organisasi perempuan lainnya serta guru muatan lokal dari sekolah negeri dan swasta di Kabupaten Sumbawa.

GOW menghadirkan Wakil Ketua Lembaga Adat Tana Samawa (LATS) Kabupaten Sumbawa, H Hasanuddin HD SPd, sebagai narasumber. Ia memberikan pengetahuan dan praktik kepada peserta mengenai pembuatan male’ serta nilai budaya yang melekat pada kerajinan tersebut.

Sudarti mengatakan, masyarakat Sumbawa tidak dapat memisahkan tradisi male’ dari perayaan Maulid Nabi atau munit. Masyarakat secara turun-temurun menghadirkan male’ dalam momentum tersebut, sebagai bagian dari tradisi yang berkembang di tengah kehidupan sosial dan budaya masyarakat Sumbawa.

“Perayaan Maulid Nabi atau munit di Sumbawa tidak dapat dipisahkan dari male’. Male’ merupakan warisan budaya turun-temurun dari nenek moyang yang sarat makna dan nilai estetika lokal,” ujarnya.

Menurut Sudarti, masyarakat perlu terus mengenalkan keterampilan membuat male’ kepada generasi muda. Pelestarian keterampilan tersebut tidak cukup hanya dengan mempertahankan keberadaannya dalam setiap perayaan Maulid, tetapi juga perlu dilakukan melalui proses belajar dan praktik secara langsung.

GOW memilih pelatihan sebagai salah satu cara untuk mentransfer pengetahuan dan keterampilan tersebut kepada peserta. Melalui kegiatan itu, peserta tidak hanya mengenal male’ sebagai bagian dari tradisi, tetapi juga mempelajari proses pembuatannya.

“Karena itu, kegiatan ini perlu dilakukan agar keterampilan membuat male’ sebagai warisan budaya tidak hilang dan terlupakan,” tukasnya.

Sudarti juga mendorong peserta mengembangkan kreativitas setelah menguasai teknik dasar pembuatan male’. Ia berharap peserta mampu menghasilkan karya dengan memperhatikan unsur kreativitas dan estetika tanpa menghilangkan karakter tradisional yang melekat pada male’.

Selain menjaga keterampilan budaya, GOW menempatkan kegiatan tersebut sebagai bagian dari pemberdayaan perempuan dan masyarakat. Peserta dapat mengembangkan keterampilan yang diperoleh melalui berbagai kegiatan di lingkungan keluarga, sekolah, organisasi, maupun masyarakat.

Kegiatan tersebut juga mempertemukan para guru muatan lokal dengan pelaku dan pemerhati budaya. Kehadiran guru dalam pelatihan membuka ruang bagi pengenalan kembali tradisi male’ di lingkungan pendidikan.

Sudarti mengatakan pelestarian budaya membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Ia mengajak masyarakat untuk mengenali, mempelajari, dan meneruskan tradisi yang diwariskan leluhur kepada generasi berikutnya.

“Budaya akan punah bukan karena direbut bangsa lain, tetapi karena dilupakan oleh pemiliknya sendiri. Jadi, kegiatan hari ini merupakan benteng pertahanan agar budaya kita tidak hilang dan tetap dikenang, menjadi cerita untuk anak cucu di masa yang akan datang,” pungkasnya. (Gad/Hms) 

Bagikan Berita Ini: