Sumbawa Besar, GaungNUSRA Online
Upaya mengkaji Hari Lahir Tana Samawa, terus memperoleh dukungan dari berbagai kalangan. Tidak hanya menjadi perhatian pegiat sejarah dan budaya, kajian tersebut kini mendapat dukungan akademik, yang dinilai penting untuk memperkuat landasan ilmiah dalam penetapan sejarah daerah.
Dukungan itu disampaikan Rektor STKIP Paracendekia NW Sumbawa, Prof Iwan Jazadi, saat menerima kunjungan Forum Kamanang Tana Samawa (KTS) di kampus setempat, Selasa (2/6). Pertemuan tersebut dihadiri Ketua Forum KTS, Mallarangang Syarifoeddin bersama Arie Afrilian, Muhammad Kaniti, dan Rifqi Kukuh Primananda.
Dalam pertemuan itu, Forum KTS memaparkan perkembangan kajian Hari Lahir Tana Samawa yang selama ini dilakukan sebagai bagian dari upaya memperkuat identitas, sejarah, dan kebudayaan masyarakat Sumbawa. Berbagai langkah yang telah ditempuh turut disampaikan, mulai dari pengumpulan data sejarah, penelusuran literatur, hingga komunikasi dengan sejumlah tokoh dan pihak terkait guna memperkuat dasar akademik kajian tersebut.
Prof Iwan Jazadi mengapresiasi inisiatif yang dilakukan Forum KTS. Menurutnya, pengkajian Hari Lahir Tana Samawa memiliki nilai strategis. Karena tidak hanya berkaitan dengan penentuan momentum historis daerah, tetapi juga menyangkut penguatan identitas kolektif masyarakat Sumbawa.
Ia menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki peran penting dalam mendukung proses pengolahan dan verifikasi data sejarah yang telah dihimpun. Dengan keterlibatan akademisi, hasil kajian diharapkan memiliki dasar ilmiah yang kuat serta dapat dipertanggungjawabkan secara akademis.
“Perguruan tinggi dapat berkontribusi dalam memastikan data dan fakta sejarah yang digunakan benar-benar teruji sehingga kesimpulan yang dihasilkan memiliki legitimasi akademik,” ujarnya.
Diskusi berlangsung hangat dan konstruktif. Berbagai isu strategis mengemuka, mulai dari sejarah dan bahasa Sumbawa, kekayaan budaya lokal, hingga dinamika sosial yang berkembang di tengah masyarakat. Selain membahas perkembangan kajian Hari Lahir Tana Samawa, peserta pertemuan juga menyinggung rencana Seminar Nasional yang akan diselenggarakan Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Sumbawa terkait pengkajian sejarah daerah tersebut.
Dari pembahasan yang berkembang, muncul gagasan perlunya membangun sebuah ruang kajian akademik yang secara khusus berfokus pada sejarah, budaya, bahasa, dan perkembangan sosial masyarakat Sumbawa. Gagasan tersebut kemudian mengerucut pada konsep Sumbawa Studies atau Kajian Sumbawa.
Konsep itu dinilai penting sebagai wadah ilmiah yang berkelanjutan untuk menghimpun berbagai penelitian dan kajian tentang Sumbawa. Kehadiran Sumbawa Studies diharapkan mampu memperkuat dokumentasi pengetahuan, memperkaya khazanah akademik, sekaligus menjadi referensi bagi generasi mendatang dalam memahami sejarah dan kebudayaan daerahnya.
Dalam kesempatan tersebut, Prof Iwan juga menyoroti pentingnya digitalisasi arsip sejarah, naskah kuno, catatan, dan berbagai literatur yang berkaitan dengan Sumbawa. Menurutnya, langkah tersebut menjadi kebutuhan mendesak agar sumber-sumber sejarah tidak hilang dan dapat diakses secara lebih luas oleh masyarakat, terutama generasi muda.
“Jangan sampai kita cuma tahu secara umur biologis,” kata Prof Iwan.
Pernyataan itu mengandung pesan bahwa pemahaman terhadap sejarah tidak cukup hanya mengetahui usia suatu daerah secara administratif. Masyarakat juga perlu memahami proses perjalanan sejarah, pembentukan identitas, serta perkembangan Tana Samawa secara utuh berdasarkan kajian ilmiah dan fakta historis.
Pertemuan tersebut menghasilkan sejumlah gagasan strategis yang dinilai penting untuk ditindaklanjuti, di antaranya penguatan dokumentasi sejarah, digitalisasi arsip, serta pengembangan Sumbawa Studies sebagai pusat kajian akademik. Langkah-langkah tersebut diharapkan mampu mendukung pelestarian sekaligus pengembangan pengetahuan tentang Tana Samawa secara berkelanjutan.
Forum KTS dan kalangan akademisi sepakat bahwa pengkajian Hari Lahir Tana Samawa tidak semata-mata berkaitan dengan penetapan tonggak sejarah daerah. Lebih dari itu, kajian tersebut menjadi momentum untuk memperkuat jati diri, membangun kesadaran sejarah, serta menumbuhkan kebanggaan masyarakat terhadap warisan budaya dan sejarah Tana Samawa. (Gar)