PT GAUNG NUSRA MEDIA AMANAH

Film Jadi Media Cegah Pernikahan Dini

Festival Film Lombok bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Dikpora) NTB menggelar Workshop Film Festival Film Lombok 2026, di SMKN 3 Sumbawa, Rabu (20/5).

E
Penulis Editor
Tanggal 21 May 2026, 10:55 WITA
Film Jadi Media Cegah Pernikahan Dini
Workshop Film Festival Film Lombok 2026, di SMKN 3 Sumbawa, Rabu (20/5).

Sumbawa Besar, GaungNUSRA Online 

Festival Film Lombok bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Dikpora) NTB menggelar Workshop Film Festival Film Lombok 2026, di SMKN 3 Sumbawa, Rabu (20/5). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya edukasi, guna pencegahan pernikahan dini di kalangan pelajar melalui media film.

Workshop menghadirkan Direktur Festival Film Lombok, Budi Triono, sebagai narasumber. Dalam paparannya, Budi menjelaskan bahwa Festival Film Lombok hadir sebagai ruang apresiasi, ekspresi, dan pengembangan kreativitas bagi para pembuat film di NTB.

Ia mengungkapkan, gerakan Festival Film Lombok dimulai sejak 2010 dan sempat vakum pada 2013 akibat proses regenerasi komunitas mahasiswa. Setelah kembali digelar pada 2024, antusiasme peserta terus meningkat hingga memasuki tahun ketiga pelaksanaan pada 2026.

“Tahun ini kami mulai mengadakan workshop keliling NTB. Kalau sebelumnya hanya di Mataram, sekarang kami bisa menjangkau daerah lain karena mendapat dukungan dari Dikpora NTB,” ujarnya.

Menurut Budi, workshop tersebut bukan sekadar pelatihan membuat film. Tetapi juga sarana sosialisasi isu sosial yang dekat dengan kehidupan remaja, khususnya persoalan pernikahan dini. Melalui film, para pelajar diajak menyampaikan pandangan, gagasan, dan keresahan mereka terkait dampak negatif pernikahan usia muda.

Ia menilai film menjadi media alternatif yang efektif dalam menyampaikan pesan sosial kepada generasi muda. Tingginya minat masyarakat terhadap film Indonesia saat ini, dinilai menjadi momentum tepat untuk memanfaatkan film sebagai sarana edukasi.

“Film itu media propaganda yang sangat efektif untuk menyampaikan pesan atau isu. Anak-anak muda bisa lebih merasakan dampak pernikahan dini melalui cerita-cerita yang dekat dengan kehidupan mereka,” katanya.

Dalam setiap workshop yang digelar di kabupaten/kota se-NTB, panitia juga memutar film pendek karya pelajar bertema pernikahan dini. Langkah tersebut dilakukan agar peserta dapat memahami kompleksitas persoalan yang muncul akibat ketidaksiapan mental, ekonomi, maupun finansial dalam pernikahan usia muda.

“Lewat film, mereka bisa melihat bahwa pernikahan bukan sesuatu yang sederhana. Ada banyak persoalan yang bisa muncul ketika seseorang belum siap secara mental maupun ekonomi,” jelasnya.

Program workshop ini akan berlangsung hingga Desember 2026. Setelah tahap pembekalan kepada pelajar, mahasiswa, dan komunitas kreatif di NTB, Festival Film Lombok akan membuka kompetisi produksi film bertema pernikahan dini yang nantinya diputar dalam festival akhir tahun.

Budi berharap kegiatan tersebut dapat meningkatkan kesadaran generasi muda tentang kekuatan film. Dimana film sebagai media penyampai pesan, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif di daerah.

Ia optimistis perkembangan industri film di NTB akan membuka peluang lahirnya sineas-sineas muda dari Lombok dan Sumbawa, yang mampu menghasilkan karya berkualitas hingga dapat diputar di bioskop nasional.

“Film bisa menjadi lokomotif ekonomi kreatif karena di dalamnya ada musik, teater, dan berbagai sektor lain yang ikut berkembang. Kami berharap suatu saat nanti lahir film-film hebat dari NTB,” tandasnya. (Gar)

Bagikan Berita Ini: