PT GAUNG NUSRA MEDIA AMANAH

Disparpora KSB Dorong Setiap Desa Miliki Branding

Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) terus mendorong pengembangan pariwisata berbasis masyarakat dengan memperkuat identitas dan potensi masing-masing desa.

E
Penulis Editor
Tanggal 02 Oct 2026, 11:12 WITA
 Disparpora KSB Dorong Setiap Desa Miliki Branding
Disparpora KSB Dorong Pariwisata Kerakyatan Berbasis Desa: Angkat Branding Seloto Hingga Pantai Balat dan Jajaki Kemitraan Unram

Sumbawa Barat, GaungNUSRA
Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) terus mendorong pengembangan pariwisata berbasis masyarakat dengan memperkuat identitas dan potensi masing-masing desa.

Setiap desa diharapkan mampu memiliki branding atau ciri khas tersendiri yang diangkat dari potensi lokal, sejarah maupun budaya. Konsep tersebut diarahkan agar masyarakat tidak hanya menjadi bagian dari aktivitas pariwisata, tetapi juga menjadi pelaku utama yang memperoleh manfaat ekonomi.

Kepala Disparpora KSB, H Nurdin Rahman SE, mengatakan pengembangan pariwisata kerakyatan harus menempatkan masyarakat sebagai aktor utama dalam mengelola potensi yang dimiliki secara berkelanjutan.

“Setiap desa di Sumbawa Barat punya keunggulan tersendiri yang bisa dijual. Konsep pariwisata kerakyatan ini menekankan bagaimana masyarakat bisa berpartisipasi aktif dan mengelola potensi desanya secara berkelanjutan,” ujar Nurdin, Rabu (30/9).

Ia menyebut sejumlah desa memiliki potensi yang dapat dikembangkan menjadi identitas wisata. Desa Seloto, misalnya, memiliki sejarah keislaman yang kuat sehingga berpeluang dikembangkan sebagai “Desa Santri”. Selain itu, desa tersebut memiliki kuliner tradisional seperti sumpin dan tabang pengok yang dinilai perlu kembali diperkenalkan kepada masyarakat dan wisatawan.

Desa Banjar juga memiliki potensi wisata berbasis sungai. Sungai yang relatif bersih dan tidak pernah kering dapat dikembangkan untuk berbagai aktivitas, seperti kano, lomba perahu kecil, kuliner di tepian sungai hingga kawasan hijau.

Sementara Pantai Balat memiliki nilai sejarah karena pernah menjadi kawasan pelabuhan pada masa pemerintahan Belanda yang digunakan untuk aktivitas perdagangan lintas wilayah.

Potensi pariwisata juga terdapat di kawasan selatan KSB, khususnya Maluk. Tingginya aktivitas industri smelter dinilai membuka peluang pengembangan ekonomi masyarakat melalui sektor pariwisata dan kuliner.

Menurut Nurdin, keberadaan industri tersebut akan mendorong masuknya tenaga kerja dari berbagai daerah. Kondisi itu dapat dimanfaatkan dengan mengembangkan pusat kuliner Nusantara sekaligus memperkuat peran Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dan pemuda lokal.

Namun, pengembangan pariwisata berbasis masyarakat tidak cukup hanya dengan membangun fasilitas fisik. Disparpora KSB juga menaruh perhatian pada kesiapan kelembagaan dan sumber daya manusia (SDM).

Saat ini, edukasi mengenai sadar wisata dan hospitality terus dilakukan kepada masyarakat. Selain itu, pemerintah juga mendorong pembentukan BUMDes Bersama untuk mengelola potensi kawasan wisata yang melibatkan lebih dari satu desa, termasuk di wilayah Brang Ene dan Brang Rea.

“Pembangunan fasilitas itu mudah dan cepat. Namun, yang paling berat adalah membangun kapasitas masyarakatnya. Sebelum gempuran investasi dan digitalisasi masuk, BUMDes, pemuda dan Pokdarwis harus sudah siap,” tegasnya.

Untuk memperkuat tata kelola pariwisata berbasis masyarakat, Disparpora KSB juga tengah menjajaki kerja sama dengan Universitas Mataram (Unram). Kerja sama tersebut diarahkan untuk menyusun konsep pengelolaan pariwisata berbasis masyarakat yang terukur, terarah dan berkelanjutan. (Gbw) 

Bagikan Berita Ini: