Sumbawa Barat, GaungNUSRAonline
Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), hingga kini belum menetapkan status siaga darurat kekeringan. Meski secara kalender wilayah tersebut telah memasuki musim kemarau. Keputusan itu masih dalam tahap pengkajian menyusul fenomena cuaca yang tidak menentu atau dikenal sebagai “kemarau basah”.
Kepala BPBD Sumbawa Barat, Abdullah menjelaskan, kondisi cuaca sepanjang April masih bersifat fluktuatif. Terik matahari kerap muncul, namun tidak jarang disusul hujan dengan intensitas tertentu. Situasi ini dinilai belum cukup kuat untuk menetapkan status siaga kekeringan.
“Secara kalender memang sudah masuk kemarau, tetapi hujan masih sering terjadi. Jika kami menetapkan status siaga kekeringan, sementara kondisi di lapangan justru berpotensi banjir, tentu itu tidak tepat. Karena itu, kami masih terus memantau perkembangan,” ujarnya, Senin (20/4).
Meski belum menetapkan status resmi, BPBD memastikan mekanisme penanganan bencana tetap berjalan sesuai prosedur. Penetapan status siaga nantinya akan didasarkan pada laporan dari pemerintah desa yang kemudian diverifikasi melalui asesmen lapangan oleh tim terkait.
Berdasarkan evaluasi tahun-tahun sebelumnya, persoalan utama yang kerap muncul saat musim kemarau di Sumbawa Barat adalah krisis air bersih. Untuk mengantisipasi hal tersebut, pemerintah daerah telah menyiapkan langkah jangka panjang melalui pembangunan infrastruktur permanen di sejumlah titik rawan.
Selain itu, BPBD juga merencanakan pembangunan sumur bor di wilayah yang memiliki potensi sumber air. Sementara untuk daerah yang tidak memungkinkan dilakukan pengeboran, distribusi air bersih akan dilakukan menggunakan mobil tangki dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk PDAM, Bank NTB, serta unsur TNI dan Polri.
“Wilayah yang memiliki sumber air akan kita bangun sumur bor. Sedangkan daerah yang kondisi tanahnya tidak memungkinkan, akan kami suplai air bersih secara berkala,” katanya.
Dalam evaluasi penanganan bencana sepanjang 2025 hingga awal 2026, BPBD mencatat hasil yang relatif positif. Meskipun sempat terjadi cuaca ekstrem dan banjir bandang, tidak ada korban jiwa yang dilaporkan. Genangan air juga disebut cepat surut dan kerusakan infrastruktur dapat segera ditangani oleh instansi terkait.
Selain banjir, terang Abdullah, bencana angin puting beliung juga sempat terjadi dan menyebabkan kerusakan pada sejumlah rumah warga. Namun, seluruh dampak kerusakan tersebut telah ditangani dan direhabilitasi.
BPBD turut mengimbau masyarakat untuk meningkatkan mitigasi mandiri dengan lebih peduli terhadap lingkungan sekitar. Langkah sederhana seperti pengelolaan sampah dan pemangkasan pohon yang berpotensi tumbang dinilai penting untuk mengurangi risiko bencana.
Momentum kesiapsiagaan ini juga akan diperingati secara nasional melalui Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional pada 26 April mendatang. Mengusung tema “Siap untuk Selamat”, BPBD Sumbawa Barat berencana menggelar simulasi penanganan bencana di kawasan KTC (Kemutar Telu Center).
“Bencana memang tidak bisa dihindari, tetapi risikonya dapat diminimalkan melalui kesiapsiagaan dan mitigasi. Itu yang terus kami dorong kepada masyarakat,” pungkasnya. (Gbw)