Memasuki tahhun ajaran baru, para orang tua sibuk mempersiapkan kelengkapan sekolah untuk anaknya. Salah satunya adalah seragam sekolah. Dari jenjang sekolah dasar hingga sekolah menengah wajib menggunakan seragam saat berada di sekolah. Pertanyaannya, apa pentingnya menggunakan seragam saat belajar di sekolah? Apakah belajar (berfikir) memilki keterkaitan secara langsung dengan penggunaan seragam? Sebab, menurut hemat saya, belajar di kelas tanpa menggunakan seragam (memakai baju bebas) juga dapat berjalan. Karena, belajar adalah proses menumbuh kembangkan potensi pada siswa. Tidak ada kaitannya dengan menggunakan seragam. Hal ini perlu dipertanyakan, sebab tidak sedikit orang tua siswa yang merasa berat untuk menyiapkan seragam sekolah anaknya setiap tahun ajaran baru. Terutama orang tua yang berada di ekonomi bawah. Secara sekilas, mungkin pendapat di atas ada benarnya. Bahwa tidak ada keterkaitan antara penggunaan seragam dengan belajar di dalam kelas.
Namun, kedua hal ini akan menemukan keterkaitannya jika direnungkan lebih dalam. Secara abstraksi, seragam dan belajar (berfikir) sama-sama memiliki nilai kesetaraan. Seragam yang digunakan oleh siswa melambangkan kesetaraan antara siswa. Berbagai macam latar belakang siswa disetarakan dengan menggunakan seragam yang sama saat berada di sekolah. Kita dapat bayangkan ketika siswa tidak menggunakan seragam di sekolah, siswa datang ke sekolah menggunakan pakaian bebas. Hal ini memperlihatkan kesenjangan antar siswa. Siswa akan menggunakan pakaian sesuai dengan kemampuannya secara ekonomi. Siswa yang orang tuanya berekonomi tinggi cendrung akan memfasilitasi anaknya dengan berbagai kemewahan termasuk dalam berpakaian. Lain halnya dengan siswa yang orang tunya berekonomi rendah, akan berpakain seadanya. Hal ini akan menunjukan ketidaksetaraan antar siswa. Siswa yang berpakaian seadanya cendrung akan merasa minder di sekolah. Hal ini akan mempengaruhi aktivitas belajar di kelas. Oleh karena itu, pentingnya seragam bagi siswa untuk membangun kesetaraan antar siswa di sekolah.
Begitu juga saat belajar di kelas. Perlu adanya kesetaraan antar siswa dan guru. Selama ini hubungan guru dan siswa kaitannya dengan proses belajar di kelas cendrung tidak setara. Peran guru lebih dominan di dalam kelas dibandingkan dengan siswa. Sehingga siswa menjadi pasif dalam proses belajar. Hal ini sesuai dengan konsep pendidikan gaya bank yang dikemukakan oleh Paulo Freire seorang filsuf Pendidikan asal Brazil. Pendidikan dianggap sebagai proses menabung dimana guru sebagai subyek pendidikan aktif menyetor atau menjejalkan ilmu dan murid sebagai Tabungan yang selalu diisi. Dengan analogi lain, murid diibaratkan sebagai gelas kosong yang diisi air (ilmu) oleh gurunya. Proses belajar seperti ini hanya mentransfer ilmu yang dimiliki oleh guru kepada siswa. siswa menerima dengan pasrah apa yang diajarkan oleh guru. Akhirnya, potensi yang ada pada diri siswa tidak berkembang.
Bagaimana membangun kesetaraan antara guru dan siswa di dalam kelas? Salah satunya dengan memposisikan siswa sebagai subyek belajar dan guru sebagai fasilitatornya. Guru memfasilitasi tumbuh kembangnya siswa berdasarkan potensinya. Siswa memiliki potensi yang sangat beragam baik dari tingkat kognisi, maupun dari minat dan bakatnya. Ada siswa yang memiliki tingkat kognisi yang tinggi tinggi, sedang, dan rendah. Begitu pula minat dan bakatnya, ada siswa yang memiliki minat dan bakat di bidanga akademis, seni, olahraga, dll. Hal ini sangat mempengaruhi prose belajar di kelas.
Sebagai contoh, ketika menjelaskan materi tertentu dengan menggunakan metode yang sama untuk semua siswa, maka dapat dipastikan tidak semua siswa mampu memahami materi tersebut. Karena siswa memiliki karakteristik yang berbeda-beda baik dari gaya belajarnya maupun pada tingkat pemahamannya. Pada akhirnya, siswa yang tidak mampu memahami isi materi cendrung merasa diabaikan. Disinilah letak ketidaksetaraan antara guru dan siswa.
Untuk mengatasi hal ini, guru perlu melakukan sesuatu untuk mengajar siswa sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Terlebihdahulu, guru memetakan potensi siswa. Proses pemetaan ini dapat dilakukan dengan menggunakan tes diagnostik. Tes ini dilaksanakan di awal pembelajaran untuk mendiagnosa potensi, minat, dan bakat siswa. Tes ini dapat berupa pertanyaan-pertanyan singkat, soal, pengamatan tergantung kebutuhan. Berdasarkan hasil tes, guru dapat merancang pembelajaran yang berdasarkan potensi atau kemampuan siswa. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan oleh guru dalam konteks ini adalah pendekatan diferensiasi. Pendekatan ini merupakan salah satu pendekatan yang membelajarkan siswa sesuai dengan kebutuhan dan potensinya.
Dengan begitu, murid akan belajar sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Hal ini akan memunculkan benih-benih kesetaraan dalam pembelajaran di kelas. Dalam konteks ini kesetaraan bukan memberikan perlakuan yang sama kepada setiap siswa. Tetapi, Kesetaraan dalam pembelajaran ketika siswa belajar sesuai dengan potensinya masing-masing.
Berdasarkan uraian di atas, kita dapat menemukan pentingnya penggunaan seragam saat belajar di sekolah. Penggunaan seragam ini dapat membangun pandangan setara antar siswa di sekolah. Begitu juga pada aktivitas belajar di kelas, kesetaraan antar guru dan siswa dapat dilihat ketika guru sebagai fasilitator dapat menyajikan pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan siswa. dari kedua hal tersebut, kita sedang membiasakan penerapan nilai-nilai kesetaraan. (Hari Arfan, Penulis adalah guru di SMAN 1 Alas Barat)