Sumbawa Besar, GaungNUSRAonline
Rangkaian kegiatan Safari Ramadan Pemerintah Kabupaten Sumbawa berakhir di Masjid Besar Darussalam, Kamis (5/3). Kegiatan yang berlangsung khidmat tersebut dipimpin langsung Wakil Bupati Sumbawa, Drs H Mohamad Ansori, bersama jajaran pemerintah daerah dan tokoh masyarakat setempat.
Kegiatan Safari Ramadan itu menjadi momentum mempererat silaturahmi antara pemerintah daerah dan masyarakat sekaligus memperkuat nilai-nilai keagamaan di tengah kehidupan sosial masyarakat.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut pimpinan DPRD Kabupaten Sumbawa, perwakilan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Asisten Administrasi Umum Sekretariat Daerah Kabupaten Sumbawa, para kepala perangkat daerah, Camat Rhee bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam), Kepala Kantor Urusan Haji dan Umrah, Ketua Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Sumbawa, Kepala Desa Rhee, serta para tokoh agama dan tokoh masyarakat setempat.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pelaksanaan salat Zuhur berjamaah yang diikuti oleh masyarakat Desa Rhee bersama rombongan Safari Ramadan Pemerintah Kabupaten Sumbawa. Suasana kebersamaan terlihat dari antusiasme warga yang memadati masjid untuk mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.
Setelah pelaksanaan salat berjamaah, kegiatan dilanjutkan dengan tausiyah yang disampaikan oleh Ustadz Hidayatullah. Dalam ceramahnya, ia mengajak jamaah untuk mentadaburi kisah Nabi Yunus AS sebagai pelajaran penting dalam kehidupan sosial umat manusia.
Menurutnya, salah satu penyakit hati yang dapat merusak keharmonisan kehidupan bermasyarakat adalah rasa dendam yang tidak mampu dikendalikan.
Ia menjelaskan bahwa dendam yang dipelihara dalam diri seseorang berpotensi melahirkan berbagai tindakan yang merusak hubungan sosial, bahkan dapat memicu konflik di tengah masyarakat.
“Ketika seseorang tidak mampu meredam dendam, maka hal itu dapat menjadi sumber kerusakan dalam kehidupan bermasyarakat. Karena itu, kita harus belajar mengendalikan emosi dan memperkuat kesabaran,” ujarnya di hadapan jamaah.
Ustadz Hidayatullah juga mengingatkan tentang doa yang dipanjatkan Nabi Yunus ketika berada dalam perut ikan paus sebagai bentuk pengakuan atas kelemahan manusia di hadapan Allah SWT. Kisah tersebut, kata dia, menjadi pengingat penting tentang nilai kerendahan hati, kesabaran, serta pentingnya introspeksi diri.
Nilai-nilai tersebut, lanjutnya, menjadi fondasi penting dalam membangun kehidupan masyarakat yang harmonis dan saling menghargai.
Pada kesempatan tersebut, Pemerintah Kabupaten Sumbawa juga menyerahkan sejumlah bantuan untuk mendukung kegiatan keagamaan dan pengembangan masjid.
Bantuan yang disalurkan berupa dana pembangunan sebesar Rp25 juta dari pemerintah daerah untuk Masjid Besar Darussalam. Selain itu, Baznas Kabupaten Sumbawa turut menyalurkan bantuan sebesar Rp10 juta bagi masjid serta 20 paket sembako bagi masyarakat yang membutuhkan.
Sementara itu, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sumbawa juga memberikan bantuan berupa 10 mushaf Al-Qur’an untuk mendukung kegiatan keagamaan di masjid tersebut.
Dalam sambutannya, Wakil Bupati Sumbawa, Drs H Mohamad Ansori, menyampaikan apresiasi kepada masyarakat Desa Rhee, serta panitia pembangunan masjid yang telah bekerja keras mewujudkan berdirinya Masjid Besar Darussalam yang kini tampak megah.
Menurutnya, proses pembangunan rumah ibadah sering kali tidak mudah karena menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan dana hingga keraguan sebagian pihak.
Namun dengan semangat kebersamaan dan gotong royong masyarakat, pembangunan masjid tersebut akhirnya dapat diselesaikan dengan baik.
“Kita menyaksikan sendiri hari ini masjid ini berdiri megah. Padahal pada awal pembangunan banyak yang meragukan apakah masjid ini dapat selesai. Namun berkat kerja keras panitia dan dukungan masyarakat, akhirnya masjid ini dapat berdiri seperti sekarang,” ujarnya.
Ansori menegaskan bahwa setelah pembangunan fisik masjid selesai, tantangan berikutnya adalah memastikan masjid tersebut benar-benar hidup dan dimakmurkan oleh masyarakat melalui berbagai kegiatan keagamaan.
Ia mengingatkan agar masjid tidak hanya menjadi bangunan megah, tetapi juga menjadi pusat aktivitas ibadah, pendidikan, dan kegiatan sosial kemasyarakatan.
“Masjid jangan hanya megah bangunannya, tetapi sepi dari kegiatan. Masjid jangan sampai digembok. Masjid harus menjadi pusat peradaban umat,” tegasnya.
Untuk itu, Wabup mendorong agar pengelolaan masjid dapat dilakukan secara lebih terorganisir melalui pembentukan Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) yang aktif mengelola berbagai kegiatan keagamaan dan sosial di lingkungan masjid.
Dalam suasana penuh kebersamaan tersebut, Wakil Bupati juga mengajak para kepala perangkat daerah yang turut hadir untuk memberikan kontribusi pribadi dalam mendukung penyempurnaan pembangunan masjid.
Ia mengusulkan agar setiap kepala perangkat daerah dapat membantu secara sukarela, misalnya dengan menyumbangkan material pembangunan seperti keramik untuk kebutuhan masjid.
“Kalau setiap kepala perangkat daerah bisa membantu, misalnya lima meter keramik, maka dengan semangat gotong royong pembangunan masjid ini dapat segera disempurnakan,” ujarnya.
Ajakan tersebut disambut positif oleh para pejabat yang hadir sebagai bentuk dukungan terhadap upaya memakmurkan rumah ibadah sekaligus memperkuat nilai kebersamaan di tengah masyarakat. (Gad/Hms)