PT GAUNG NUSRA MEDIA AMANAH

Protes Debu Proyek, Warga Blokir Jalan Depan RSUD Sering

Warga Desa Kerato Kecamatan Unter Iwes, memblokir ruas Jalan Sultan Kaharuddin, tepatnya di depan RSUD Sumbawa, Senin (28/9).

E
Penulis Editor
Tanggal 29 Sep 2026, 12:17 WITA
 Protes Debu Proyek, Warga Blokir Jalan Depan RSUD Sering
Tampak warga yang memblokir jalan di depan RSUD Sering, sebagai upaya protes akibat debu pengerjaan jalan tersebut.

Sumbawa Besar, GaungNUSRA 

Warga Desa Kerato Kecamatan Unter Iwes, memblokir ruas Jalan Sultan Kaharuddin, tepatnya di depan RSUD Sumbawa, Senin (28/9). Warga menutup kedua sisi jalan menggunakan kayu dan meja panjang, sebagai bentuk protes terhadap dampak debu dari pekerjaan peningkatan jalan.

Aksi tersebut membuat kendaraan yang biasa melintas di jalur utama itu tidak dapat melewati lokasi. Pengendara dari kedua arah terpaksa memutar balik untuk mencari akses lain.

Meski melakukan pemblokiran, warga tetap membuka akses bagi kendaraan yang hendak menuju RSUD Sumbawa di kawasan Sering. Mereka tidak ingin aksi tersebut menghambat masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan.

Warga menggelar aksi karena debu halus dari material tanah di lokasi pekerjaan, mengganggu aktivitas sehari-hari. Kondisi itu terutama dirasakan warga dan pedagang yang tinggal serta menjalankan usaha di sepanjang ruas jalan.

Salah seorang warga sekitar, Darma Rado, mengatakan debu proyek telah mengganggu lingkungan dan aktivitas para pedagang. Debu yang beterbangan masuk ke tempat usaha dan mengganggu kenyamanan pengunjung.

Rado juga mempertanyakan lambannya pekerjaan peningkatan jalan yang sudah berlangsung hampir tiga bulan, tetapi hingga kini belum memasuki tahap pengaspalan.

Menurut dia, kondisi semakin mengganggu setelah penyiraman jalan tidak lagi berlangsung secara rutin. Padahal, sebelumnya petugas menyiram ruas jalan tersebut hingga dua kali sehari.

“Sekarang sudah sekitar tiga minggu tidak disiram secara rutin. Kami mempertanyakan ada apa dan mengapa pekerjaan jalan ini tidak diurus serius oleh pelaksana,” kata Rado.

Warga bahkan mengambil inisiatif sendiri untuk mengurangi debu. Sejumlah pemilik rumah makan di sekitar lokasi menyiram jalan secara mandiri agar debu tidak masuk ke tempat usaha dan mengganggu pengunjung.

Rado menilai, warga sudah cukup lama merasakan dampak pekerjaan tersebut. Ia meminta pihak yang bertanggung jawab, segera mengambil langkah karena debu halus muncul hampir setiap hari.

“Kami mengecam dan menuntut rugi karena gangguan kesehatan akibat debu halus yang kami rasakan setiap hari,” tegasnya.

Pantauan di lokasi menunjukkan warga mulai memblokir jalan sekitar pukul 09.00 Wita. Mereka belum menentukan waktu pembukaan kembali ruas jalan tersebut.

Warga menyatakan akan mempertahankan pemblokiran apabila tidak ada respons dan tindakan nyata untuk mengatasi persoalan debu serta mempercepat pekerjaan jalan.

Ketua BPD Desa Kerato, Kecamatan Unter Iwes, Syafutra Akbar Yasin, mengatakan aksi tersebut muncul karena warga mulai jenuh menghadapi dampak lingkungan akibat proyek. Kondisi itu, kata dia, telah mengganggu aktivitas masyarakat di sekitar lokasi.

Syafutra juga menyebut terdapat warga yang memiliki gangguan pernapasan sehingga kondisi jalan berdebu semakin dikhawatirkan berdampak terhadap kesehatan.

“Harapan kami ini menjadi atensi. Kami memang memahami secara teknis, tetapi paling tidak jalan rutin disiram. Aksi ini merupakan aksi damai dari warga kami di Desa Kerato,” ujarnya.

Syafutra menegaskan, warga tetap mendukung program pembangunan jalan yang dikerjakan Pemerintah Provinsi NTB. Warga menilai peningkatan jalan tersebut penting karena menjadi salah satu jalur yang mendukung aktivitas dan pergerakan ekonomi masyarakat Kecamatan Unter Iwes.

“Kami meminta Pemprov mem-pressure pelaksana jalan agar lebih cepat memproses pengerjaan,” katanya.

Mengetahui aksi tersebut, Kepala UPTD Balai Pemeliharaan Jalan Provinsi Pulau Sumbawa pada Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Provinsi NTB, Mustafa ST MT, langsung mendatangi lokasi.

Mustafa kemudian berdiskusi dengan warga bersama Pemerintah Desa Kerato dan pihak Polres Sumbawa. Pertemuan tersebut membahas keluhan warga, terutama terkait debu dan lambannya proses pengaspalan.

Mustafa mengatakan, pemerintah terus menangani pekerjaan peningkatan jalan. Agar proyek tidak menimbulkan dampak berkepanjangan bagi masyarakat sekitar.

“Kami tingkatkan jalan ini supaya tidak ada keluhan masyarakat. Terkait debu, kami juga jaga hal ini dan berkoordinasi dengan Pemda untuk mengawali pekerjaan,” katanya di lokasi.

Mustafa memastikan, pihaknya akan kembali melakukan penyiraman jalan setiap hari untuk mengurangi debu akibat aktivitas pekerjaan.

Ia mengakui, penyiraman sebelumnya belum berjalan sesuai kebutuhan. Menurutnya, persoalan tersebut berkaitan dengan anggaran penyiraman yang masuk dalam APBD Perubahan.

“Dua bulan tidak disiram menurut warga, kami siram. Dari sisi kelemahan kami kaitan debu, anggarannya di APBD perubahan. Kami telat bayar penyiraman,” ujarnya.

Mustafa mengatakan, pihaknya akan berkoordinasi dengan Bupati Sumbawa mengenai kebutuhan penyiraman dan frekuensinya. Ia memastikan penyiraman kembali dilakukan, sesuai kesepakatan dengan warga.

“Hal ini akan dikoordinasikan ke Bupati mengenai kekurangan frekuensi penyiraman. Tetap kami siram sesuai kesepakatan,” tegasnya.

Selain debu, warga juga mengeluhkan munculnya genangan air di sekitar ruas jalan tersebut. Mustafa mengatakan pihaknya bersama Pemerintah Kabupaten Sumbawa telah membahas penanganan genangan tersebut.

“Jalan ini untuk masyarakat. Keluhan masyarakat yang terdampak seperti genangan air sudah kami bahas solusinya bersama Pemda. Buangannya akan kami alirkan ke Sungai Brang Bara,” jelasnya.

Terkait pengaspalan, Mustafa mengatakan pemerintah akan menggunakan anggaran melalui APBD Perubahan. Pengaspalan akan dilakukan setelah pekerjaan awal di lapangan rampung.

Ia berharap pekerjaan pengaspalan dapat dimulai pada awal Oktober 2026. 

“Rencana pengaspalan mudah-mudahan awal Oktober bisa mulai,” katanya.

Mustafa menyebut pihaknya masih menunggu jadwal produksi Asphalt Mixing Plant (AMP), untuk memastikan tahapan pengaspalan dapat dimulai.

“Sejujurnya semakin lama diaspal akan rugi. Sekarang menunggu jadwal produksi AMP,” ujarnya.

Di tengah persoalan tersebut, warga juga sempat mengeluarkan biaya sendiri untuk menyiram ruas jalan. Langkah itu mereka lakukan ketika aktivitas masyarakat di sekitar lokasi meningkat.

“Kami bayar mandiri penyiram karena ada acara warga,” kata Rado.

Mustafa mengapresiasi warga yang menyampaikan keluhan secara langsung. Menurutnya, pertemuan di lokasi membuat persoalan dapat dibahas bersama dan segera dicarikan penanganan.

“Kami bersyukur ada keluhan masyarakat dan bertemu langsung dengan masyarakat,” ujarnya.

Tidak lama setelah pertemuan, Mustafa menghubungi pihak Pemadam Kebakaran untuk melakukan penyiraman ruas jalan yang diblokir warga. Penyiraman tersebut menjadi salah satu syarat yang diminta warga sebelum membuka kembali blokir jalan. (Gar)



Bagikan Berita Ini: