Sumbawa Barat, GaungNUSRA
Tingkat Gemar Membaca (TGM) masyarakat Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), baru mencapai 63 persen. Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah (Arpusda) KSB masih mendorong peningkatan budaya membaca. Karena, angka tersebut belum mencapai target yang ditetapkan.
Sekretaris Dinas Arpusda KSB, Hermanto SPd MM mengatakan, pemerintah daerah terus mengembangkan berbagai program untuk meningkatkan kegemaran membaca masyarakat. Namun, upaya tersebut membutuhkan dukungan dari lingkungan terdekat masyarakat, terutama keluarga.
Hermanto menilai keluarga memiliki peran penting dalam membentuk kebiasaan membaca sejak usia dini. Orang tua dapat mengenalkan buku kepada anak sekaligus membatasi penggunaan gawai yang tidak berkaitan dengan kebutuhan belajar.
“Dukungan penuh terus diberikan oleh Ibu Wakil Bupati selaku Bunda Literasi. Namun, kita harus mengakui tingkat kegemaran membaca masyarakat saat ini baru sekitar 63 persen,” ujar Hermanto, Kamis (17/9).
Menurutnya, perkembangan teknologi digital menghadirkan tantangan baru dalam membangun kebiasaan membaca. Penggunaan gawai yang semakin mudah diakses anak membuat orang tua perlu memberikan pendampingan dan membangun pola penggunaan perangkat digital secara lebih terarah.
Hermanto menyoroti kebiasaan sebagian orang tua yang memberikan gawai kepada anak untuk mengalihkan perhatian ketika anak menangis atau rewel. Ia mendorong orang tua mengganti kebiasaan tersebut dengan aktivitas yang dapat merangsang kemampuan berpikir dan membangun karakter anak.
Ia menyebut buku dapat menjadi salah satu media yang digunakan orang tua untuk mendampingi tumbuh kembang anak. Orang tua dapat mengajak anak membaca bersama, menceritakan isi buku, dan mendiskusikan hal-hal sederhana yang mereka temukan dari bacaan.
“Lingkungan keluarga memegang kunci utama. Jika budaya membaca tumbuh dari rumah dan desa, tingkat kegemaran membaca di Sumbawa Barat pasti akan naik,” katanya.
Data Arpusda KSB menunjukkan perpustakaan daerah masih menjadi salah satu ruang yang dimanfaatkan masyarakat. Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, sebanyak 4.619 orang tercatat mengunjungi perpustakaan daerah.
Dari jumlah tersebut, pengunjung perempuan mencapai 2.708 orang atau 58,63 persen. Sementara pengunjung laki-laki mencapai 1.911 orang atau 41,37 persen.
Arpusda juga mencatat pemanfaatan Pojok Baca Digital (Pocadi) masih rendah. Dalam periode yang sama, layanan tersebut hanya mencatat 37 pengunjung atau sekitar 0,80 persen dari total kunjungan yang tercatat.
Hermanto mengatakan, kondisi tersebut menunjukkan perlunya peningkatan pemanfaatan layanan literasi berbasis digital. Arpusda perlu memperluas jangkauan layanan sekaligus mengenalkan fasilitas tersebut kepada masyarakat.
Menurutnya, perkembangan teknologi tidak harus menjadi hambatan bagi budaya membaca. Pemerintah justru perlu mengarahkan pemanfaatan teknologi agar masyarakat dapat mengakses bahan bacaan dan informasi secara lebih mudah.
“Literasi tidak sebatas kegiatan membaca. Literasi juga mencakup kemampuan memahami, berpikir kritis, hingga menuangkan gagasan dalam bentuk tulisan,” ujarnya.
Hermanto mendorong seluruh desa di KSB mengaktifkan pojok literasi. Pemerintah desa dapat menyediakan ruang yang mudah diakses masyarakat untuk membaca, berdiskusi, dan membedah buku.
Ia menilai keberadaan pojok literasi di desa dapat memperluas akses masyarakat terhadap bahan bacaan. Ruang tersebut juga dapat mendorong anak-anak, pelajar, pemuda, dan masyarakat umum membangun kebiasaan membaca secara bersama-sama.
Di tengah upaya meningkatkan budaya literasi, KSB juga mendapat kepercayaan menjadi tuan rumah Kemah Literasi Nusa Tenggara Barat (NTB) 2027. Penetapan tersebut dilakukan oleh Gubernur NTB bersama Bunda Literasi NTB.
Hermanto berharap agenda tersebut dapat menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengembangkan berbagai kegiatan literasi. Arpusda juga terus mendorong keterlibatan keluarga, sekolah, desa, dan komunitas dalam membangun budaya membaca di daerah.
“Kita ingin masyarakat tidak hanya membaca, tetapi juga mampu memahami informasi, mengolahnya secara kritis, kemudian menuangkannya dalam bentuk gagasan,” kata Hermanto. (Gbw)