Sumbawa Besar, GaungNUSRA Online
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menegaskan komitmennya mewujudkan lingkungan sekolah yang aman, ramah, dan bebas dari segala bentuk perundungan (bullying). Komitmen tersebut ditegaskan saat tim Direktorat Pembinaan SMP melakukan pemantauan pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah Tahun Ajaran 2026/2027 di SMPN 5 Sumbawa Besar, Senin (13/7).
Kunjungan dipimpin Deni Gemulya dari Tim Subdirektorat Sarana dan Prasarana Direktorat Pembinaan SMP Kemendikdasmen. Turut mendampingi Kepala Bidang Pembinaan SMP Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sumbawa, Junaidi, serta Kepala Seksi Sarana dan Prasarana Bidang Pembinaan SMP, Fitrayuddin.
Sebelum meninjau SMPN 5 Sumbawa Besar, rombongan mengikuti pembukaan MPLS Ramah di SMPN 1 Labuhan Badas bersama Staf Khusus Menteri Bidang Regulasi dan Hubungan Antar Lembaga, Prof Biyanto. Selanjutnya, tim memastikan pelaksanaan MPLS di SMPN 5 berjalan sesuai prinsip pendidikan yang berpihak kepada anak.
Dalam kesempatan itu, Deni menyapa 17 peserta didik baru yang sedang mengikuti rangkaian MPLS. Ia mengingatkan bahwa sekolah harus menjadi tempat yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi seluruh siswa untuk belajar, berinteraksi, sekaligus mengembangkan potensi diri.
Menurutnya, MPLS bukan sekadar agenda pengenalan lingkungan sekolah. Melainkan menjadi tahap awal pembentukan karakter, penumbuhan rasa percaya diri, serta adaptasi peserta didik terhadap budaya belajar di lingkungan yang baru.
"MPLS harus menjadi ruang yang ramah bagi seluruh peserta didik. Tidak boleh ada rasa takut, intimidasi, ataupun perlakuan yang membuat anak merasa tidak nyaman," tegas Deni.
Ia juga menekankan pentingnya membangun budaya sekolah yang humanis, inklusif, dan menghormati hak-hak anak. Seluruh warga sekolah, kata dia, memiliki tanggung jawab menciptakan lingkungan pendidikan yang bebas dari perundungan dan segala bentuk kekerasan, sehingga setiap peserta didik dapat tumbuh dan belajar secara optimal.
Suasana haru sempat mewarnai kunjungan tersebut ketika Deni menanyakan apakah ada peserta didik yatim atau yatim piatu di antara siswa baru. Seorang siswa mengangkat tangan dan mengaku sebagai yatim. Deni kemudian menghampiri dan memeluk siswa tersebut sebagai bentuk perhatian serta dukungan moral.
Momen itu mendapat apresiasi dari para guru yang hadir. Mereka menilai kepedulian tersebut menjadi pesan kuat bahwa pendidikan tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik, tetapi juga pada pembinaan karakter, empati, serta perhatian terhadap kondisi psikologis dan sosial peserta didik.
Kepala Bidang Pembinaan SMP Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sumbawa, Junaidi, mengatakan kehadiran tim Kemendikdasmen menjadi dorongan bagi sekolah untuk terus meningkatkan kualitas layanan pendidikan yang ramah anak.
Ia berharap pesan yang disampaikan selama kunjungan dapat diterapkan secara konsisten dalam kehidupan sekolah sehari-hari sehingga tercipta lingkungan belajar yang aman, inklusif, nyaman, dan bebas dari praktik perundungan. (Gac)