Sumbawa Besar, GaungNUSRA
Peternak sapi di Orong Kelapis Kelurahan Brang Biji Kecamatan Sumbawa, memilih menerapkan sistem kandang kolektif untuk mengantisipasi pencurian ternak. Sejumlah peternak mengumpulkan sapi mereka dalam satu kandang dan menjaga ternak secara bergantian.
Peternak sapi di Orong Kelapis, Mustafa, mengatakan sistem kandang kolektif membuat pengawasan terhadap ternak menjadi lebih mudah. Para pemilik ternak tidak membiarkan sapi berkeliaran tanpa pengawasan, tetapi mengumpulkannya di lokasi yang telah disepakati bersama.
“Dengan kumpul kandang atau kandang kolektif. Sejumlah peternak membangun satu kandang untuk mengumpulkan ternaknya,” kata Mustafa, Senin (31/8).
Menurutnya, para pemilik ternak kemudian membagi jadwal penjagaan. Setiap hari, ada peternak yang bertugas memastikan kondisi sapi tetap aman di dalam kandang.
Mustafa menilai, pola tersebut cukup efektif untuk mencegah pencurian. Kehadiran peternak setiap hari, membuat orang yang berniat mengambil ternak secara ilegal lebih sulit menjalankan aksinya.
“Cara seperti ini lumayan efektif. Karena setiap hari juga ada yang jaga,” ujarnya.
Mustafa menyebut, warga di kawasan Kelapis sebelumnya pernah mengalami kehilangan ternak. Peristiwa tersebut terjadi, ketika masyarakat belum menerapkan sistem kandang kolektif seperti sekarang.
Kondisi itu membuat peternak kemudian mencari cara, untuk memperketat pengawasan terhadap sapi mereka. Warga memilih mengumpulkan ternak dalam satu kandang, agar penjagaan dapat dilakukan secara bersama-sama.
“Sekarang ini sudah aman-aman saja,” kata Mustafa.
Ia menjelaskan, peternak yang masih sering kehilangan ternak, umumnya menggunakan pola pemeliharaan dengan melepas sapi ke area pegunungan atau ladang. Pemilik ternak membiarkan sapi mencari pakan sendiri, tanpa pengawasan langsung sepanjang hari.
Menurut Mustafa, pola tersebut memiliki risiko lebih besar. Ternak yang berkeliaran di area terbuka, lebih mudah ditangkap atau dipindahkan oleh orang lain. Pemilik juga tidak selalu bisa memantau keberadaan ternaknya, karena lokasi penggembalaan cukup jauh dari permukiman.
“Biasanya yang sering kehilangan ternak itu karena ternaknya dilepasliarkan ke area pegunungan dan ladang. Cara seperti itu cukup berisiko karena ternak bisa ditangkap orang lain,” ujarnya.
Meski demikian, sebagian warga Kelapis masih menggunakan pola melepas ternak. Namun, peternak kini lebih banyak memilih lahan milik sendiri sebagai lokasi pemeliharaan. Mereka memasang pagar di sekitar lahan, untuk membatasi pergerakan sapi sekaligus memudahkan pengawasan.
Pagar tersebut membuat ternak tidak bebas keluar menuju kawasan terbuka. Pemilik juga dapat memantau kondisi sapi dengan lebih mudah, dibandingkan ketika ternak dilepas ke pegunungan atau ladang yang jauh dari permukiman.
Selain kandang kolektif, pola pemeliharaan di lahan milik sendiri yang telah dipagari turut membantu peternak mengurangi risiko kehilangan ternak. Warga dapat mengontrol keberadaan sapi, sekaligus membatasi akses orang lain ke lokasi pemeliharaan.
Bagi peternak di Orong Kelapis, lanjut Mustafa, pengawasan bersama menjadi bagian penting dalam menjaga keamanan ternak. Sistem kandang kolektif memungkinkan sejumlah pemilik sapi berbagi tempat, tenaga, dan jadwal penjagaan untuk memastikan ternak tetap berada dalam pengawasan. (Gar)