PT GAUNG NUSRA MEDIA AMANAH

Budayawan Tekankan Jaga Pakem Seni Tradisional

Pekan Kebudayaan Daerah (PKD) Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) 2026 tidak hanya menjadi panggung kreativitas bagi pelajar tingkat sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP)

E
Penulis Editor
Tanggal 31 Jul 2026, 14:53 WITA
 Budayawan Tekankan Jaga Pakem Seni Tradisional
Budayawan KSB H Abdul Gani tegaskan pentingnya menjaga pakem seni tradisional Sumbawa pada PKD 2026 dari pengaruh modern. Ia meluruskan makna gerakan tari hingga tradisi Sakeco, serta mendorong pembentukan sanggar seni di tiap sekol

Sumbawa Barat, GaungNUSRA 

Pekan Kebudayaan Daerah (PKD) Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) 2026 tidak hanya menjadi panggung kreativitas bagi pelajar tingkat sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP). Ajang tahunan tersebut juga dimanfaatkan sebagai momentum untuk memperkuat pelestarian seni tradisional sekaligus menjaga kemurnian pakem budaya Sumbawa di tengah derasnya pengaruh seni modern dan budaya populer.

Hal itu disampaikan Budayawan Sumbawa Barat, H Abdul Gani, yang juga bertugas sebagai dewan juri pada PKD 2026. Di sela pelaksanaan kompetisi seni di halaman Masjid Agung Taliwang, Kamis (30/7), ia mengingatkan pentingnya menjaga keaslian bentuk, gerak, serta nilai filosofis yang terkandung dalam setiap kesenian tradisional Sumbawa.

Menurut Abdul Gani, perkembangan seni kontemporer membawa banyak pengaruh terhadap pola pertunjukan seni daerah. Kondisi tersebut menjadi tantangan karena tidak sedikit penari maupun pembina seni yang mulai mengadopsi gerakan dari luar daerah tanpa memahami makna dan etika yang melekat pada seni tradisional Sumbawa.

Ia menegaskan bahwa setiap gerakan dalam tari tradisional memiliki aturan dan filosofi yang diwariskan secara turun-temurun sehingga tidak dapat diubah sembarangan hanya demi kebutuhan estetika pertunjukan.

"Gerakan seperti Ngumang itu ada etikanya. Lutut tidak boleh diangkat tinggi sejajar paha. Gerakan tegas atau mengangkat kaki tinggi secara ekstrem hanya digunakan dalam tarian ritual tertentu," ujar Abdul Gani.

Selain seni tari, ia juga menyoroti masih adanya kesalahpahaman masyarakat terhadap tradisi tutur Sakeco, khususnya pada bagian Racik. Menurutnya, bagian tersebut kerap disalahartikan sebagai pertunjukan yang mengandung unsur pornografi atau pornoaksi karena menggunakan berbagai simbol, perumpamaan, dan metafora yang diambil dari alam, hewan, maupun anggota tubuh manusia.

Padahal, jelas Abdul Gani, Racik merupakan bagian dari struktur sastra lisan yang berfungsi sebagai media penyampaian kritik sosial, sindiran, sekaligus humor yang bertujuan membangun kesadaran masyarakat pada penghujung pertunjukan.

"Itu bukan pornografi atau pornoaksi, melainkan anekdot dan sindiran yang dikemas dalam humor. Penggunaan perumpamaan binatang maupun bagian tubuh memiliki makna filosofis yang harus dipahami secara utuh," katanya.

Untuk menjaga agar kompetisi seni dalam PKD tetap sesuai dengan nilai budaya lokal, panitia bersama para budayawan telah menetapkan sejumlah ketentuan sejak pelaksanaan technical meeting. Seluruh peserta diminta membawakan materi pertunjukan yang tetap berpedoman pada pakem seni tradisional, norma kesopanan, serta adat istiadat yang berlaku di Sumbawa Barat.

Langkah tersebut dinilai penting agar ajang kompetisi tidak hanya menghasilkan pertunjukan yang menarik secara visual, tetapi juga mampu menjadi media edukasi bagi generasi muda dalam memahami identitas budaya daerahnya.

Lebih jauh, Abdul Gani mendorong Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat bersama Dinas Pendidikan agar memperkuat upaya pelestarian seni tradisional melalui pembentukan sanggar seni di setiap sekolah. Menurutnya, pembelajaran seni budaya tidak cukup hanya melalui teori di ruang kelas, tetapi harus disertai praktik secara langsung di bawah bimbingan para pelaku seni dan budayawan.

"Sekolah harus memiliki sanggar seni sebagai wadah anak-anak berlatih langsung dari ahlinya. Tanpa praktik yang terarah melalui sanggar binaan, potensi dan pemahaman mereka terhadap seni tradisional tidak akan berkembang secara maksimal," ujarnya.

Ia berharap PKD tidak hanya menjadi agenda tahunan yang berorientasi pada perlombaan, tetapi juga menjadi ruang pembinaan yang mampu melahirkan generasi muda yang memahami, mencintai, dan menjaga warisan budaya Sumbawa sebagai identitas daerah yang harus terus dilestarikan. (Gbw) 

Bagikan Berita Ini: