Sumbawa Barat, GaungNUSRA
Dua orang memasuki arena. Tangan mengepal, pukulan berbalasan. Namun Barampok bukanlah perkelahian. Dalam tradisi masyarakat Samawa, permainan ini menjadi ajang menguji keberanian dan ketangkasan dengan tetap menjunjung sportivitas dan persaudaraan.
Tradisi khas masyarakat Suku Samawa tersebut kembali dimainkan dalam Barampok Maras di Alun-Alun Kota Taliwang, Minggu pagi (4/10).
Barampok secara tradisional dimainkan dengan menggenggam tangkai bulir padi atau jerami. Sebelum memasuki arena, peserta terlebih dahulu melakukan ngumang sebagai bagian dari tradisi untuk menantang lawan tanding.
Meski mempertontonkan adu fisik, nilai utama Barampok justru terletak pada sikap setelah pertarungan. Keberanian tidak dimaknai sebagai permusuhan, melainkan kemampuan bertanding secara sportif dan tetap menjaga hubungan antarpeserta.
Pesan tersebut turut disampaikan Bupati Sumbawa Barat H Amar Nurmansyah. Ia mengingatkan peserta agar tetap menjaga emosi selama pertandingan.
“Boleh udara hari ini panas, tapi kepala tetap dingin,” pesannya.
Ia menekankan, siapa pun yang memasuki arena harus tetap menjunjung persaudaraan dan mengakhiri pertandingan dengan hati yang gembira atau maras.
Melalui Barampok Maras, tradisi yang tumbuh dalam kehidupan masyarakat Tanah Samawa kembali diperkenalkan kepada masyarakat. Permainan tersebut tidak sekadar menjadi ajang adu kekuatan, tetapi juga menjadi ruang untuk menjaga keberanian, ketangkasan, sportivitas dan persaudaraan sebagai bagian dari warisan budaya. (Gad/Hms)