Sumbawa Besar, GaungNUSRA
Silatulfikri 99 Tokoh Tana Samawa menghasilkan Maklumat Olat Utuk 2026, sebagai seruan bersama untuk menghidupkan kembali nilai-nilai yang menjadi pegangan masyarakat Samawa dalam menghadapi perubahan zaman. Para tokoh yang berhimpun dalam forum tersebut menempatkan keberanian, daya tahan, etos kerja, keterampilan, adab, dan solidaritas sebagai kekuatan penting dalam membangun masa depan Tana Samawa.
Silatulfikri 99 Tokoh Tana Samawa berlangsung di Pondok Pesantren Modern Dea Malela, Sumbawa, pada 25 hingga 27 September 2026. Setelah berdiskusi dan bertukar pandangan mengenai kebudayaan, perubahan zaman, serta masa depan masyarakat Samawa, para tokoh menyusun Maklumat Olat Utuk 2026 dengan tema “Parenti Kalanis Pitu”.
Maklumat tersebut memuat seruan untuk menghidupkan dan mengimplementasikan atau sampanang Parenti Kalanis Pitu Tau ke Tana Samawa. Tujuh nilai itu meliputi Baraning atau berani, Kawa atau daya tahan, Jujel atau pantang mundur, Pragas atau progresif, Kiak atau gigih, Basabeta atau pantang menyerah, serta Boto atau terampil.
Para peserta Silatulfikri memandang masyarakat Samawa tidak cukup hanya mengejar kemajuan material. Mereka menilai pembangunan masa depan juga membutuhkan manusia yang memiliki keberanian, ketangguhan, etos kerja, kecerdasan, adab, solidaritas, serta pegangan nilai.
Dalam maklumat tersebut, 99 tokoh Tana Samawa menegaskan, bahwa kebudayaan bukan sekadar catatan masa lalu. Mereka menempatkan kebudayaan sebagai cara masyarakat menentukan bagaimana menjalani kehidupan dan menentukan arah masa depan.
Karena itu, mereka menyerukan agar nilai-nilai Parenti Kalanis Pitu tidak berhenti sebagai semboyan. Mereka mendorong nilai tersebut masuk ke dalam kehidupan keluarga, sekolah, pesantren, pemerintahan, lembaga adat, dunia usaha, hingga berbagai komunitas masyarakat.
Maklumat Olat Utuk 2026 juga menempatkan keberanian, daya tahan, dan sikap pantang mundur sebagai karakter yang perlu tumbuh sejak lingkungan keluarga. Nilai tersebut kemudian harus mendapat penguatan melalui sekolah, lingkungan sosial, hingga kehidupan publik.
Para tokoh menilai, Tau Samawa perlu memiliki keberanian menghadapi perubahan, daya tahan ketika menghadapi kesulitan, serta keteguhan untuk tidak mudah menyerah menghadapi tantangan zaman.
Selain karakter, Maklumat Olat Utuk juga menyerukan kebangkitan etos kerja masyarakat Samawa. Nilai Pragas, Kiak, dan Basabeta mereka dorong menjadi watak dalam bekerja, belajar, berusaha, dan mengabdi.
Mereka mendorong masyarakat Samawa membangun kehidupan yang progresif, gigih, tekun, dan produktif. Pada saat yang sama, masyarakat tetap mempertahankan akar kebudayaan ketika berinteraksi dan bersaing dalam pergaulan yang lebih luas.
Maklumat tersebut juga memberikan perhatian khusus terhadap nilai Boto. Para tokoh menempatkan Boto sebagai keterampilan dan ketangkasan dalam mengelola kehidupan yang bertumpu pada pengetahuan dan kepribadian.
Nilai Boto juga mereka kaitkan dengan peran perempuan dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. Perempuan dengan berbagai perannya dinilai memiliki posisi penting dalam membangun ketahanan keluarga sekaligus memperkuat kehidupan sosial.
Selain Parenti Kalanis Pitu, Silatulfikri 99 Tokoh Tana Samawa menyerukan pemulihan adab edap rabasa dalam kehidupan masyarakat Samawa. Mereka menilai bahasa memiliki posisi penting sebagai rumah kebudayaan.
Maklumat itu mendorong masyarakat memperhatikan cara berbicara, pemilihan kata, penghormatan kepada orang yang lebih tua, kasih sayang kepada generasi muda, sikap ketika berbeda pendapat, hingga cara memperlakukan sesama.
Para tokoh mengaitkan adab tersebut dengan prinsip Sai: to, Dua: ila’, Telu: saling satingi sebagai bagian dari nilai yang perlu tercermin dalam kehidupan Tau Samawa.
Mereka juga merekomendasikan kepada pemerintah daerah agar menetapkan satu hari kerja dalam setiap pekan sebagai hari berbahasa Samawa di kantor pemerintahan dan sekolah di Kabupaten Sumbawa dan Kabupaten Sumbawa Barat.
Penggunaan bahasa Samawa itu, menurut maklumat tersebut, dapat menyesuaikan dialek masing-masing wilayah. Pemerintah daerah di masing-masing wilayah juga didorong menetapkan standar penggunaan Bahasa Sumbawa sesuai karakter wilayahnya.
Maklumat Olat Utuk 2026 turut menyoroti ancaman individualisme yang dinilai dapat memutus ikatan sosial masyarakat. Para tokoh menyerukan agar nilai Ila’ tidak berhenti sebagai konsep pribadi, tetapi bergerak menuju kehidupan yang menguatkan semangat Saling Pendi, Saling Satotang, dan Saling Satingi.
Mereka menekankan bahwa harga diri perlu berjalan bersama penghargaan kepada orang lain. Keberhasilan seseorang juga harus memperkuat kebersamaan dan tidak menjauhkan seseorang dari kehidupan masyarakat.
Para tokoh kemudian menyerukan pelembagaan nilai-nilai Samawa. Mereka meminta agar Baraning, Kawa, Jujel, Pragas, Kiak, Basabeta, dan Boto hadir dalam kehidupan sehari-hari melalui kebiasaan, pendidikan, keteladanan, dan tindakan nyata.
Mereka menilai keluarga memiliki peran penting dalam proses tersebut. Sekolah, pesantren, pemerintahan, lembaga adat, dunia usaha, dan komunitas masyarakat juga dapat menjadi ruang untuk menanamkan sekaligus mempraktikkan nilai-nilai tersebut.
Maklumat Olat Utuk 2026 kemudian kembali menempatkan akar spiritual dan adat sebagai bagian penting dari identitas Tau Samawa. Para tokoh mengangkat prinsip “Adat Barenti Ko Sara’, Sara’ Barenti Ko Kitabullah, Takit Ko Nene Kangila Boat Lenge” sebagai pijakan etik kehidupan masyarakat.
Para tokoh menegaskan, bahwa kemajuan tidak boleh memutus hubungan Tau Samawa dengan akar spiritual, adat, dan martabat kemanusiaannya.
Dalam maklumat itu, para tokoh juga menempatkan masa lalu dan masa depan dalam hubungan yang dinamis. Mereka mendorong masyarakat mengambil nilai terbaik dari masa lalu untuk menjawab kebutuhan masa depan.
Dari Pondok Pesantren Modern Dea Malela, 99 Tokoh Tana Samawa kemudian menyerukan keterlibatan berbagai unsur masyarakat dalam menjalankan pesan Maklumat Olat Utuk 2026. Orang tua, guru, ulama, tokoh adat, pemerintah, dunia usaha, pemuda, perempuan, dan seluruh Tau ke Tana Samawa mereka ajak mengambil bagian dalam proses tersebut.
Maklumat itu ditutup dengan seruan agar generasi sekarang mewariskan lebih dari sekadar tanah kepada generasi berikutnya, tetapi juga nilai, adab, karakter, dan cara menjadi Tau Samawa. (Gar)